Mengenal Santri Lebih Dekat

  • Whatsapp
santri

Selama ini kita hanya mendengar dan menerima informasi bahwa santri menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Santri selalu menjunjung teguh nilai-nilai yang lahir dari pesantren dengan tanpa meninggalkan semangat dari generasi leluhur. Seperti, kedisiplinan, akhlaq al-karimah, religiusitas tinggi, kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan emosional (EQ), kebersamaan, kekeluargaan, cara pandang/bermazhab, tegaknya peraturan, keikhlasan, nilai penghormatan, toleransi, sopan santun, dan cinta tanah air. 

Santri merupakan prototipe terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia. Betapa tidak kita sekarang bisa melihat hasil dari didikan pesantren yang memiliki segudang bakat dan talenta ini. Selain itu, dalam bentangan sejarah pesantren telah “mendokumentasikan” berbagai peristiwa penting bangsa Indonesia, baik sejarah sosial, budaya, ekonomi maupun politik bangsa Indonesia. Salah satu santri terbaik pernah menjadi presiden RI keempat yaitu Gus Dur (Zamakhsyari Dhofier: 2011)

Read More

Setelah penetapan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015 santri telah mendapat pengakuan secara resmi dari pemerintah. Dalam hal ini santri menjadi lebih familiar untuk melakukan pergerakan khususnya dalam bidang pendidikan. Pesantren merupakan lembaga pendidikan non formal yang telah hadir semenjak abad 19 (bahkan lebih tua) mampu bertahan hingga sekarang. Lembaga pendidikan khas nusantara ini menjadi benteng pertahanan nasionalisme, Islam Nusantara, toleransi, kemandirian, cinta damai dan peduli terhadap masyarakat di sekitarnya. 

Ada yang menarik dengan ornamen-ornamen yang ada di pesantren salaf yang kita bisa temui di berbagai pelosok tanah Jawa. Yaitu kata santri yang ditulis dengan huruf pegon kemudian dijadikan akronim. Huruf sin memiliki kepanjangan seorang yang melakukan perjalanan menuju akhirat (salikun ila al-akhirat), huruf nun berarti pengganti dari kiai-ulama (naibun an al-masyayikh), huruf ta’; meninggalkan kedurhakaan (tarikun an al-ma’ashi), huruf ra memiliki makna mencintai akhirat (raghibun an al-akhirah) dan huruf ya’ yang memiliki arti mengharapkan keselamatan di dunia dan akhirat (yarju al-salamah fi al-dunya wal akhirah). 

BACA  Kenapa Kampus Umum Lebih Rentan Tercemar Radikalisme?

Dengan akronim ini santri selalu memegang teguh apa yang telah didapatkan selama di pesantren (baca: ilmu dan akhlak al-karimah). Ditambah dia akan terus mencari kebaikan, tak hanya berhenti di pesantren saja dia akan melanjutkan tingkah laku tersebut hingga akhir hanyatnya. 

Di sisi yang lain, kemampuan santri yang fleksibel dalam menghadapi zaman dengan memegang teguh adagium menjaga perkara baik dan mengambil perkara yang lebih baik (al-muhafadzatu ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bi al-jadid al-ashlah). Termasuk sekarang adalah pengembangan sekolah formal yang dimiliki oleh yayasan/pesantren, tentu dengan basis pesantren masing-masing. Terdapat SMK pesantren, SMP pesantren. Administrasi pesantren juga sudah mulai menggunakan teknologi komputer untuk memudahkan kinerja organisasi. 

Santri tak hanya berkiprah di dunia pesantren belaka, ada beberapa santri yang mencoba untuk masuk ke perguruan tinggi. Dengan bermodal ijazah pesantren mereka bisa masuk universitas. Namun, baru universitas terbuka yang baru membuka kesempatan ini (Suara Merdeka, 22/10/2015). Disisi yang lain memang terdapat ketentuan yang menjadi pegangan pesantren untuk masuk perguruan tinggi dengan terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) No 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam dan PMA No 18 Tahun 2014 tentang Satuan Pendidikan Muadalah pada Pesantren. 

