Berikut 5 Calon Ketua Umum Nahdlatul Ulama, Nama Terakhir Patut Diperhitungkan

  • Whatsapp


Sebagai organisasi yang menjamin proses demokrasi dan kebebasan berpendapat secara sehat, Nahdlatul Ulama tentu memiliki AD/ART yang mengatur pergantian kepengurusan. Jadi tidak abadi seperti Soekarno, apalagi seperti Soeharto yang punya dinasti. Di NU, cukup 5 tahun saja, cukup untuk punya tanah dan modal agar dapat buka pesantren.

Sebagai Jam’iyah yang mempunyai basis massa yang sangat besar, Nahdlatul Ulama sendiri memiliki 2 dewan tertinggi dalam kepemimpinan (Rais). Pertama, Rais Syuriah, yaitu badan tertinggi yang mengambil keputusan dalam struktur kepengurusan NU. Biasanya diamanatkan pada para Kyai sepuh, atau familiar dengan sebutan Rais Aam.

Read More

Kedua, Rais Tanfidziyah sebagai BPH (Badan Pelaksana Harian) Nahdlatul Ulama, yang kerap disebut sebagai Ketua Umum. Dan yang perlu diingat, di NU tidak ada sebutan Dewan Pengurus NU Garis Lurus atau Dewan Pengurus NU Sehat, yang ada hanya pengurus NU Sakit Hati non-struktural dan NU Garis Lucu, karena memang lucu adalah bawaan lahir orang NU.

Selain keberadaannya sebagai organisasi akar rumput yang amalannya banyak diikuti mayoritas muslim di Indonesia (secara kultural), termasuk diikuti oleh warga Muhammadiyah garis NU (MUHAMMADINU). Nama besar PBNU juga tidak lepas dari sosok para Rais Tanfidziyah dalam mengelola organisasi, sosok yang wajib mendapat bully-an dari Calon Sakit Hati dan tentunya Kaum Bid’ah Dholalah al-Bahluli.

Nah, setelah 5 tahun kepengurusan berlangsung, Pada 2020 nanti, PBNU kembali menggelar Muktamar yang juga turut memilih Rais Tanfidziyah atau Ketua Umum baru. Dan yang patut dinanti, kira-kira, siapakah yang terpilih sebagai Ketua Umum PBNU berikutnya?

Kira-kira yang cocok seperti apa ya? Apa mungkin yang celananya cingkrang atau sorbannya besar biar orang NU tidak melulu dibidahkan? Atau dari satuan militer biar lebih disegani, yang penting hafal qunut dan tahlil? Atau yang dekat dengan politisi supaya bisa lobi-lobi? Atau sosok yang kalem, santuy dan enjoy, lur, agar tidak tegang? Atau sosok yang tegas agar dapat bersaing takbir dengan Habibana Rizieq? Atau orang muallaf yang tiba-tiba dianggap paling alim seperti Koh Felix agar NU paling tenar? Jadi menurut kalian harus yang seperti apa dan bagaimana?.

Sejauh ini, selain petahana, ada 5 nama yang nampaknya akan saling beradu wirid dan lalaran untuk berlomba menduduki posisi Rais Tanfidziyah Nahdlatul Ulama. Dari kelima calon ini, siapakah jagoanmu, Lur? Kalau dilihat dari penguasaan bola dan sundulan kira-kira menang siapa? kalau dilihat dari weton dan tanda lahir, kira-kira siapakah orang yang paling tepat?  Atau punya rekomendasi lain? Om Deddy Corbuzier misalnya? Ya, monggo.

1. KH. Marsyudi Syuhud

Putra pasangan H. Suhudi dan Hj. Sairah ini lahir di Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen. Pendidikan dasar dan sekolah diniyah yang harus menghafal Jurumiyah dan Imrity diselesaikan di kampungnya. Setelah itu merantau ke Pesantren Raudlatul Mubtadiin di Jatisari, Jenggawah, Jember, berguru kitab-kitab salaf kepada KH. Abu Hamid.

Di pesantren yang terkenal dengan sorogan kitab  salafnya itu ia belajar selama empat tahun. Jadilah ia banyak mengenal karakter masyarakat Jawa Timur yang kental dengan nuansa Maduranya. Tahun 1982 pindah ke Cilacap untuk belajar di Pondok Pesantren Al-Ihya’ Ulumiddin Kasugihan asuhan KH. Mustholih Badawi.

BACA  Apa NU Menghapus kata "Kafir"?

