Mendaras Kembali Dakwah dan Perjuangan Sang Kiai

Resensi Buku Penakluk Badai

Judul :Penakluk Badai
Penulis :Aguk Irawan MN
Editor :Indriani Grantika dan Syahruddin El-Fikri
Penerbit :Republika Penerbit
Tahun Terbit :Pertama, Agustus 2018
Jumlah Halaman :562 halaman
ISBN :978-602-5734-17-5

Ia sama sekali tidak pernah menghakimi tradisi itu sebagai tradisi yang jahilliah, lalu mengharamkan dengan serta merta. Justru ia sadar, bahwa tradisi adalah karakter masyarakat, karenanya perlu dipelihara dan diarifi.” (hlm:176)


Kiai Hasyim Asy’ari merupakan sosok kiai yang sangat mengagumkan. Selain bergelar Hadratusyeikh (seorang guru besar di kalangan pesantren) dia juga diakui sebagai pahlawan kemerdekaan nasional sesuai dengan keputusan Presiden No. 29/2964.

Ketokohannya pun tidak hanya dalam bidang sosial keagamaan, namun dalam bidang kenegaraan. Dalam buku Penakluk Badai, kita akan diajak untuk menelurusi bagaimana sebuah perjalanan dari Kiai Hasyim Asy’ari ini, buku yang ditulis oleh Aguk Irawan terbagi dalam 25 bab. Pada awal Bab, penulis kelahiran Lamongan ini, membuka alur cerita dengan mengisahkan seorang Kiai benama Abdus Salam atau yang lebih terkenal dengan nama Kiyai Shohih, seorang Kiyai yang menyebarkan agama Islam di daerah Jombang. Di sebuah dusun bernama Gedang, Kiai Shohih mulai membangun pesantren dan kemudian seiring berjalannya waktu, berdatanganlah santri dari berbagai penjuru daerah untuk menimba ilmu kepada Kiai tersebut.

Pada bagian awal bab, pembaca akan disuguhkan sejarah bagaimana Kiai Sholih yang tak lain dan buka adalah buyut dari Hasyim Asy’ari. Ia berjuang membangun pesantren Gedang di tempat yang semula adalah kawasan sebuah ilalang yang penuh dengan para penjahat, kemudian disulap menjadi sebuah tempat yang ramai dijumpai oleh para pencari ilmu. Salah satu dari santri yang datang belajar bernama Asy’ari yang merupakan santri dari Demak. Asy’ari merupakan santri yang terkenal mahir dan terkenal cerdas. Singakatnya pada bagian awal pembaca akan diajak menelusuri silsilah dari para pendahulu Kiyai Hasyim Asy’ari.

BACA  Syekh Tholha Bin Tholabuddin ; Mursyid Tariqah Qadariyah Wan Naqsabandiyah dari Pesisir Utara

Selain kisah keluarga, kitapun akan menemui beberapa kesimpulan mengenai apa yang menjadi fokus Kiai Hasyim dalam berdakwah. Dalam bidang keagamaan, kita akan akan diajak menelusuri kiprahnya dengan mendirikan lembaga pendidikan berbasis Islam berbasis pesantren j modern di tanah Jawa. Kiai Hasyim adalah sosok yang revolusioner serta berpikir out of the box. Hal tersebut dapat terlihat dari caranya dalam memilih tempat untuk mendirikan pesantren, memilih tempat yang jauh dari cahaya agama dan keadiluhungan pendidikan. Dia memilih daerah Tebuireng, yang terkenal dengan warung remang untuk maksiat, judi dan mabuk-mabukan. Meskipun mendapat penolakan dari masyarakat sekitar dan beberapa keluarga tidak sepakat dengan langkahnya, namun kiai Hasyim terus meyakinkan dan berusaha semaksimal mungkin. Sampai akhirnya banyak masyarakat yang ingin belajar dan mengenal ajaran Islam lebih dalam.

Menurut beliau “Dakwah Islam tidak sekedar menanamkan iman di hati orang munafik kafirun, agar mereka mencicipi nikmatnya hidayah. Tapi dakwah Islam mencakup pula kesejahteraan dan kedamaian hajat orang banyak yang hidup di muka bumi Allah. Jihad akbar kita sekarang adalah bagaimana para penzalim, kompeni kolonial itu, hengkang dari bumi pertiwi. Sebab kiranya hanya dengan itulah, tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera setapak demi tapak akan terwujud.” (hlm 144).

