Gus Muwafiq: Ulama yang Mampu Diterima Semua Kalangan

  • Whatsapp

Sebelumnya, pada tahun 2014, nama Gus Muwafiq sudah hangat diperbincangkan senior IPNU di kabupaten Tegal. Ketika itu, dia menceritakan bagaimana Gus Muwafiq menyampaikan materi di forum yang pernah dia ikuti. Kurang lebih yang saya ingat, hasil dari ngobrol bareng senior begini ‘’Gus Muwafiq berasal dari Yogjakarta, beliau Kiai nyentrik, dakwah dan penampilanya sederhana, beliau ini ahli sejarah di luar kepala loh, dan materi yang beliau sampaikan di forum menarik. Kami belajar dari habis Isya sampai dengan dini hari. Suatu saat akan saya panggil beliau untuk ngisi acara kaderisasi di kabupaten” ujarnya saat itu.

Pasca mendengar cerita tentang Gus Muwafiq, saya semakin penasaran dengan sosok kiai tersebut. Mulailah saya mencari informasi tentang beliau di media. Ketemulah blog senior IPNU yang aktif di kaderisasi Jawa Tengah, rekan Naufa. Usai membaca tulisan mas Naufa, rasa penasaran saya semakin bertambah saja. Dalam benak saya, semoga saja dalam waktu dekat bisa bertemu Gus Muwafiq. Ternyata Gusti Allah menjawab doa saya selama ini dengan mempertemukan saya dengan Gus Muwafiq di acara Latian Instruktur IPNU IPPNU Jawa Tengah di Wonosobo. Meskipun tidak ada percakapan langsung dengan beliau, akan tetapi saya cukup senang bisa melihat sosoknya dari dekat. Beliau didaulat menjadi pemateri di hari pertama, dan saya tidak mau membuang kesempatan itu untuk merekam serta menulis ulang isi materi yang beliau sampaikan.

Read More

Sungguh di luar perkiraan saya, biasanya bincang sejarah itu membosankan, karena sejak dulu saya tidak begitu tertarik dengan pelajaran sejarah. Tapi Gus Muwafiq ini luar biasa mampu menarik perhatian saya dan kawan-kawan. Bahasa yang disampaikan beliau juga bahasa yang mudah dipahami audiens. Ketika saya melirik peserta lain, ternyata mereka terlihat antusias. Mendengar pesan yang disampaikan dengan gaya kiai NU pada umumnya, yakni ‘’selera Humor Tinggi.’’

Dari situ, saya menganalisis, bahwa dakwah Gus Muwafiq ini mampu diterima semua kalangan. Beliau salah satu ulama yang mampu merespon perkembangan zaman, update kalau bahasa anak muda sekarang, namun tanpa mengurangi esensi dari setiap isi ceramahnya yang Concern pada sejarah. Penampilanya yang sederhana dengan gamis putih dan peci hitam cukup memukau dengan metode ceramah yang teduh, inspiratif dan kaya akan makna, namun tetap santai. Saya sendiri aktif mengikuti pengajian Gus Muwafiq di beberapa kota melalui kanal youtobe ‘’Gus Muwafiq Channel’’ yang membahas pelbagai tema dan persoalan mutakhir. Saya sendiri sering mengutip sejarah yang disampaikan Gus Muwafiq saat menjadi pemateri di beberapa forum diskusi pelajar dan mahasiswa. Jika didata, rupanya mereka juga aktif mengikuti dakwah Gus Muwafiq, baik di media sosial maupun live lokasi pengajian.

Jika hari ini Gus Muwafiq viral karena isi video ceramah yang dipotong bagaikan roti dipotong sedikit bagi orang yang lapar yo kurang sekali. Jadi sarannya yo kalau ingin kenyang makan roti dengan utuh satu bungkus. Maka para warganet yang budiman, mari selesaikan dengan menonton video tersebut secara keseluruhan. Dan satu lagi, jangan mudah menjustifikasi tanpa klarifikasi terlebih dahulu. Menurut saya, saat menyimak video tersebut, tidak ada ungkapan yang katanya suul adab kepada Nabi Muhammad SAW. Kalaupun ada, saya kira Nabi Muhammad SAW akan tersenyum dan memaafkan, toh setidaknya kita kembali diingatkan kisah Nabi Muhammad SAW. Saya sepakat dengan Kiai Ishomudin mereka yang suka menghujat dan gampang menyalahkan itu karena eksplorasi bacaanya kurang bagus.

Terakhir, sebagai generasi milenial, walaupun jika melihat data tahun kelahiran, saya masuk golongan generas-Z. Dakwah transformatif Gus Muwafiq ini harus terus dipertahankan. Bukankah keberhasilan seorang pendakwah yakni saat pesanya sampai dan mengena kepada perubahan audien? Iya,bagi penulis begitu gaes. Sebab menurut riset yang penulis baca dari buku keluaran Wahid Foundation judul bukunya ‘’Islam Untuk Gen-Z’’, generasi-Z yang diidentifikasi memiliki karakter menghargai keragaman, menghendaki perubahan sosial, suka berbagi dan beriorentasi pada target. Setidaknya Gus Muawiq mampu menyelaraskan dakwah sesuai riset tersebut.

Beliau menyebarkan Islam yang moderat di tengah kehausan akan agama dan sejarah yang sebetulnya sudah pernah terjadi namun kembali terulang. Iya masa lalu yang sebenarnya cukup diambil ibrah untuk role model tapi rupanya masih banyak yang belum bisa move on, bisa jadi penyebabnya minimnya literasi di negeri kita tercinta, dakwah Gus Muwafiq justru ciamik, mampu dikemas dengan apik serta menyadarkan saya dan mungkin anda juga generasi yang malas baca sehingga mengakibatkan cuti nalar, yang suka isu gorengan dan berakhir menyalahkan orang lain. Mengutip dari gus Ammar Abdillah dalam bait syair Jalaludin Rumi, ”kurangi cari air, carilah dahaga agar airmu membuncah dari kaki sampai kepala. Iya, intinya nyari ilmu jangan mentok sampai disitu, sebab ilmu itu luas.

Tanggapan Anda

Related posts