PMA ini mengatur dan mengakui secara resmi kurikulum yang diajarkan pesantren sesuai dengan kekhasan masing-masing sebagai bentuk khazanah yang dimiliki pesantren. Memang pesantren yang memiliki lembaga formal bisa menggunakan ijazahnya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Hal ini sudah dilakukan sejak tahun 2005 dengan Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB). Mulai dari Universitas Gajahmada, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya, Universitas Airlangga Surabaya, Institut Pertanian Bogor, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Universitas Surya Jakarta, Universitas Islam Malang dan beberapa Universitas Islam Negeri yang ada di Indonesia.  

BACA  BPJS Naik, Santri Punya Cara Berobat Lebih Murah

Pesantren selalu menjaga toleransi (tasamuh) dengan berpijak pada nilai-nilai permusyawaratan dan keadilan dalam orientasi kemaslahatan umum, moderat (tawasuth), lurus (i’tidal), harmonis-seimbang (tawazun) dan berkembang secara gradual (tathawwur-tajarrudi). Tidak ada cara instan dalam menempuh pendidikan sehingga santri yang matang di pesantren tidak mudah mengadili kelompok lain sebagai kafir, musyrik bahkan sesat. Mengambil definisi santri dari KH. MA. Sahal Mahfudh dalam Pesantren Mencari Makna (1999) menyatakan bahwasanya santri tak lepas dari tiga unsur yang menyusun. Yaitu santri, kiai dan pesantren. Hal ini tak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Dari sini kita bisa melihat santri secara komprehensif tak sepotong-sepotong.  

Melihat sejarah dari awal kemerdekaan departemen agama (kementrian agama baca sekarang) dalam penjajahan Jepang bernama Shumuka. Hal ini sebenarnya dimulai menteri agama pertama Abdul Wahid Hasyim tidak menjadikan pesantren sebagai lembaga formal. Beliau membiarkan pesantren berkembang dengan kemandirian dan daya tahan masing-masing. Namun, beliau memiliki cita-cita konvergensi antara pendidikan umum dan pendidikan agama. 

Selain itu, kurikulum yang diajarkan di tiap pesantren berbeda dengan pesantren di tempat lain. Setidaknya kitab kuning menjadi persamaan dan untuk melihat pesantren kita bisa melihat ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah) menjadi dasar pengajaran. Pesantren memiliki spesifikasi tersendiri untuk mencetak santrinya sehingga menjadi pribadi yang berilmu, mandiri dan berakhlak mulia. 

Santri masa kini harus mampu meneladani pendahulu seperti Syaikh Nawawi al-Bantani (1813-1897), Syaikh Mahfuz at-Tirmisi (w. 1919), Syaikh Khalil Bangkalan (1819-1925), Syaikh Raden Asnawi Kudus (1861-1959) dan Hadratusy syaikh Hasyim Asy’ari (1871-1947) sebagaimana ditulis Abdurrahman Mas’ud (2004). Para tokoh ini tidak hanya dikenal di nusantara pada waktu itu namun, mereka menjadi tokoh yang dikenal di dunia internasional. 

BACA  Agama Sebagai Isu dan Agama Sebagai Inspirasi

Beberapa hal menurut penulis perlu dicatat adalah bagaimana menguatkan peran dan fungsi dari santri itu sendiri dalam menghadapi tantangan zaman yang kian berat dan kompetitif. Terdapat tiga hal yang perlu dikerjakan santri pertama, menjadi santri tulen yang mengerjakan agama sesuai dengan yang telah digariskan. Kedua, menguatkan kapasitas dan kemampuan dalam bidang pengetahuan dan keilmuan. Ketiga, menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin

Dari pengertian inilah kita mengetahui bahwa santri merupakan bagian dari pemuda yang memiliki semangat juang tinggi dan progresif dalam mencari ilmu. Para pencari ilmu inilah yang menjadi ujung tombak generasi Indonesia mendatang dengan kemantapan hati dan keilmuan bisa menjadikan Indonesia negeri yang aman sentosa dan sejahtera dan Tuhan melindungi dari marabahaya (baldatun thayyibun wa rabbun ghafur). Wallahu a’lam bish shawab.

Tanggapan Anda

Related posts