Penyakit Tak Mengenal Agama, Siapapun Bisa Terjangkit Olehnya

Di  tengah merebaknya wabah virus Corona yang terdeteksi telah menjangkit ribuan orang dan telah memakan ratusan korban di Wuhan Tiongkok, banyak sekali pihak yang menyebut bahwa tragedi ini adalah semacam  azab dari Tuhan. Banyak di antara mereka yang mengaitkan tragedi ini dengan kejadian yang menimpa Muslim Uyghur di bagian lain negara Tiongkok.

Narasi yang berkembang di media yang dimotori baik oleh personal maupun kelompok yang terindikasi kaum kagetan menyebut dengan sangat halus bahwa Kejadian Luar Biasa ini adalah bahan evaluasi bagi Tiongkok karena telah mengkarantina dan mengisolasi Muslim Uyghur secara paksa, seakan-akan tragedi ini merupakan akibat dan timbal balik dari  isu yang masih simpang siur dan sarat kepentingan tersebut.

Bak gayung menyambut, narasi-narasi semacam itu disambut baik oleh para fans (tim hore)  dan simpatisannya yang sama-sama tidak menyukai Tiongkok dan sudah kadung menstigma negara itu sebagai negara komunis, negara yang menindas Islam.

“…..kami hanya mendoakan sesama muslim, semoga terlindung dari wabah ini.”

“Mungkin ini azab atas kekejaman  mereka pada Muslim Uyghur.”

“Azab dari Allah…. Binasakanlah mereka kaum komunis…apa yang mereka lakukan terhadapa Uyghur lebih dahsyat lagi dzolim.”

Dari beberapa cuitan tersebut, jelaslah mereka bersepakat bahwa merebaknya virus Corona adalah Azab dari Tuhan yang ditimpakan kepada Tiongkok.

Hal ini sebetulnya sangat memprihatinkan,  seakan-akan yang berhak menerima penyakit dan sangat berhak disebut sebagai Azab dari Tuhan adalah ketika penyakit tersebut menimpa non-Muslim. Padahal, Allah Swt. menurunkan penyakit pasti ada obatnya, “inna likulli dain, dawaaun”, sesungguhnya setiap penyakit pasti ada obatnya. Kemudian juga bahwa kodrat manusia adalah bisa merasakan sakit, entah apa jenis penyakitnya.

Dan yang paling inti dari segala inti, penyakit tidak mengenal agama dan ideologi apapun sehingga bisa menjangkit siapapun dan dari latar belakang ideologi dan agama apapun di muka bumi ini. Bahkan dalam beberapa literatur sejarah Islam yang banyak kita baca, diceritakan bahwa pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra ditemukan wabah penyakit yang bernama tho’un atau kolera yang menimpa kaum Muslimin di negara bagian Syam (sekarang Syuriah) yang waktu itu hendak dikunjungi oleh Khalifah Umar. Tak tanggung-tanggung, penyakit tersebut mampu menewaskan banyak orang.

BACA  Tabloid Indonesia Barokah, Salah Sasaran Pemerintah Menyikapi Konsumsi Baca Masyarakat

Seketika itu, Umar pun membatalkan kunjungannya karena wabah tersebut. Lantas, apakah wabah yang menimpa kaum Muslimin saat itu pantas disebut sebagai azab? Atau kerena yang tertimpa adalah kaum Muslimin, wabah penyakit tersebut lebih pantas disebut  ujian dan cobaan sesaat? Hmm, cenderung pilih-pilih dan terkesan subjektif.

Memang betul Allah Swt. memberikan pelajaran kepada kita melalui kisah-kisah umat terdahulu yang binasa di dalam kitab suci supaya kita sadar dan mau belajar menjadi lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan yang telah terjadi. Tapi, dari kisah-kisah tersebut bukan lantas kita bisa menyimpulkan bahwa segala hal yang terjadi hari ini sebagai azab dari Tuhan. Sebab, yang berhak menentukan hal tersebut merupakan azab hanyalah Tuhan semata karena itu merupakan hak preogratifnya. Dan kita sebagai hamba, hanya bisa berhunuzan atau berprasangka baik terhadap segala hal yang telah ditentukan oleh-Nya. Wallahu’alam.                                                    

Tanggapan Anda
Close
Social profiles