Syi’ir Tanpo Waton, Sebuah Syi’ir yang Mengajarkan Keseimbangan dalam Kehidupan

  • Whatsapp

Di suatu sore, ketika azan Magrib selesai dikumandangkan, sayup-sayup suara lantunan puji-pujian dari toa masjid pesantren mulai terdengar dari kejauhan.

Duh bolo konco priyo wanito
(wahai para teman pria dan wanita)
Ojo mung ngaji syareat bloko
(jangan hanya belajar syari’at saja)
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
(hanya pandai bicara, menulis dan membaca)
Tembe mburine bakal sengsoro
(esok hari bakal sengsara)

Read More

Dalam lamunan saya terdiam, menikmati puji-pujian tersebut dengan khidmat dan penuh ketenangan. Memang, saya yang notabene seorang Sunda tidak begitu memahami dengan baik makna dari puji-pujian yang belakangan saya ketahui adalah sebuah syi’ir atau puisi yang dipopulerkan oleh sang Maestro Kemanusiaan di negeri ini. Ialah Almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid atau lebih kita kenal dengan nama Gus Dur. Walaupun sebenarnya, syi’ir tersebut adalah karya KH. Mohammad Nizam as-Shofa, seorang pengasuh pondok pesantren Ahl as-Shofa wa al-Wafa di Sidoarjo Jawa Timur.

Baca juga: Diskotik Bersyariah, Diskotik Rasa Majlis Taklim

Atas dasar rasa penasaran yang begitu tinggi, pencarian makna syi’ir tersebut dilakukan. Hasilnya begitu mengejutkan. Sebab, syi’ir yang biasa dilantunkan banyak orang di masjid-masjid dan di banyak acara keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad, tasyakuran dan lain-lain itu betul-betul memiliki makna yang sangat dalam.

Sebagai contoh adalah bait di atas. Terlihat dari maknanya, saya kira sang Pencipta syi’ir bukan seorang yang sembarangan. Ia adalah sosok yang begitu memahami  banyak disiplin ilmu, khususnya agama. Tentunya dengan melihat latar belakang pendidikan dan keluarga. Akan tetapi, ada batas yang ingin ditembus oleh sang pencipta syi’ir tersebut, yaitu anggapan bahwa ilmu agama adalah penentu segala hal dalam kehidupan.

BACA  Mengetahui Asal-Usul Corona

Alih-alih beranggapan demikian,  syi’ir tersebut menganjurkan untuk menguasai ilmu lain selain ilmu agama, tentu tanpa melupakan ilmu agama itu sendiri. Dalam arti lain, ilmu agama harus tetap dipelajari, sembari mempelajari ilmu lainnya.

Melihat fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, syi’ir ini begitu sangat relevan untuk dijadikan sebuah rujukan hidup. Sebab, banyak sekali peristiwa yang sebetulnya bisa dijelaskan secara rasional, justru dijadikan seolah-olah peristiwa tersebut melanggar norma-norma keagamaan. Tentu ini adalah sebuah kealpaan alam pikir dari ilmu lain selain ilmu agama yang sebetulnya bisa menopang pengetahuan ilmu agama itu sendiri. Akibatnya, semua peristiwa selalu disangkut-pautkan atas nama agama.

Baca juga: Hikayat Kitab ‘Jadug’ Rujukan Kiai dan Santri di Pesantren

Syi’ir tersebut sangat mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan, tentu dengan menguasai pelbagai jenis disiplin ilmu. Teringat sebuah hadis, jauh-jauh hari Rasulullah Saw. mengabarkan kepada kita semua umatnya, untuk mempelajari perlbagai jenis ilmu pengetahuan dalam menjalani kehidupan baik yang berorientasi untuk hal-hal duniawi (Imu sosial, teknologi, politik, dan lain-lain) maupun ukhrawi (ilmu agama yang meliputi pemahaman terhadap Alquran, hadis, tafsir, fikih, dan disiplin ilmu lain yang termasuk dalam ilmu agama). Tentu saja anjuran tersebut bukan tanpa alasan, sebab untuk menjalani kehidupan di dunia ini haruslah didasari ilmu pengetahuan yang berimbang antara ilmu agama dan ilmu yang lainnya.

Akeh kang apal Qur’an Hadise
(banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya)
Seneng ngafirke marang liyane ….
(senang mengkafirkan kepada orang lain)
Kafire dewe dak digatekke
(kafirnya sendiri tak dihiraukan)
Yen isih kotor ati akale
(jika masih kotor hati dan akalnya)

Puji-pujian itu terus berlanjut, semakin lama, semakin saya terbawa oleh suasana. Ya, saking menikmatinya, saya semakin antusias untuk mendengarkannya tanpa menghiraukan kondisi di sekitar.

BACA  Kebaikan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Untuk Siapapun, Termasuk Ahmad Dhani dan Gibran

Dalam bait selanjutnya, syi’ir tersebut menjelaskan bahwa ilmu agama tidak menjadi jaminan bagi seseorang untuk menjadi baik jika tanpa diimbangi oleh pemahaman yang baik. Gambaran peristiwa dalam syi’ir tersebut seolah sudah menjadi pemandangan kita sehari-hari. Kafir-mengkafirkan, bidah-membidahkan, bahkan saling memusyrikkan. Tentu bukan gambaran kehidupan yang ideal yang diajarkan oleh agama itu sendiri. Dan yang menjadi sangat mengkhawatirkan, tindakan-tindakan itu justru dilakukan oleh orang yang mengaku ahli agama, hafal Alquran dan juga hadis.

Tidakkah kita berkaca kepada sejarah, bahwa banyak sekali peperangan, saling membunuh, dan pertikaian antar saudara pernah terjadi atas nama agama? Sebut saja, sebagai contoh, Ibnu Muljam seorang yang hafal dan ahli Alquran, mengisi siang dan malamnya dengan ibadah, justru dengan begitu tega menikam Sahabat Ali r.a dengan alasan pemahaman keagamaan yang berbeda. Bukankah ini merupakan sebuah ironi kehidupan nyata dalam beragama yang sama-sama kita sesali? Lantas, kenapa benih-benih peristiwa semacam itu masih terus saja terjadi?

Baca juga: Menyoal Kemampuan Baca Tulis Alquran Mahasiswa UIN di Tengah Naiknya Narasi Keagamaan

Ya, syi’ir ini begitu sangat bermakna dan sangat berguna bagi kehidupan kita saat ini, tentunya dengan relevansinya yang sangat cocok untuk dijadikan petunjuk bagi kehidupan.

karena terlalu menikmati lantunan puji-pujian, saya tidak begitu menghiraukan waktu salat Magrib yang sudah berjalan sedari tadi, sampai-sampai seorang teman sekamar di tempat saya menjalani pendidikan pesantren, tiba-tiba menepak pundak saya seraya berkata, “Oy, le. Ayo jama’ah, entar pengurus ngoprak-ngoprak (datang ke kamar menggiring santri untuk melaksanakan salat jama’ah di masjid). Kena sabet baru tau, lu.” Seketika itu, saya berhenti dari lamunan dan bergegas menuju masjid untuk melaksanakan salat berjama’ah.

Tanggapan Anda

Related posts