Empat Rekomendasi Brand Sarung untuk Santri

  • Whatsapp

Sarung merupakan starter pack santri yang menjadi pakaian sehari-hari selama beraktivitas di pesantren. Tidak hanya sebagai pakaian khas, tetapi juga sarat makna dan  nilai historis yang sangat kuat dan melekat pada kiai dan santri di pesantren.

Nah, menilik pemakaian sarung di pesantren, nampaknya ada beberapa brand sarung yang sangat familiar di kalangan santri dan selama ini para santri tidak mengutamakan brand tetapi harga yang tidak membuat inflasi kantong sendiri.

Read More

Untuk itu, saya sebagai orang yang mendaku diri sendiri menjadi “pengamat persarungan Nusantara”, mencoba memembeberkan brand sarung yang sering dikenakan para santri. Tentu saja analisa berikut ini melewati puasa 40 hari dan menyepi di tempat-tempat ramai.

Berikut daftar brand sarung bagi santri yang sering dikenakan mayoritas santri di Indonesia:

Wadimor

Salah satu brand satu ini selalu hadir menyapa masyarakat Indonesia setiap kali mendekati bulan puasa. Akibat iklan yang bar-bar dan agak radikal di media itu, banyak para santri yang kemudian tertarik hatinya untuk mengoleksi sarung satu ini.

Ibarat sebuah mobil, sarung ini layaknya Avanza yang harganya terjangkau bagi kaum-kaum yang kadang menyandarkan isi perutnya dari sebungkus Indomie yang diguyur pakai air dingin kemudian dikareti. Ya harga yang sesuai dengan bekal jajan bulanan dan tanpa harus puasa dalail berbulan-bulan untuk membelinya.

Namun, para santri melihat sarung brand ini hanya sebatas dari harganya yang murah saja, padahal kalau di-sawang-sawang, sarung Wadimor ini sangat nyaman dan  cocok dikenakan  untuk tidur sambil garuk-garuk. Dilihat dari nama saja, penulis mengira Wadimor adalah akronim dari “Wenak dienggo molor.” Jangan-jangan, ini maksud dari pemilik perusahaan brand sarung tersebut menamakannya Wadimor supaya nyaman dikenakan saat tidur, tentunya selain bisa digunakan saat  salat dan ibadah lain.

BACA  Melestarikan Perspektif Kebudayaan Ala Gus Dur

Atlas

Selain Wadimor, sarung Atlas adalah sarung paling akrab kedua setelah Wadimor. Nah, sarung ini banyak dikenakan karena bahannya yang lumayan halus dan sangat nyaman untuk dipakai di segala kondisi dan cuaca.

Dengan bahannya yang halus tersebut, sarung Atlas memiliki kegunaanya yang sangat multifungsi. Salah satunya bisa menjadi alas untuk menyetrika baju, bahkan menjadi alas untuk tidur. Tidak jarang, para santri tidur pulas setelah menggunakan sarung Atlas sebagai alasnya. Serasa berada pada dekapan kedua orangtua.

Lagi-lagi, para santri tidak mengerti kenapa pemilik perusahaan sarung tersebut memberinya nama Atlas. Penulis dengan segala daya upaya mencari tahu penyebab penamaan tersebut sampai menyimpulkan bahwa Atlas adalah akronim dari “Alas Tidur Langsung Pulas”.

Jadi sangat tepat bilamana penamaan sarung Atlas tersebut sesuai dengan kegunaannya.

BHS

Sarung BHS ini sangat jarang dikenakan para santri karena harganya sangat mahal dan tidak ramah untuk kantong santri. Hanya segelintir santri saja yang mempunyai sarung tersebut, itupun biasanya didapatkan secara gratis pemberian dari kiai atau penghargaan mengimami salat tarawih di masjid-masjid.

Nah, harga sarung BHS ini sangat mahal sesuai dengan akronimnya, BHS (Bukan Harga Santri Bos). Dari akronimnya bisa disimpulkan bahwa sarung BHS bukan sarung sembarangan, pun dari kegunaannya, ia bisa digunakan untuk melakukan apapun bahkan sampai ibadah sunnah malam jumat. Tahlilan, manaqiban, berjanjenan dan olahraga yang katanya wenak itu.

Lar Gurda

Nah sarung ini paling istimewa. Lar Gurda. Sarung yang terbuat dari bulu-bulunya garuda. Betapa tidak bisa diragukan bukan nasionalisme yang terpancar dari sarung ini?

Sarung yang memiliki motif batik yang enak dilihat mata, tapi terasa mistis di hati tersebut sebenarnya sangat populer di kalangan para kiai. Lha gimana ga populer, wong empunya senengnya cuma bagi-bagi ke para kiai. Kepada santri? ngko ndishik.

BACA  Membangun Generasi Milenial Melalui Aksara

Sarung Lar Gurda sudah dijual di pasaran, tapi seperti dakwah zaman Nabi, masih agak sembunyi-sembunyi. Karena tidak mudah didapatkan di pasaran, sarung ini terasa eksklusif dan mahal. Memuat pemakainya auto bersahaja dan terlihat seperti santri yang tidak biasa. Agak-agak budayawan begitu.

Penulis menyimpulkan bahwa Lar Gurda adalah akronim dari “larang nemen nDan..” sehingga owner sarung tersebut menargetkan pasar kalangan menengah ke atas.

Jujur dari wawancara beberapa pemakai sarung ini, penulis menyimpulkan, sarung ini benar bukan kaleng-kaleng. 100% tidak mengandung besi-besian dan zat keras lainnya. Sarung ini membuat adem “masa depan” pemakainnya. Lebih menarik lagi, dibuat dengan sepuhan doa owner dan para kiai yang gemar memakainya. (sudah dipuji-puji begini, kalau ga dapet japrem (jatah preman), ya kebangeten memang)

Jadi, dari 4 brand sarung yang direkomendasikan tersebut, sarung mana yang sesuai dengan kantong para santri dan sesuai dengan kebutuhannya?

Tanggapan Anda

Related posts