Syekh Tholha Bin Tholabuddin ; Mursyid Tariqah Qadariyah Wan Naqsabandiyah dari Pesisir Utara

  • Whatsapp

Syekh Tholha bin Tholabuddin adalah salah satu Guru besar Tariqah Qodariyah wan Naqsabandiyah. Beliau termasuk cucu dari Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati generasi ke-9. Syekh Tholha lahir di saat tarekat menjadi ajaran yang paling ditakuti oleh pemerintah kolonial.

Terdapat riwayat yang berbeda-beda tentang tanggal pasti kelahiran beliau. Beberapa riwayat menyatakan Syekh Tholha lahir di Desa Trusmi, kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon tahun 1825. Namun menurut data yang tertulis di Pengadilan, Beliau dilahirkan tahun 1833. Dan menurut Achmad Opan Safari (Filolog Cirebon), beliau lahir pada tahun 1878. Sehingga terdapat 3 versi tahun kelahiran beliau, yaitu tahun 1825, 1833 dan 1878.

Read More

Syekh Tholha mendapat pendidikan Ilmu Agama untuk pertama kalinya di Pesantren Rancang yang notabene adalah (Pesantren Ayahnya), kemudian melanjutkannya ke Pesantren Babakan Ciwaringin. Dua pesantren yang masih berada di wilayah Cirebon. Setelah merasa cukup menimba Ilmu di Pesantren Babakan, beliau melanjutkan studinya ke Pesantren Lirboyo dan juga pesantren di daerah Gresik.

Saat berada di salah satu Pesantren tersebut, menurut cerita tuturan, Syekh Tholha pernah bermimpi memakan senjata tajam. Setelah terbangun dari mimpi tersebut, siang harinya beliau langsung dapat membaca semua Kitab yang ada di lemari Kyainya tanpa proses mengaji terlebih dahulu. Hal tersebutlah yang pada akhirnya membuat Sang Kyai menyarankan Syekh Tholha untuk belajar di Mekkah.

Syekh Tholha juga dianggap memiliki ilmu “rasa”. Pernah suatu ketika, saat Ibu Nyai Syekh Tholha mengidam ikan lele, Syekh Tholha belum diperintah tiba-tiba telah mengambil Ikan Lele saat banjir melanda Pondok tersebut di pagi hari.

BACA  Astronom Penemu Hitungan Tahun Masehi itu Adalah Seorang Muslim

Setelah dari Gresik, beliau pulang dan ikut serta mengajar di Pesantren ayahnya. Setelah itu beliau menunaikan ibadah haji dan terus tinggal di Mekkah mengikuti pesan Kyainya. Di sana beliau belajar Tasawuf dan Thoriqoh kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas Ibnu Abdul Gaffar khusus tentang Thoriqoh Qodariyyah wan Naqsyabandiyyah (TQN) beserta murid lainnya yaitu Syekh Abdul Karim al-Bantani dan Maulana Kholil Bangkalan.

Setelah bertahun-tahun di Mekkah hingga menjadi Wakil Talqin dan membantu Syaikh Ahmad Khatib Sambas, beliau kembali ke Indonesia. Di tengah perjalanan, kapal yang dinaiki beliau mengalami kecelakaan.

Menurut cerita turun temurun, beliau terombang ambing di lautan dengan sebuah kayu dari serpihan kapal hingga rambutnya memanjang. Sedangkan, salah satu teman yang diduga adalah Syekh Kriyan ditolong oleh ikan cucut. Dan dalam beberapa riwayat, saat perjalanan pulang ke Indonesia, Syekh Tholha singgah terlebih dahulu di Singapura dan mengajarkan TQN di Singapura. Sehingga tidak mengherankan jika di Singapura terdapat pula TQN. Dalam penuturan lain, kapal yang rusak adalah kapal yang digunakan saat perjalanan kedua Syekh Tholha menuju Mekkah.

Sesampainya di Indonesia, sekitar tahun 1873. Beliau kembali mengajar di Pesantren ayahnya, yaitu Pesantren Rancang. Pada tahun 1876, Syekh Tholha mendirikan Pondok Pesantren Begong, Kalisapu, Cirebon.

Tahun 1892 beliau diangkat sebagai Penasihat Keagamaan Kesultanan Kasepuhan-Cirebon, Bupati Kuningan, serta pejabat tinggi pemerintahan dan para bangsawan di Cirebon. Pada tahun 1889, Syekh Tholha ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda karena dianggap menghina Ratu Belanda dan mempersiapkan perlawanan kepada kolonial.

Pada tahun-tahun tersebut, Kolonial sangat direpotkan oleh kalangan tarekat. Seperti oleh Ki Bagus Rangin, Ki Bagus Jabin, serta Ki Bagus Serit. Bahkan peperangan di Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro juga terinspirasi oleh perjuangan para tokoh tarekat tersebut.

BACA  Sugeng Tindak, Gus Sholah, Titip Salam Kami Buat Guru-guru

Karena kecintaan Syekh Tholha kepada Tariqah Qadariyah wa Naqsabandiyah, beliau mempersilahkan siapa saja untuk ikut belajar bersamanya. Syekh Tholhah mengajarkan tarekat di Cirebon dan sekitarnya. Beberapa murid beliau yang sampai hari ini masih dikenal adalah Syekh Abdul Mu’in pendiri Pesantren Ciasem Subang, Pangeran Sulendraningrat di Cirebon dan Abah Sepuh pendiri Pesantren Suryalaya Tasikmalaya.

Pada tahun 1935 Syekh Tholha wafat dan dimakamkan di Gunung Djati Cirebon. Namun menurut riwayat lain, beliau wafat pada tahun 1915. Dari beberapa Istrinya, beliau dikaruniai 26 anak, 16 orang laki-laki dan 8 orang perempuan. Selanjutnya kekhalifahan Tariqah Qadariyah wan Naqsabandiyah berkedudukan di Suryalaya, Godebag, Tasikmalaya yang dipimpin oleh Syekh Abdullah Muhammad bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh.

Tanggapan Anda

Related posts