Kritik Sosial Ala Gus Mus

Kita tak mengenal Gus Mus sebagai seorang Kiai saja. Lebih dari itu, ia juga seorang penulis. Ia menulis esai, puisi, dan cerita pendek. Selain menulis, ia pun gemar melukis. Dalam puisi mbelingnya, ia bermain dengan diksi dan irama. Dalam cerita pendek, ia bermain dengan peristiwa. Dalam karya-karyanya, selalu ada pesan mendalam yang disematkan.

Gus Mus sadar, karya sastra bisa menjadi sarana baginya untuk meluangkan keluh-kesah kehidupan. Lewat karya sastra, ia juga bisa merangkul masyarakat dengan lebih dekat. Maka, terciptalah cerita-cerita pendek, puisi, esai, dan lukisan itu. Ia menuangkan kegelisahan lewat tulisan, mengabadikan pemikiran dalam karya.

Baik puisi, esai, maupun cerita pendeknya, punya napas kepenulisan yang serupa. Dalam buku Pesan Islam Sehari-hari: Memaknai Kesejukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Penerbit Laksana, 2018), ada satu esai berjudul Kesalehan Total. Esai pendek ini mempertanyakan bagaimana seharusnya kesalehan dimaknai ditengah dikotomi kesalehan ritual dan kesalehan sosial.

Konklusinya, sebagai jalan tengah, Gus Mus menekankan ayat “Udkhuluu fis silmi kaaffah” yang berarti “Masuklah ke dalam Islam secara total.” Artinya, hablumminallah dan hablumminannas mesti dilakukan dengan seimbang. Jika kesalehan ritual dan sosial dikerjakan secara maksimal, hasilnya akan menjadi kesalehan total.

Dalam bukunya yang lain, kumpulan cerita pendek berjudul Lukisan Kaligrafi (Penerbit Buku Kompas, 2003), Gus Mus menceritakan kisah seorang mubalig kondang dari kota yang datang ke sebuah kampung dan membuat geger masyarakat sekitar. Cerita pendek berjudul Mubalig Kondang. Berikut dua kutipan paragraf dalam cerita:

Si Salim dan Parman yang rajin mendatangi pengajian juga masih terus rajin merekap togel. Imron itu malah ngaji sambil nggodain cewek-cewek. Lalu apa gunanya pengajian-pengajian itu jika tak mengubah apa-apa dari perilaku masyarakat pengajian?

Mubalig kondang dari ibu kota? Apa istimewanya? Mubalig di mana-mana ya begitu itu. Cuma pinter ngomong, ngompor-ngompori, manakut-nakuti, melawak. Ngapusi masyarakat awam.

Ada pesan berlapis dalam cerita ini. Pertama, memang tak ada bedanya mubalig dari kota atau dari manapun. Kecuali ketakwaan, karya, ilmu dan akhlaknya, apalagi yang membuat seorang mubalig menjadi lebih bisa dihormati ketimbang yang lain? Kepopulerannya? Tentu tidak. Gus Mus menjawab dengan menentukan ending bahwa ternyata mubalig dari kota tersebut adalah sahabat “nakal” si tokoh utama semasa pesantren dulu.

BACA  Rekomendasi untuk Santri Setelah Lulus

Pesan kedua, Gus Mus menujukkan bahwa pengajian nampaknya hanya formalitas semata. Tokoh Salim, Parman dan Imron dalam cerita barangkali hanya sedikit contoh dari banyak orang yang rajin mengaji namun tak menerapkan hasil “ngaji”nya dalam kehidupan sehari-hari di kehidupan nyata.

Kedua pesan berseusuaian. Toh, Mubalig dari kota yang dielu-elukan itu nyatanya hanya manusia biasa yang sudah pasti pernah melakukan kesalahan. Maka, kedatangannya sebenarnya tak perlu dibesar-besarkan. Cukup dengar ceramah dan ambil ilmunya. Jika tiba-tiba menghormati dengan berlebihan tanpa pernah tahu alasan untuk menghormatinya, mengapa harus dilakukan?

