Benarkah Tuhan Tidak Dapat Ditemukan secara Materialis?

Agama dan materialis merupakan dua variable yang -menurut kebanyakan orang- tidak bisa digandengkan. Agama yang dipahami sebagai dogma tidak akan pernah menggunakan materialis sebagai kendaraan berpikirnya jika tak ingin dicap sebagai kaum nakal liberalis. Materialis yang saya maksud di sini adalah metode berpikir yang mendasarkan segala sesuatu pada materi, bukan mamak-mamak sosialita yang hobi shopping.

Namun pada tulisan kali ini, saya akan mencoba menguraikan beberapa argumen bahwa agama dapat diarungi dengan kendaraan berpikir materialistik untuk menemukan Tuhan.

Manusia -menurut kalangan agamis- terdiri dari dua unsur; rohani dan jasmani. Keduanya saling melengkapi. Rohani atau ruh tidak ada artinya tanpa jasad -yang berupa materi- untuk ditempati bersemayang, ia hanya akan gentayangan tanpa bisa melakukan interaksi dengan dunia yang serba materi ini.

Demikian pula sebaliknya, jasad tak akan hidup dan bergerak melakukan aktifitas jika tidak ada ruh yang menggerakkannya. Sehingga penentu bergerak-diamnya, hidup-matinya seseorang bergantung pada ruh yang bersemayang di tubuhnya, selama ruh itu ada maka ia masih bisa bergerak dan hidup.

Sedangkan menurut kaum materialis (mereka yg mendasarkan pemikirannya pada materi), bahwa tubuh ini sepenuhnya materi. Begitu banyak materi dalam tubuh ini yang saling berinteraksi sehingga tubuh ini bisa berfungsi. Darah harus dipompa oleh jantung kemudian melewati pembuluh arteri dan vena untuk bisa tersebar ke seluruh tubuh sehingga tubuh ini bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Jika salah satu dari materi ini berhenti maka tubuh ini akan mengalami penurunan fungsi bahkan akan mati jika yang gagal itu materi utamanya, jantung.

Jadi penyebab matinya seseorang menurut kaum materialis bukan hilangnya ruh seperti yang diyakini kaum agamis, tetapi berhentinya satu materi dalam hal ini jantung. Lantas, dimanakah peran Tuhan dalam hidup matinya seseorang?

BACA  Santri Sekarang Rata-Rata Bermental Proyek

Inilah yang sering membuat kaum agamis anti dengan kata materialis -bahkan sebelum mereka mempelajarinya- karena kesannya mengesampingkan Tuhan, padahal sebenarnya menemukan Tuhan dapat ditempuh dengan jalan pikir materialistik. Bagaimana caranya?

Salah satu aliran dalam paham materialis adalah aliran materialitik mekanis, aliran yang berpaham bahwa segala materi yang ada di alam ini memiliki gerak mekanik nya masing-masing, atau gerak tunggal. Hawking mengistilahkannya dengan hukum tunggal atau hukum tetap atau hukum alam.

Hukum alam itu seperti sebuah apel yang dilempar ke atas oleh newton pasti akan jatuh ke bawah, atau sebuah kardus dari atas truk akan meluncur turun ke lantai melalui bidang miring. Hukum ini tidak akan berubah seperti apel yang tidak akan pernah tidak jatuh ke bawah ataupun kardus yang mendaki dari lantai ke atas truk karena itu akan menentang hukum alam. Terus korelasinya dengan Tuhan mana? Wait!

Sehingga orang materialis berkesimpulan bahwa segala yang terjadi di alam ini telah diatur oleh sebuah hukum yaitu hukum alam. Berhentilah Hawking pada kesimpulan ini lalu berstatement bahwa Tuhan tidak memiliki peran dalam penciptaan semesta karena keberadaan semesta ini akibat dari sebuah hukum alam yang pasti terjadi seperti apel newton yang pasti jatuh ke bawah jika dilempar ke atas.

Jika saja Hawking melanjutkan pengamatannya dan mencoba bertanya siapa yang menciptakan hukum alam ini, tentulah ia akan bersiap mengucap syahadat (ini hanya asumsi penulis). Tetapi Hawking menganggap kesimpulannya sebagai kesimpulan final dan tak mau -mungkin tak berani- melanjutkan pengamatannya, maka mari kita coba teruskan.

Dalam logika, kita dikenalkan dengan hukum kausalitas, hukum sebab-akibat. Keberadaan sesuatu karena sebuah sebab, pohon bisa tumbuh dan berbuah sebab ia ditanam.

BACA  Mengingat Jasa Besar Kiai NU Pra Deklarasi Sumpah Pemuda

Dalam logika kita juga dikenalkan dengan hukum keteraturan, setiap yang teratur pasti ada yang mengatur. Jika alam ini teratur, maka -kita asumsikan- yang mengaturnya adalah hukum alam. Dan jika hukum alam ini ada pasti ia ada karena sebuah sebab yaitu perbuatan Tuhan. Tuhan menciptakan sebuah hukum untuk mengatur alam ini, yaitu hukum tunggal atau hukum alam.

Dalam agama -Islam- kita mengenal hukum alam ini dengan istillah sunnatullah. Allah telah menetapkan sunnatullahnya di alam ini dalam kalamnya yaitu Al-Quran. Maka membaca Al-Quran sama dengan membaca hukum alam. Maka semakin sering kita mempelajari Al-Quran maka kita memehami hukum yang berlaku di alam ini.

Tanggapan Anda
Close
Social profiles