Di sini ia menamatkan pendidikan MTs dan MA, juga kitab-kitab salaf seperti Alfiyah Ibnu Malik dan Ihya’ ulumiddin. Pada tahun 1994 ia mendirikan Pondok Pesantren Barokatur Rohman di Sukabudi, Tambelang, Bekasi. Juga mendirikan pesantren satu-satunya di Indonesia yang bericon ekonomi, Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, yang khusus untuk mahasiswa S1 dan S2 di Kedoya Selatan Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Sebagai anak orang NU dan menjalani pendidikan di lingkungan NU, naluri ke-NU-annya tidak dapat dipungkiri. Sejak masuk Jakarta ia langsung aktif bergabung jadi Banser yang direkrut langsung oleh H. Suaedi di Jakarta. Hasil Muktamar Makassar 2010 mengangkat dirinya untuk duduk sebagai salah seorang Ketua PBNU.

2. KH. Marzuki Mustamar

Kyai Marzuki lahir di kota Blitar, 22 September 1966. Sungguh beruntung Kyai Marzuki karena dilahirkan dalam keluarga yang taat beribadah sekaligus mengerti agama. Ya, abahnya adalah seorang kyai. Alhasil, sejak kecil Kyai Marzuki dibesarkan dan dididik oleh kedua orang tua beliau dengan disiplin ilmu yang tinggi.

Di bawah pengawasan orang tua beliau inilah putra dari Kyai Mustamar dan Nyai Siti Jainab ini mulai belajar  al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama. Saat duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah sampai sebelum belajar di Malang, anak kedua dari delapan bersaudara ini mulai belajar ilmu nahwu, shorof, tasawuf dan ilmu fikih  kepada Kyai Ridwan dan Kyai-Kyai lain di Blitar.

Sejak SMP, beliau diminta mengajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil lainnya kepada anak-anak dan tetangga beliau. Pada usia yang masih belia tersebut, beliau sudah mengkhatamkan dan paham kitab Mutammimah pada saat beliau kelas 3 SMP. Selepas dari SMP Hasanuddin, beliau melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Tlogo Blitar. Kyai Marzuki muda mendalami balaghoh dan ilmu mantek kepada Kyai Hamzah. Mendalami ilmu fikih kepada Kyai Abdul Mudjib dan ngaji Ilmu Hadits kapada Kyai Hasbullah Ridwan.

Ketika beliau duduk di bangku Aliyah, beliau sudah khatam kitab Sahih Muslim dan kitab-kitab kecil lainnnya. Sebelum beliau belajar di Malang, selama di Blitar yang mengajar beliau adalah Orangtua beliau, Kyai Hasbullah Ridwan yang masih eyang beliau, Kyai Hamzah dan Kyai Mujib adalah guru beliau di MAN Tlogo.

Setamat dari MAN Tlogo pada tahun 1985, kyai kelahiran 22 September 1966 ini melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di IAIN (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim) Malang, yang waktu itu masih merupakan cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Untuk menambah ilmu agama yang sudah beliau dapat, Kyai yang juga Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang ini nyantri kepada Kyai Masduki Mahfudz di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono.

Mengetahui kecerdasan dan keilmuan Kyai Marzuki yang di atas rata-rata santrinya yang lain, akhirnya Kyai Masduki memberi amanah kepada Kyai Marzuki untuk membantu mengajar di pesantrennya, meskipun saat itu Kyai Marzuki masih berusia 19 tahun. Selain sibuk membimbing para santri, kyai yang pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa Arab Universitas Islam Malang ini juga disibukkan dengan urusan ummat. Tiada hari tanpa memberikan pengajian atau mauidzhoh kepada umat. Mulai mengisi pengajian dari masjid ke majid, blusukan keliling kampung dan lain sebagainya. Saat ini, Kyai Marzuki juga aktif di berbagai organisasi kegamaan di antara sebagai Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang dan anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang.

BACA  Merindukan Habibana Rizieq Shihab Pulang ke Tanah Air

Kedalaman ilmunya sangat dirasakan oleh umat. Sebagai contoh beliau menyusun sebuah kitab, tentang dasar-dasar atau dalil-dali amaliyah yang dilakukan oleh warga nahdhiyyin. Melalui kitab ini, Kyai Marzuki ingin membuka mata umat bahwa amalan mereka ada dasar hukumnya, sekaligus menjawab tuduhan-tuduhan orang-orang yang tidak setuju dengan sebagian amaliyah warga Nahdhiyyin. Saking hebat dan lugasnya beliau menerangkan itu semua, sampai-sampai Kyai Baidhowi, Ketua MUI Kota Malang memberi julukan “Hujjatu NU”. “Kalau Imam al-Ghozali dikenal sebagai Hujjatul Islam, maka Kyai Marzuki ini Hujjatu NU” Demikian pernyataan Kyai Baidhowi dalam beberapa kesempatan.

