Sugeng Tindak, Gus Sholah, Titip Salam Kami Buat Guru-guru

Sugeng tindak, Gus!

Duka malam ini dan hari-hari berikutnya tidak hanya menyelimuti kami sebagai Nahdliyyin, namun akan merembes dirasakan oleh semua masyarakat Bangsa ini, Gus.

Kepergian njenengan sungguh sangat cepat sebelum Muktamar beberapa saat lagi. Sosok Guru kharismatik, Guru Besar yang cahayanya terhalang cahaya lain yang lebih benderang, atau memang kami, para generasi penerus yang enggan melihat kilau njenengan lebih dekat.

Hadir menjadi bagian diantara gugusan cahaya para Guru, Kakek, Ayah, dan Kakak lantas tak membuat njenengan mengangkuhkan diri atau berteriak lantang ke sana ke mari untuk memohon apresiasi. Hanya kesederhanaan dan sikap prinsipal yang kadang disalah fahami oleh kami para penerus yang masih muda-muda ini.

Khas Kyai NU, sikap dan pandangan berbeda kala Mukhtamar dan Pilpres kemarin hanya intrik agar semua merasa terayomi, sekaligus bekal bagi kami yang muda-muda untuk bertarung ikhlas dan belajar menghargai perbedaan pandangan yang sebenarnya.

Kalaupun njenengan terpaksa muncul di kanal-kanal media dengan berbagai saran dan nasihat, pasti hanya ditujukan sebagai rasa kasih sayang dan perasaan rindu njenengan kepada Nahdliyin.

Biarpun besar dan ramainya orang-orang membincang NU, njenengan tetap konsisten merawat santri-santri dengan penuh kasih sayang, bertatap muka dan berkeluh kesah bersama Kyai-kyai di pedesaan, bersafari tanpa pakaian dinas berkunjung ke beberapa pesantren, membuka pintu bagi mereka yang hendak sowan demi kepentingan ataupun sekedar ngalap berkah. Kesederhanaan yang justru kami lupakan sebagai penerus jam’iyah besar ini.

Kami terlalu sibuk bergelut membincang isu politik dan keagamaan, atau membicarakan kolaborasi tentang sebuah konsep seremonial, bergelut pada teori dan konspirasi jahat yang radikal, serta lobi-lobi demi sebuah jabatan yang katanya penting sebagai bentuk perjuangan dan eksistensi.

BACA  Era Digital Adalah Eranya Anak-Anak NU

Doakan kami yang muda-muda ini, Gus. Semoga kuat mengemban tanggungjawab sebagai penerus Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang kata njenengan adalah pengertian, ulama, pesantren, dan organisasi.

Sikap kemasyarakatan yang berasaskan 4 aspek yang njenengan dan Guru-guru amanatkan akan senantiasa kami pegang. Sikap tawasuth (sikap tengah) dan i’tidal (berbuat adil), tasamuh (toleran terhadap perbedaan pandangan), serta tawazun (seimbang dalam berkhidmat kepada Tuhan, masyarakat, dan sesama manusia) serta tentu saja mencintai tanah air menjadi jalan tarekat kami.

Kami juga akan lebih giat lagi membangun citra pesantren seperti kata njenengan, NU didirikan para ulama dan disebarkan oleh santri di ribuan pesantren. NU adalah pesantren besar, dan pesantren adalah NU kecil. Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Nusantara, memberikan sumbangsih besar dalam upaya mencerdaskan bangsa, memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan. Namun, kata njenengan, perhatian pemerintah belum sebanding dengan peran pesantren.

Kami juga akan membangun komunikasi yang arif dan bijak diantara para sarjana kami seperti kata njenengan bahwa warga NU alumnus pesantren sudah banyak yang belajar di universitas ternama di banyak negara Barat, tidak hanya di Timur Tengah, maka munculah perbedaan penafsiran ajaran Islam.

Oleh sebab itu, kami akan lebih sering duduk bersama agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di antara kami.

Terakhir, titip salam kami semua kepada para Guru-guru, Gus.

NU kini telah menjadi organisasi besar dengan puluhan juta pengikut secara kultural. NU kini memiliki banyak lembaga pendidikan, konsen terhadap isu lain di luar isu agama dan kemanusiaan, mampu menjalin hubungan baik dengan banyak lembaga dalam skala nasional maupun internasional.

Titipkan salam kami. Dari dulu sampai sekarang juga masih banyak yang bandel, yang hanya menjadi penumpang gelap untuk sekedar meraih untung dan kenyang sendiri. Membawa marwah NU dan Para Kyai hanya untuk panggung kekuasaan duniawi.

BACA  Kritik Sosial Ala Gus Mus

Tolong laporkan pula kepada para Guru, Gus. Selain memiliki banyak teman, NU juga tidak disenangi dan menjadi incaran kelompok-kelompok yang ingin membubarkan organisasi kramat ini dengan segala tipu daya dan adu domba.

Sugeng tindak, Kyai.

Tanggapan Anda
Close
Social profiles