Gus Baha’: Saya Termasuk Ulama’ yang Ingin Membuat Gerakan ‘Cangkem’ Elek

gus baha

“Saya termasuk ulama’ yang ingin membuat gerakan ‘cangkem elek’, karena nanti kalau saya nisbatkan ke Rasulullah itu tidak pantas. Nabi itu ahsanan-nâsi kholqôn wa khuluqôn,” 

KH. Bahaudin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha’ memang salah seorang kiai yang nyentrik dan punya ciri khas dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama. Kejernihannya dan kedalamannya dalam memahami agama menjadikan Gus Baha’ menyederhanakan persoalan agama yang rumit dengan logika-logika sederhana yang mudah dipahami masyarakat. 

Kiai yang punya kalimat khas “Ini penting saya utarakan” tersebut sering kali menggoncang cara berpikir mainstrem masyarakat dalam memahami agama. Hal itu mudah sekali dipahami dari ribuan pengajiannya di youtube yang dapat disimak kapanpun dan dimanapun, tentu saja dalam segala suasana. Begitulah Gus Baha’, beliau menjadi semacam oase di tengah ajaran agama yang disampaikan dengan teriakan, makian dan sesuatu yang gersang.

Gus Baha selalu bisa menyesuaikan diri dengan forum dan orang-orang yang sedang dihadapi. Seperti saat pengajian bertajuk “Ngaji Mahasantri Millenial” di Kantor PWNU Jatim, Oktober lalu. Beliau berkelakar ingin membuat gerakan cangkem elek. Tentu saja gerakan tersebut bukan untuk mewadahi para pendakwah yang suka menggunakan makian dan pisuh-pisuhan, tetapi sebuah kerangka baru untuk menjawab segala pertanyaan muslimin, muslimat, monaslimin, monaslimat, yang kadang terlalu bersemangat bertanya soal dalil sebuah ritus maupun amaliah.

Bagi Gus Baha’, tidak semua hal harus dijawab dengan dalil, karena banyak hal baik yang harus dilandasi dalil. Dalam sebuah diskusi di Jakarta, cerita Gus Baha’, apa dalilnya salaman setelah salat? Mana dalilnya? 

Dengan tegas Gus Baha’ menerangkan, pertanyaan tersebut dijawab dengan hadis dan dalil tentu saja sulit. Jika ada pun, hadisnya dhoif, alias lemah. Akhirnya mau tak mau, pertanyaan tersebut harus dijawab dengan “cangkem elek”:

BACA  Habib Luthfi: Jangan Lupakan Jasa Kiai Kampung

“Boleh tidak setelah salam Kamu menyalakan handphone?”

“Boleh!”

“ Boleh ndak ke kamar mandi?”

“Boleh!” 

“Oh berarti kencing, boleh. Nyalain hp, boleh. Yang tidak boleh mengingat Allah.”

Tidak ada hadis dan dalil terkait menyalakan hp setelah salat. Mereka, yang menanyakan dalil salaman dan wirid tadi, tidak ada beban moral menyalakan hp setelah salam. Tetapi menjadi masalah jika wiridan dan salaman setelah salat.

Pada kesempatan yang lain, lanjut Gus Baha’, seorang kiai ditanya, “Kalau setan dibakar di neraka, kepanasan tidak?

“Kepanasan,” jawab kiai.

“Lho, kan setan terbuat dari api, dibuat dari materi yang sama, kok bisa kepanasan?”

Pertanyaan itu membuat Sang Kiai agak kesulitan menjawab. Ia kemudian mengambil pasir dan dilemparkan ke wajah penanya.

“Waduh, sakit Kiai!” jawab penanya.

Lalu Kiai menimpali, “Kamu kan dibuat dari tanah, kenapa kesakitan?”

Gus Baha’ berpesan, jika seseorang tidak bisa membela agama dengan jalan yang lurus, boleh membelanya dengan “cangkem elek” seperti di atas tadi. Asalkan tidak dinisbatkan kepada para nabi. 

“Jadi kadang-kadang harus dijawab yang agak ‘jancuk’,” kelakar Gus Baha’.

Tanggapan Anda

One thought on “Gus Baha’: Saya Termasuk Ulama’ yang Ingin Membuat Gerakan ‘Cangkem’ Elek

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Close
Social profiles