Jangan Cuma Ikutan Hijrah-Hijrah Club Tapi Lupa Meneladani Rasulullah

  • Whatsapp
hijrah
gambar: islam pos

Hijrah dalam sudut pandang masyarakat masa kini merupakan sebuah tren untuk mengubah pribadi menjadi lebih baik, mendekatkan diri pada agama dan menjaga jarak dari hal yang tidak maslahat. Hijrah menjadi dasar pijakan masyarakat untuk mengekspresikan bentuk kepekaan spritual di tengah perubahan masyarakat global; masyarakat yang saling terhubung, tak memiliki batas dan sekat geografis, budaya dan tardisi.

Tren hijrah tidak semata muncul begitu saja dalam permukaan fenomena sosial belakangan ini. Ariel Heryanto dalam bukunya, Identitas dan Kenikmatan, menyebut Indonesia sedang mengalami babak baru Islamisasi pada abad 21. Dimana Islamisasi itu cenderung menjadikan Islam sebagai komoditas dan semata-mata sebagai bentuk komodifikasi simbol-simbol agama dan komersialisasi kehidupan kaum muslim.

Read More

Proses Islamisasi babak baru ini bisa terlihat dari bagaimana media mulai menyajikan hal-hal yang berbau Islam kepada masyarakat. Hijrah dalam tren masa kini bisa jadi satu bagian proses untuk memasukan masyarakat dalam lingkaran komersialisasi kehidupan muslim di Indonesia. Di antara yang ramai di media sosial adalah fenomena hijrah di kalangan artis. Di sisi lain, gairah hijrah melanda kaum muda, pelajar, mahasiswa, kalangan profesional dan bahkan di lingkungan terdekat kita.

Mereka yang memilih berhijrah biasanya ditandai dengan penampilan yang kian tertutup, munculnya atensi pada kegiatan keagamaan dan berusaha menerapkannya pada kehidupan sehari-hari.

Fenomena hijrah juga ditampakkan dalam atribut kesalehan lahiriah, semisal dari tidak berjilbab sama sekali menjadi berjilbab lebar-lebar, tidak berjenggot hingga memanjangkannya lebat-lebat, dan semisalnya. Namun alih-alih demikian, tidak sedikit dari sekelompok masyarakat memaknai hijrah menjadi bentuk klaim kebenaran dan penghakiman kepada kelompok lain yang tidak dalam satu lingkaran kelompok mereka. Hijrah bisa berarti kepindahan. Tapi menyebut peristiwa hijrah adalah kepindahan dari keburukan menuju kebaikan, tanpa ada kesadaran kritis tentang makna kebaikan itu sendiri, barangkali sebuah hal yang keliru.

BACA  Hadits Palsu Tentang Siksaan Buat Perempuan yang Kelihatan Rambutnya

Lantas di tengah budaya populer islam masa kini, bagaimana kah kita memaknai tren Hijrah ini?. Bila kita belum menemukan teladan itu dari tokoh masa kini yang cenderung saling menghakimi satu sama lain, mengapa kita tidak kembali pada sosok yang memunculkan istilah hijrah itu sendiri dengan pendekatan yang lebih saling menghargai dan menghormati satu sama lain?

Melihat Hijrah secara Historis

Hijrah secara bahasa bermakna “at-tarku”, meninggalkan sesuatu. Sementara dalam syariat Islam, hijrah dimaknai sebagai memisahkan diri atau berpindah dari negeri kufur ke negeri Islam karena mengkhawatirkan keselamatan agama. Namun demikian sebenarnya dalam konteks yang disebut terakhir, hijrah tidak melulu berpindah dari negeri kufur ke negeri Islam. Sebab pada masa awal Islam kita di Indonesia justru mengenal praktik yang berbeda.

Para sahabat seperti Utsman bin Affan, Zubair bin ‘Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhum berhijrah dari Makkah ke negeri Habasyah atau Abesinia, sekarang Ethiopia dan Eritrea Afrika, tepatnya ke wilayah kerajaan Aksum di bawah kepemimpinan Raja Negus yang beragama Kristen. Di negeri Kristen ini mereka justru sangat terlindungi dari berbagai intimidasi dan persekusi. Lain halnya dengan kondisi di Makkah yang penuh bayang-bayang penyiksaan dan penindasan.

Secara substansial makna hijrah tampaknya tidak terpaku pada migrasi ke negeri Islam saja, namun lebih mendasar yaitu hijrah dari suatu tempat ke tempat lain karena menjaga keselamatan agama.