Cara berdakwah dan mendekati masyarakat sekitar pun Kiai Hasyim melakukan perbaikan di bidang ekonomi untuk masyarakat sekitar dengan membiasakan santrinya untuk bercocok tanam. Selain hasilnya dipakai untuk sendiri, tetapi juga dijual untuk mendapatkan penghasilan. Pada awalnya, bercocok tanam menjadi suatu yang tidak biasa di Tebuireng. Bahkan kegiatan ini dicela oleh penduduk di sana. Namun, ketika mengetahui bahwa bercocok tanam bisa menghasilkan uang alias bisa menjadi pekerjaan, ada beberapa masyarakat Tebuireng yang kemudian bergerak untuk belajar bercocok tanam kepada Kiai Hasyim. (hlm:169).

BACA  Mempertanyakan Kebenaran Dokumen Rahasia dalam Buku “Menjerat Gus Dur”

Seiring berjalannya waktu, masyarakat sekitar pun tergerak untuk bercocok tanam. Kiai Hasyim pun mampu mendekati dan mengajak salah satu komplotan penjahat yang bernama Marto Lemu dan karena menjadi baik, banyak dari anggotanya yang berubah dan mau berganti profesi untuk bercocok tanam; untuk menggerakan ekonomi rakyat, Kiai Hasyim membuat koperasi untuk pedagang juga masyarakat Tebuireng yang bernama Syirakutl Inan li Mubarabthi Ahli al-Tujjar (hlm:197).

Selain membuat inovasi dalam bidang ekonomi, Kiai Hasyim pun membuat inovasi dalam bidang Pendidikan. Selain tetap melestarikan sistem sorogan dan bandongan, Kiai Hasyim memicu semangat kritis para santri dengan membuat sistem kelas-kelas musyawarah berdasarkan umur dan tingkat kecerdasan para santri. Selain itu pun, Kiai Hasyim memasukklan mata pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia, Matematika dan Geografi juga mengajarkan bahasa asing yaitu bahasa Belanda dan Inggris. Sejak saat itu, pondok Pesantren Tebuireng membuat madrasah Syalafiyah Syafi’iyah (Hlm:210).

Selain itu, Kiai Hasyim pun seorang kiai yang nasionalis. Dia memeiliki peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mulai dari menyusun strategi-strategi di pos-pos yang ada dan mengangkat senjata langsung ditengah-tengah perjuangan lainnya. Kiai Hasyimpun menolak milisi buatan Belanda untuk mempertahankan Nusantara dari ancaman Jepang, juga menolak sumbangan dari Belanda yang hendak diberikan ke pesantren-pesantren (hlm:326)

Saat Indonesia dikuasai Jepang, Kiai Hasyim menolak aksi Niponisasi seperti menyanyikan lagu “Kimigayo”, mengibarkan bendera Hinomaru dan melakukan seikeirei. Akibatnya, tahun 1942 Kiai Hasyim ditangkap oleh tentara Jepang yang asalnya berada di penjara Jombang, dipindahkan ke Mojokerto dan akhirnya dibawa ke Surabaya serta mendapatkan siksaan. Namun Kiai Hasyim tetap tabah dan tetap teguh pasa prinsipnya tidak serta merta tanduk pada penjajah (hlm: 341). Tidak hanya berhenti di situ, Kiai Hasyim pun melatih dan menyiapkan kader-kader Islam militan yang terdiri dari para santri untuk ikut terjun dan tergabung ke milisi Laskar Hizbullah dan Barisan Sabillah yang diketuai oleh putranya bernama Abdul Kholik. Serta meminta dengan sangat kepada masyarakat untuk bergabung bersama tentara Pembela Tanah Air (PETA) atau masuk gerkan Pandu Hisbulah Wathan milik Muhammadiyah.

BACA  Menjadi Guru Ngaji Adalah Pekerjaan Mulia Bagi Mahasiwa

Kiai Hasyim menyampaikan “bahwa mempertahankan kemerdekaan ini adalah kewajiban kita bersama, kewajiban sebagai muslim dan di sinilah keimanan kita diuji untuk mencintai negeri sendiri atau diam-diam kita menikung, lalu berkompromi dengan pihak sekutu” (hlm:406). Kiai Hasyim pun menulis buku yang berjudul al-Qanuun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama yang isinya menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam Islam dan persaudaraan sebagai masyarakat.

Membaca novel biografi setebal 562 tidaklah merasa bosan, kita akan diajak berkelana dalam beberapa masa yang berbeda, jika biasanya membaca novel biografi akan sangat membosankan dan melelahkan. Namun, ketika kita membaca buku ini akan sangat mengasyikkan dan menemukan hal-hal bermakna lainnya. Meskipun dalam beberapa bagian kita akan menemukan bahasa jawa yang sulit dipahami untuk orang-orang yang awam, namun terlepas dari itu alur yang disajikan tetap mudah diikuti.

Tanggapan Anda
Close
Social profiles