Rocky Gerung dan Gus Dur : Antara Kritis dan Kepercayaan Diri yang Tinggi

  • Whatsapp

Siapa yang tak mengenal kapasitas Rocky Gerung sebagai intelektual publik, juru bicara yang handal, argumentator ulung yang lihai memantik emosi lawan bicaranya.

Terlepas dari penokohannya yang kerap menimbulkan banyak kontroversi, Rocky adalah magnet yang sanggup menyedot sensasi dengan nalar kritis serta kapasitas intelektualnya.

Read More

Menanggapi Rocky secara “petentengan” akan membawa Anda kepada fanatis, radikal, emosional, dan menandakan bahwa kecerdasan intelektual Anda di bawah rata-rata.

Akan tetapi, membenarkan mutlak secara utuh terhadap apa yang disampaikan oleh Rocky, juga menandakan bahwa Anda adalah orang yang terlampau mudah untuk dibodohi.

Kritik terhadap Rocky adalah proses berfikir yang matang akan hal materi, dialektika dan logika. Orang seperti Rocky pasti serba cukup dalam hal materi baik dalam fikir maupun jiwa. Rocky bukan tipe orang yang hanya mengandalkan sensasi lewat sepak terjang sikap dan asal bunyi, apalagi mengandalkan “dekengan” orang dibelakangnya. Rocky sudah matang dan berdikari.

Hal tersebut kemudian dia kombinasikan dengan dialektika dan logikanya, yang membuahkan hasil pertentangan. Pertentangan itulah yang seolah membawa Rocky berprinsip bahwa perbedaan adalah kebenaran yang terletak sangat dalam proses dialektika.

Dia selalu memosisikan dirinya menjadi “salah” agar dapat menggiring orang lain menuju kebenaran dalam konsep pikirannya. Dia selalu menolak benar meskipun nalarnya berontak, kemudian kembali dia paksa agar argumennya melebihi kebenaran umum.

Dan yang membuat Rocky kian melejit adalah liar pikirannya disantap oleh kecerdasan intelektual yang rendah. Hal yang sangat disayangkan, orang dengan nalar dan filosofis tinggi macam Rocky pada tahap selanjutnya justru harus dibenturkan dengan cara-cara politis yang sangat emosional.

BACA  Cerita Gus Dur Tentang Buya Syakur Yasin

Hal inilah yang kemudian menjadi sebuah kontroversi di tengah masyarakat, kebiasaan buruk yang sedari dulu ditanam oleh kekuatan oligarki besar, cara-cara represif yang dipertontonkan kembali hadir dimasa sekarang, lapor-melapor dan persekusi secara verbal.

Menentang adalah jalan Rocky, mungkin satu dari beberapa jalan kodratnya agar bisa tampil ke permukaan.

Rocky kritis, namun dalam beberapa kesempatan dia sangat percaya diri, keras kepala dan kerap mengesampingkan efek bom waktu di tengah masyarakat. Akan tetapi lagi-lagi, bila dia memilih mapan, dia berpikir dalam matrealis yang hanya sebatas “cukup”, tidak lebih, maka dia tidak akan dapat memberi pelajaran.

Berbeda jauh, namun ada titik dimana perbedaan itu justru menjadi persamaan dan kesatuan. Melihat Rocky hari ini teringat mendiang Gus Dur.

Memang terlalu berlebihan bila harus disandingkan melihat kontribusi dan pengaruhnya saja sangat jauh. Namun yang patut digarisbawahi, keduanya berangkat dari keadaan melawan, keduanya memiliki materi, dialektika dan logika bertentangan dengan kebenaran umum yang bila dilawan secara dangkal akan membuat Anda hilang kesabaran.

Keduanya “nyeleneh”, kritis, percaya diri, dan kerap menghiraukan kebenaran umum yang berkembang.

Gus Dur mencabut tap MPR tentang PKI, melindungi Ahmadiyah, meresmikan Konghucu sebagai agama, mengeluarkan statemen kalau Al-quran adalah kitab porno, membubarkan departemen, dan banyak kebijakan yang dihajar begitu saja oleh Gus Dur.

Di lain sisi, Gus Dur tidak pernah menggebu, masih mampu menyelam ke dalam untuk melihat spektrum yang lebih luas.

Rocky seharusnya dapat meniru Gus Dur dalam beberapa hal, terutama dalam kerendahan hati dan respect-nya terhadap persoalan yang lebih harus dikedepankan, yaitu persatuan, meskipun dirinya akan terlihat jatuh.

Memang dasarnya belum berada dalam satu level meski ada persamaan dialektika dengan Gus Dur. Dan hal yang paling mempertajam adalah pandangan Khilafah yang kerap Rocky bela, entah Rocky sengaja memosisikan diri menentang atau memang nalar pikirnya terhadap khilafah sangat dungu?

Tanggapan Anda

Related posts