Dalam konteks yang lebih luas, merujuk penjelasan Al-Hafizh Abdurrauf Al-Munawi (952-1031 H/1545-1622 M), pakar hadits asal Mesir, hijrah pada hakikatnya adalah tarkul manhiyyat, meninggalkan berbagai larangan agama. Karenanya, hijrah sejatinya tidak terbatas pada perpindahan yang bersifat lahiriah, namun juga mencakup perpindahan atau perubahan yang bersifat batiniah.

Demikian pula, dengan berhijrah orang tidak berarti dapat merasa lebih baik daripada orang lain, menyalah-nyalahkan orang lain dan meremehkannya. Seiring tuntunan Nabi Muhammad SAW:

BACA  Kemudahan untuk Salat Saat Mendaki Gunung

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ. متفق عليه
Artinya, “Hakikat hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah,” Muttafaq ‘Alaih.

Hijrah Menurut KH Cholil Nafis

KH Cholil Nafis menyebutkan, hijrah terbagi menjadi dua. Pertama, hijrah makaniyah (tempat atau jasad). Contohnya sebagaimana hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad saw ketika pindah dari Mekkah ke Madinah. Hijrah jenis pertama ini sudah tidak disyariatkan lagi setelah setelah Nabi Muhammad berhasil menaklukkan Mekkah (Fathu Makkah). Dalam termonologi Islam, hijrah itu semangat memperjuangkan agama sehingga harus pindah dari suatu negeri ke yang lain.

Kedua, hijrah haliyah (perilaku). Berbeda dengan hijrah tempat, Kiai Cholil mengatakan hijrah perilaku masih terus berlaku hingga hari kiamat datang. Hijrah perlikau adalah hijrah dari kufur kepada iman, dari maksiat menuju taat. Hijrah adalah proses terus-menerus untuk memperbaiki diri, memperbaiki cara berpikir, cara berucap serta bersikap. Berhijrah berarti menjadi orang beriman yang mendorong berbuat kebaikan dengan cara yang baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Bukan semata kepada manusia, namun juga terhadap lingkungan, termasuk alam, tumbuhan dan hewan.

Saat ini, kata hijrah diidentikkan dengan perubahan pakaian. Misalnya bagi seorang perempuan, mereka dianggap berhijrah manakala mereka mengenakan hijab atau cadar dari yang sebelumnya tidak memakainya. Hijrah bukan hanya persoalan penampilan luar saja. Ketika seseorang memutuskan untuk berhijrah maka yang perlu diperhatikan pertama kali adalah niat, bukan tampilan luar.

Hijrah dalam Kajian Tasawuf

Hijrah sering diambil dari hadits terkenal. Esensi hadits hijrah ini ditangkap oleh ulama fiqih sebagai pesan penting Rasulullah SAW perihal niat seseorang dalam berbuat baik. Hal ini tidak jauh dari pemahaman kalangan sufi yang menempatkan hijrah sebagai kebulatan tekad untuk Allah dan rasul-Nya sebagaimana keterangan Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berikut ini:
وانظر إلى قوله صلى الله عليه وسلم فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه فافهم قوله عليه الصلاة والسلام وتأمل هذا الأمر إن كنت ذا فهم

BACA  Kenapa Kampus Umum Lebih Rentan Tercemar Radikalisme?

Artinya, “Perhatiknlah sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa saja yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Tetapi siapa yang berhijrah kepada dunia yang akan ditemuinya, atau kepada perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya.’ Pahamilah sabda Rasulullah SAW ini. Renungkan perihal ini bila kau termasuk orang yang memiliki daya paham.”

Hijrah bagi para sufi adalah upaya keras untuk memberikan hati semata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Ini yang disampaikan oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam dengan mengutip Surat An-Najm ayat 42:
لا ترحل من كون إلى كون فتكون كحمار الرحى يسير والمكان الذي ارتحل إليه هو الذي ارتحل منه ولكن ارحل من الأكوان إلى المكون وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى

Artinya, “Janganlah kau berpindah dari alam ke alam karena kau akan seperti keledai pengilingan, di mana tujuan yang sedang ditempuhnya adalah titik mula ia berjalan. Tetapi berpindahlah dari alam kepada Penciptanya. Allah berfirman, ‘Hanya kepada Tuhanmu titik akhir tujuan,’ (Surat An-Najm ayat 42).”

Dengan demikian, hijran tidak dimaknai perpindahan dalam arti fisik, geografis, atau perilaku yang kasatmata. Hijrah bagi para sufi dan juga ulama fiqih sebagai kekuatan batin dalam menyisihkan segala sesuatu selain Allah dari dalam hatinya.

Tanggapan Anda

Related posts