3. KH. Yahya Cholil Staquf

Mantan Watimpres era Presiden Jokowi, KH. Yahya Cholil Staquf, yang juga keponakan Gus Mus (KH Mustofa Bisri) pernah menjabat sebagai Juru Bicara Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Yahya Cholil Staquf saat ini sebagai Katib Aam Nahdlatul Ulama (NU).  Beliau ini diturunkan dari garis panjang ulama Jawa terkemuka, Abahnya KH. Cholil Bisri dan Kakeknya KH. Bisri Mustofa (ulama khos).

KH. Yahya Cholil Staquf dididik dari masa kanak-kanak awal pendidikan formal dan spiritual pertama-tama oleh ayahnya, kakeknya dan pamannya, dari keluarga Bisri yang terkenal dari Rembang, Jawa Tengah, dan selanjutnya oleh Kyai Haji Ali Maksum (1915 – 1989) di rumahnya sekaligus merupakan madrasah di Yogyakarta. KH. Ali Maksum sendiri adalah murid langsung Syekh Umar Hamdan al-Makki (1858 – 1948) dan Syekh Hasan Masshat al-Makki (1900 – 1979) Mekah. Dimasa reformasi politik tanah air KH. Yahya Cholil Staquf adalah anggota Komisi Pemilihan Nasional Indonesia dan selama transisi kekuasaan dari pemerintahan otoriter ke demokrasi, dan menjabat sebagai juru bicara kepresidenan untuk kepala negara Indonesia pertama yang dipilih secara demokratis – Kyai Haji Abdurrahman Wahid yang mengepalai Nahdlatul Ulama selama 15 tahun.

Yahya Cholil Staquf juga pernah dipercaya sebagai tenaga ahli perumus kebijakan pada “Dewan Eksekutif Agama Agama di Amerika Serikat – Indonesia” yang didirikan berdasarkan perjanjian bilateral yang ditandatangani oleh Presiden Obama dan Presiden Jokowi pada Oktober 2015, dalam rangka “menjalin kemitraan strategis antara AS dan Indonesia. Selain memanajemeni sehingga go internasional dari Raudlatuth Tholibin Madrasah di Rembang, Jawa Tengah, Kyai Yahya juga bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan pelaksanaan kebijakan antara Nahdlatul Ulama dan US Supreme Council Dewan Eksekutifnya, dan juga untuk perluasan operasi NU ke Amerika Serikat, yang tahap awal ke Amerika Utara, Eropa dan Timur Tengah.

Dalam kapasitas ini, beliau dianggap sukses dalam da’wah NU untuk lebih memperkenalkan Islam yang rakhmatanlil’alamin yang sangat diterima oleh Masyarakat Barat. Dalam mengejar tujuan-tujuan ini, Gus Yahya selanjutnya mendirikan organisasi berbasis di AS, yakni Bayt ar-Rahmah li ad-Da’wa al-Islamiyah Rahmatan li al-‘Alamin (Rumah Rahmat Ilahi untuk Mengungkap dan Memelihara Islam sebagai Berkah untuk Semua Ciptaan) pada bulan Desember 2014, untuk melayani sebagai pusat untuk perluasan operasi Nahdlatul Ulama di Amerika Utara, Eropa dan Timur Tengah, dan untuk mengkonsolidasikan ahlussunnah wa al-jamaah mendunia. “Untuk membawa dunia di mana Islam, dan Muslim, benar-benar bermanfaat dan berkontribusi terhadap kesejahteraan seluruh umat manusia. Gus Yahya adalah anggota Bayt ar-Rahmah’s dewan direksi dan Direktur Urusan Agama (modir)

BACA  Kisah Cinta Yusuf dan Zulaikha yang Penuh Romansa Rindu-Dendam

4. Gus Nadirsyah Hosen

Beliau punya dua sisi kontras dalam hidupnya. Ia bergaul dalam iklim intelektual ala Barat nan modern. Di sisi lain, ia tumbuh dalam langgam tradisi Islam Nusantara. Nadir, demikian nama kecilnya, lebih dari 13 tahun berkarier di Australia. Pria kelahiran 8 Desember 1973 itu merupakan satu-satunya orang Indonesia yang jadi dosen tetap di Fakultas Hukum Monash University, Melbourne, Australia. Pada sisi lain, Nadir dikenal sebagai salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi muslim tradisional dan terbesar di Indonesia.

