Bukan Sunni atau Syi’ah, Mu’tazilah yang Membawa Masa Keemasan Ilmu Pengetahuan

  • Whatsapp

Teologi yang mempelajari tentang keyakinan beragama dan ketuhanan, dewasa ini kembali ramai diminati oleh cendekiawan, baik cendekiawan muslim maupun non muslim.

Segala bentuk keragaman tradisi dalam agama dikupas, sehingga menghasilkan pelbagai pandangan. Dengan ini cendekiawan dapat membandingkan agama satu dengan agama lain sehingga banyak di antaranya yang membenarkan, memperkuat, atau juga menyebarkan suatu hal yang diaggap penting.

Read More

Jika dilihat dari perkembangan dunia Islam, maka akan dijumpai aliran mu’tazilah, yang merupakan salah satu aliran terbesar dalam perkembangan teologi Islam. Aliran ini lebih mengedepankan peran akal dan kebebasan manusia seolah-olah meletakkan Tuhan itu kecil. Sehingga banyak kaum sunni atau pun ulama yang kurang bisa menerimanya.

Dalam bukunya, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, Muhammad Abu Zahrah menerangkan bahwa dalam memahami aqidah, mu’tazilah tidak memakai metode yang diterapkan oleh ulama salaf, yang jika memahami sifat-sifat Allah harus merujuk pada al-Qur’an dan Sunnah nabi. jika ayat-ayat al-Qur’an sulit dipahami, mereka menggunakan ushlub. kemudian jika dengan cara itu masih tidak bisa memecahkan masalah, mereka menggunakan tawaqquf dan menyerahkan kepada Allah tanpa menimbulkan fitnah.

Golongan mu’tazilah menentang metode itu dan menggunakan akal sebagai tolak ukur segala-galanya dan juga sebagai landasan pembahasan mereka. Karenanya fuqaha dan muhadditsin tidak senang atasnya. Akan tetapi mu’tazilah tetap berusaha agar tidak menyimpang dari nash-nash al-Qur’an. Tapi jika ada pertentangan tentang paham yang mereka tetapkan dengan nash al-Qur’an, maka mereka menta’wilkan sehingga tidak bertentangan.

Di Indonesia sendiri, aliran mu’tazilah belum berkembang karena banyak orang yang tidak mau dianggap mengikuti aliran tersebut. Bahkan banyak para politikus di Indonesia yang membuat aliran tersebut untuk bahan perpolitikan.

BACA  Memahami Kerancuan Filsafat yang Dimaksud Al-Ghazali

Sudah menjadi rahasia umum, sampai saat ini pemikiran mu’tazilah masih sedikit yang mengenalnya, bahkan cenderung tidak menyukainya, bukan karena tidak ada yang mau mengenalnya, tapi karena pemikiran ini tidak pernah didiskusikan dengan cara yang baik dan juga stereotype masyarakat yang sangat deras akan stigma-stigma negatif terhadap aliran ini.

Sejarah mencatat, umat Islam pernah mengalami the golden age of Islam atau zaman keemasan Islam. Pada masa ini, peradaban Islam mempunyai pengaruh terhadap tercapainya kemajuan dan peradaban modern di Barat, tidak bisa di pungkiri, pasang surut kemajuan bagai hukum alam yang sudah pasti. Masa kejayaan tidak berlangsung lama, pembakaran perpustakaan-perpustakan di berbagai tempat di kota Baghdad oleh tentara Hulagu Khan membuat warisan intelektual Islam menghadapi kemunduran yang sangat signifikan.

Masa kejayaan peradaban Islam sendiri ditandai oleh toleransi yang cukup tinggi ditambah pemikiran-pemikiran ulama besarnya yang sangat open minded dan didukung oleh perekonomian dan teknologi yang beragam. Maka hal itu sudah sangat mendukung masa ini menjadi sorot dunia.
Primadona dalam masa ini adalah ilmu pengetahuan, filsafat dan ilmu-ilmu lainnya. Dalam buku karya Drs. Fadil SJ., M.Ag, (2008), Ada beberapa faktor yang menyebabkan pesatnya perkembangan sains dan filsafat pada masa ini, antara lain :
“Pertama,kontak antara islam dan persia yang menjadi jembatan berkembangnya ilmu pengetahuan
Kedua, etos keilmuan para khalifah abbasiyah, terutama harun ar-rasyid dan anaknya, Al-ma’mun yang sangat cinta pada ilmu pengetahuan
Ketiga, peran keluarga barmak sebagai pendidik di lingkungan istana.
Keempat, penerjemah literatur-literatur yunani ke dalam bahasa arab sedemikian besar dan di dukung oleh kebijakan khalifah dengan mendapatkan imbalan yang sangat besar kepada setiap penerjemah.
Kelima, adanya peradaban dan kebudayaan yang heterogen di baghdad menimbulkan proses interaksi antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain”.

BACA  Jadi Siapa yang Diuntungkan dalam Program Kartu Prakerja; Rakyat atau Platform Digital?

