Beberapa hari yang lalu saat sedang asyik menikmati beranda facebook, saya melihat banyak foto para kiai, ulama  dan gus dari Nahdlatul Ulama sedang berkumpul jangongan di salah satu pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah. Melihat foto-foto tersebut membuat saya penasaran akan maksud dan tujuan mereka berkumpul, terlebih di sana sedang tidak acara besar yang diselenggarakan oleh NU.

Setelah melewati proses ijtihad panjang, membuka sumber informasi di sana-sini, bahkan bertanya pada rumput yang bergoyang dan mantan yang sudah lama hilang, Usut punya usut, mereka tidak sedang reunian, tidak sedang halal bi halal, apalagi merayakan perayaan tahun baru atau sedang ngunduh manten, melainkan sedang berkumpul membicarakan problematika umat Islam, khususnya warga NU dalam sebuah forum yang bernama Majma’ Buhuts An-Nahdliyah.

Majma’ Buhuts An-Nahdliyah merupakan suatu majelis para kiai dan ulama NU yang didirikan tahun 2004 silam. Salah satu Inisiator pendirian forum ini adalah maestro penggagas fikih sosial KH. Sahal Mahfudz yang kala itu masih berstatus Rais Am PBNU. Oleh karena itu, dari 2004 forum ini hanya dihadiri para kiai NU yang mempunyai peran penting dalam dakwah NU, walaupun forum terkahir kemarin boleh dihadiri anak muda dan perempuan aktivis NU.

Dalam forum ini, para kiai tidak hanya berkumpul jangongan dan ngopi saja, melainkan membicarakan problematika umat Islam dan tantangan dakwah yang sedang dihadapi, memberikan usulan dan saran kepada Rais Syuriah PBNU dalam menyelesaikan problematika dalam internal NU. Dalam forum tersebut, terlihat hadir Gus Mus atau KH. Mustofa Bisri, Gus Baha atau KH. Baha’udin Nur Salim, Gus Ulil Abshar Abdalla dan kiai-kiai besar NU lainnya.

BACA  Mempertanyakan Kebenaran Dokumen Rahasia dalam Buku “Menjerat Gus Dur”

Melihat fungsi dan peran Forum ini, mengingatkan kepada Majelis Dakwah Walisongo yang dulu juga melakukan hal yang sama di sela-sela kesibukannya dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa. Ya, Para Walisongo juga berkumpul dalam beberapa kesempatan untuk membicarakan hal yang sama, membicarakan problematika umat dan tantangan dakwah yang dihadapi dalam menyebarkan agama Islam dan meneguhkan keimanan mereka.

Dalam suatu kisah, konon diceritakan ketika Syekh Siti Jenar menuai kontroversi dengan beberapa ajarannya, terutama dalam konsep Tuhan yang ia yakini dan ia ajarkan di tengah-tengah masyarakat Jawa yang notabene baru masuk Islam, para wali berkumpul membicarakannya, memanggil dan mengahikiminya dengan adu argumen dalam rangka mencari tahu apa yang sebetulnya ia ajarkan kepada masyakarat.

Perkumpulan tersebut kemudian menghasilkan vonis hukuman mati kepada Syekh Sitih Jenar yang dianggap telah melenceng dari ajaran Islam dan dianggap telah meresahkan umat. Oleh karena itu para Wali memutuskan untuk memvonisnya mati. Kelak, perkumpulan yang menghasilkan vonis tersebut dinamakan sidang Para Wali.

Ya, kedua forum yang mempunyai perbedaan dimensi waktu dan ruang lingkup yang berbeda ini, sebetulnya sangat mirip karena sama-sama membahas problematika umat dan tantangan dalam berdakwah. hanya saja, karena perbedaan zaman, Majelis Walisongo tidak terdokumentasikan foto dan video yang membuat kita bisa menontonnya via youtube atau medsos. Berbeda dengan Majma’ Buhuts An-Nahdliyah, forum ini bisa terdokumentasikan dengan baik dengan banyaknya foto yang berseliweran di medsos, sehingga kita bisa tahu bahwa mereka telah berkumpul membicarakan hal-hal serius tentang Umat.

Tanggapan Anda