Kita beranjak ke puisi. Dari sekian banyak puisi yang ditulis oleh Gus Mus, ada dua puisi cukup menarik perhatian saya. Dua puisi ini agak “mentereng” ketimbang puisi-puisinya yang lain. Dua puisi berjudul Kaum Beragama Negri Ini dan Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat menjadi sorotan lantaran ketajaman kritik sosialnya. Berikut satu cuplikan baitnya:

Kaum Beragama Negri Ini

Tuhan,

lihatlah

betapa baik kaum beragama

negeri ini

mereka terus membuatkanmu

rumah-rumah mewah

di antara gedung-gedung kota

hingga di tengah-tengah sawah

dengan kubah-kubah megah

dan menara-menara menjulang

untuk meneriakkan namaMu

menambah segan

dan keder hamba-hamba

kecil-Mu yang ingin sowan kepada-Mu.

Puisi ini menyindir masjid-masjid megah yang dibangun orang-orang untuk beribadah, menyembah Allah Swt namun justru membuat mereka semakin segan dan keder (bingung atau takut, gentar dan gemetar) sendiri. Kemegahan membuyarkan kedekatan hamba dan TuhanNya, hablumminallah jadi terasa absurd. Bukankah menyembahNya tak harus di tempat megah? Kurang lebih, keseluruhan puisi menyindir mereka yang beragama tapi tak mengutamakan logika sehingga melakukan hal-hal yang tidak substansial.

Selanjutnya, kita menengok satu lagi puisi karya Gus Mus berjudul Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat. Puisi ini, jika bisa disebut begini, adalah sindiran dari Gus Mus atas kesadaran dalam beragama. Kesadaran yang mungkin telah kita tinggalkan sejak lama. Hal yang semestinya kita lakukan namun tak dilaksanakan, bahkan tak mampir dalam pikiran.

BACA  Syekh Tholha Bin Tholabuddin ; Mursyid Tariqah Qadariyah Wan Naqsabandiyah dari Pesisir Utara

Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat

Kalau kau sibuk berkhutbah saja

Kapan kau sempat menyadari kebijakan khutbah?

Kalau kau sibuk dengan kebijakan khutbah saja

Kapan kau akan mengamalkannya?

Kalau kau sibuk berdzikir saja

Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikir?

Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja

Kapan kau kan mengenalNya?

Salah satu penafsiran yang paling memungkinkan dari dua bait potongan puisi di atas adalah bahwa apa pun yang terjadi dalam diri kita semestinya diperlakukan seperti juga iman kepada Tuhan: diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dalam perbuatan.

Jika ada pengkhutbah yang hanya sibuk berkhutbah, tanpa peduli dengan urusan yang lain, lalu kapan ia akan mengamalkan isi khutbahnya sendiri? Akankah tujuannya dalam berkhutbah tetap stagnan yakni mencari ridha Allah Swt tanpa berubah tujuan menjadi mencari uang?

Jika ada orang yang terus berdzikir tanpa melakukan hal lain dalam hidup, kapan ia akan paham tujuan dzikir itu sendiri? MengenalNya bukan semata dengan cara berdzikir saja. Kita juga bisa mengenalNya dengan mengasihi sesama, membantu orang lain, menyayangi alam dan lain sebagainya. Laku dzikir yang terus menerus tanpa diimbangi kesadaran hanya rutinitas tanpa makna.

Puisi tentu bisa ditafsirkan dengan luas, berbeda dengan Al-Quran yang hanya boleh ditafsirkan jika si penafsir sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Jika ada pembaca yang berlainan tafsir dengan saya, itu justru lebih bagus. Dalam karya sastra, beragam makna tafsiran atas sebuah karya adalah hal yang biasa.

Pilihan diksi sederhana dalam puisi-puisi Gus Mus tak melemahkan maknanya. Cerita pendek yang merakyat dan esai dengan bahasa yang mudah dimengerti justru membuat masyarakat mudah mencerna apa yang ingin disampaikannya.

BACA  Nafas Gus Dur untuk Kemanusiaan

Gus Mus terus membuktikan kepada kita bahwa seorang Kiai tidak terbatas mengurusi kehidupan beragama saja. Seorang kiai juga mesti paham bagaimana kondisi sosial masyarakat sehingga bisa memberi nasihat dengan pertimbangan yang matang, menjadi konselor bagi umat Islam. Tetaplah berkarya, Gus Mus. Teruslah mengkritik dengan caramu. Karya membuatmu abadi, tak lekang oleh zaman.

Tanggapan Anda
Close
Social profiles