Seperti yang kita ketahui al-ma’mun sendiri adalah pencinta ilmu pengetahuan. Kecintaan tersebut beliau dapatkan dari hasil melalangbuana mencari ilmu ke berbagai tempat dengan berbagai pemikiran. Alasan ini pula yang membuat al-ma’mun kurang di terima di kalangan ulama tradisonal. Selain karna beliau menyukai ilmu filsafat, beliau juga cenderung memiliki cara pandang mu’tazilah.

Sejarah mencatat aliran mu’tazilah muncul di kota Bashrah pada abad ke 2 Hijriah. Aliran ini diperkasai oleh Wasil bin Atta. Selanjutnya aliran mu’tazila berkembang pesat pada zaman abasiyah khalifah al-ma’mun. karena khalifah al-ma’mun sendiri sejak kecil sudah dididik dengan tradisi yunani yang haus akan ilmu pengetahuan. Dalam bukum firas alkhateb (2014:89) “Dalam pandangan khalifah ini juga masyarakat yang sempurna untuk masa depan hanya bisa diwujudkan dengan kekayaan ilmu pengetahuan dan pemikiran yang rasional”. Maka selanjutnya tak ayal bilamana Khalifah al-ma’mun menetapkan aliran mu’tazilah sebagai aliran resmi negara.

Pada masa al-ma’mun terjadi peristiwa yang tak akan dilupakan sejarah, yaitu peristiwa mihnah yang pada saat itu kaum mu’tazilah berpandangan bahwa alquran adalah makhluk. Karena Al-quran itu diciptakan, tidak khadm yang berarti Al-qur’an itu baru. Pemikiran itu beranggapan jika Al-quran itu khadim maka akan dikatakan bahwa ada yang lebih khadim dari Allah SWT dan jika beranggapan demikian maka hukunmnya musyrik. Dalam peristiwa inilah banyak tokoh, ulama dan pejabat pemeritah disiksa karena tidak sepemikiran dengan kaum mu’tazilah. Ada di antaranya yaitu imam hambali.

Akan tetapi tidak bisa dipungkiri pada zaman khalifah al-ma’mun inilah ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam berkembang sangat pesat. Hal ini dibuktikan adanya baitul hikmah, pusat segala ilmu pengetahuan pada masa itu. di dalamnya bukan hanya perpustakaan, tetapi juga ada universitas, biro penerjemah, observatorium, dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan, bahkan saat itu dunia barat masih dirundung permasalahan sosial.

BACA  Kisah Para Pemimpin Perempuan Melawan Pandemi Covid-19

Baitul hikmah didirikan oleh khalifah harun ar-rasyid yang juga mengikuti aliran mu’tazilah. Setelah meninggalnya khalifah harun ar-rasyid, baitul hikmah diteruskan oleh khalifah al-ma’mun. tak kalah dengan pendiri baitul hikmah, pada zaman khalifah al-ma’mun baitul hikmah semakin berkembang pesat. Karena ia sangat suka dengan ilmu filsafat, al-ma’mun pun mendatangkan para penerjemah untuk menterjemahkan karya-karya yunani.

Khalifah al-ma’mun juga banyak mengundang ilmuan di seluruh dunia untuk mengeluarkan berbagi pemikiran dan pengetahuan mereka dan dari berbagai agama tentunya. Khalifah al-ma’mun juga menyelenggarakan projek penterjemahan buku besar-besaran. Dari sinilah para cendekiawan Islam dan barat berkumpul untuk menjalankan projek tersebut yang tentu menguras uang banyak. Namun, pengetahuan yang didapat tidak mengecewakan.

Dari baitul hikmah inilah kemudian terlahir sosok ilmuan yang sampai saat ini terkenang jasanya. Di antaranya, al-kindi yaitu ahli dan juga pembesar filsafat, al-farabi yang juga ahli dalam bidang filsafat dan juga dijuluki sebagai guru filfus kedua setelah aristetoles. Ada juga al-khawarizmi yang ahli dalam bidang matematika, ia juga pernah didelegasiakan oleh al-ma’mun dan al-watsqi untuk mengadakan riset ilmiyah dan tugas-tugas khusus. Dan masih banyak lagi ilmuan yang masyhur dari baitul hikmah.

Maka dari itu, adanya keharusan terhadap masyarakat untuk memberi sedikit ruang terhadap aliran mu’tazilah, karna setelah ditelisik lebih jauh lagi mengenai sejarah, paham mu’tazilah memiliki andil yang cukup besar terhadap peradaban umat Islam khususnya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Paham mu’tazilah cukup menyumbang banyak para pemikirnya sehingga peradaban pada masa itu dapat berkembang dengan pesat. Selain karena pemikiran mu’tazilah yang terkesan berani, paham tersebut juga mengajarkan tingginya toleransi antar umat, sehingga mendukung majunya peradaban Islam pada masa tersebut.

Tanggapan Anda
  • Whatsapp

Related posts