Sejak 2005, ia pegang amanah sebagai Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU Australia-New Zealand. Garis nasab Nadir menunjukkan kelahiran para pemikir Islam beda generasi. Kakeknya, KH Hosen, ulama dan saudagar berdarah Bugis, merupakan pendiri Mu’awanatul Khair Arabische School di Tanjung Karang, Lampung, awal abad ke-20. Ayah Nadir, Prof. KH. Ibrahim Hosen, seorang ahli fikih kenamaan, dan pernah menjabat Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) selama dua dekade (1981-2000).

Tokoh yang berpulang pada 2001 itu sempat jadi rektor IAIN Palembang, dan menyandang gelar guru besar IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta—kini UIN Syarif Hidayatullah. Lepas lulus dari Fakultas Syariah di IAIN Syarif Hidayatullah, Nadir mulai mengejar mimpi “menaklukkan Barat” dan menceburkan diri ke dunia kesarjanaan (scholars).

Ia memperoleh gelar magister dari dua kampus berbeda di Australia: Master of Arts (studi Islam) di University of New England dan Master of Laws (studi hukum) di Northern Territory University. Nadir sempat mengajar di IAIN Jakarta setelah lulus studi magister. Namun pekerjaan itu hanya dilakoni selama enam bulan. Ia telanjur haus ilmu, dan dua gelar magister tak cukup mengobati dahaga akademiknya.

Ia melanjutkan studi doktoral di dua kampus: Wollongong University (doktor hukum) dan National University of Singapore (doktor hukum Islam). Setelah menyabet dua gelar doktor, Nadir sebenarnya bisa saja balik dan mengajar di Indonesia. Namun isyarat langit berkata lain. Merintis karier akademik di Negeri Kanguru jadi pilihan. Pada 2005, ia jadi research fellow (peneliti) di Queensland University, Brisbane University dan sampai kini menjadi Dosen Senior di Monash University.

5. Ajengan Ki Ridwan Zain Al-Labani

Beliau merupakan Guru Besar di Institut Raudlatul Armalah wa Awladuha bidang Tekhnik Daring Filsafat. Karirnya dihabiskan untuk mengabdi sebagai anak pungut di lembaga filantropi berbasis kepedulian terhadap para tuna asmara. Di usia yang masih sangat belia, 25 tahun, Ajengan Zein telah berhasil mengkhatamkan Iqro Juz 6, menerbitkan karya ilmiah dengan judul ; Ada Apa dengan Basalamah (ABAB), Perjalanan Cinta Mama Dedeh, dan Ketika HRS Bertasbih.

Prestasi terbesar Ajengan Zein lainnya yaitu menduduki tier Master pada season 8 sebagai top lokal. Selain itu, pengembaraan beliau selama 1 dekade membawa dirinya diangkat sebagai Rais Syuriah Cabang Zimbabwe. Sosok Ajengan Zein Al-labani dianggap sebagai calon alternatif kiri karena berani mencoba mendobrak dominasi para Kyai untuk mencalonkan diri menjadi Rais Tanfidziyah.

Ajengan Zein saat ini sedang melakukan pertapaan di Goa Farjiyyah untuk menyempurnakan wiridnya jelang pemilihan Ketum. Sepak terjang sebagai pemimpin telah terlihat saat dirinya berhasil menduduki posisi sebagai Ketum HALU (Himpunan Anak Lupa Umur) dan Sekjen ANU (Asosiasi Ninggal Utang).

Ajengan Zein menjadi salah satu calon yang jarang terekspos dan diperhitungkan karena konon beliau termasuk Wali Mastur-tanpa Basi yang memiliki standarisasi ibadah berbeda dengan tokoh seusianya, yaitu Ibadah haqiqi amali wa ruhi ala thoriqoh mabariyah. Rupa yang menawan dengan dompet tebal tak menjamin dirimu dapat dicintai perempuan, begitulah salah satu quote terkenal yang disampaikan beliau dibanyak kesempatan dan menjadi argumentasi kaum sabun hingga kini.

Walaupun belum Haji dan belum menyandang status Kyai, Ajengan Zein yakin bahwa Wali Mastur-tanpa Basi juga memiliki hak untuk ikut serta mencalonkan diri sebagai Rais. Ajengan Zein yang merupakan putera Naga Emas sangat yakin, 2020 nanti, dirinya akan sukses menjadi Rais, paling tidak menjadi Raisul Bayt at-Tanfidziyah, Kepala Rumah Tangga, merangkap Dewan Syuriahnya.

Jadi, manakah idola dan jagoan kalian?

Apakah ada rekomendasi lain?

Siapapun jagoan kalian, yang penting subuhnya 2 rakaat. Jangan lupa, pake Qunut, ya.



Tanggapan Anda

Related posts