Untuk Apa Belajar Mantiq?

  • Whatsapp

Mantiq merupakan salah satu ilmu alat sebagaimana nahwu dan sharf. Dengannya, kita gunakan untuk menbedah ilmu-ilmu lain. Seperti untuk memahami tafsir atau ilmu kalam, kita membutuhkan mantiq sebagai pisau analisis. Oleh karenanya, sangat disayangkan ketika kita hanya berhenti pada menghafal kaidah-kaidah mantiq tanpa tahu implementasinya. Di sini, saya akan memberikan contoh implemetasi satu kaidah mantiq. Sehingga mantiq tidak lagi dikata membincang hal absurd yang hanya berputar-putar di pikiran.

Untuk sampai ke sana, saya akan menyuguhkan sebuah kasus. Berangkat dari pertanyaan, legalkah jika sebuah judul tulisan tidak menggambarkan keseluruhan dari isi tulisan tersebut? Bagi pegandrung literasi, pasti manjadi hal biasa ketika judul tulisannya dikritik karena tidak menggambarkan keseluruhan isi, atau judul terlalu umum dari isi. Misalnya, sebuah berita yang disajikan dengan judul “Jakarta Sering Banjir, Indonesia Pindahkan Ibu Kota”. Dengan judul tersebut, saya kira akan banyak pembaca yang berasumsi bahwa Indonesia berpindah Ibu kota karena Jakarta sering banjir. Tentu asumsi tersebut tidak selaras dengan maksud isi berita. Sebelum kita lanjut, mari kita membaca ulang bab dilalah  dalam mantiq. Objek pembahasan di mantiq hanya pada dilalah lafdziyyah wadh’iyyah, yang kemudian terbagi menjadi tiga.

Read More

Pertama, dilalah muthabaqah, di mana ketika mengetahui sesuatu, kita akan menggambarkannya secara keseluruhan. Seperti kata ‘rumah’, yang mengantarkan kita pada gambaran rumah seutuhnya, dari atap sampai pondasinya. Berbeda dengan dilalah tadhommun. Ia mengantarkan kita pada pemahaman juz’iyyah dari suatu hal. Sebagaimana kata ‘rumah’ yang darinya muncul penggambaran hal-hal partikular, seperti dapur. Ketika kita memanggil tukang untuk membenahi rumah, maka bukan seisi rumah yang dibenahi, melainkan hanya bagian tertentu. Terakhir, dilalah iltizâm. Ia menunjukkan pada sesuatu di luar kata tersebut. Sebagaimana kata ‘rumah’ yang kita pahami sebagai tempat tempat berkumpul bersama keluarga.

BACA  Mengenal Tuan Guru Hasanain, Kyai Sekaligus Aktivis Lingkungan Hidup

Kemudian, ketiga dilalah ini memiliki keterikatan kuat. Bahwa, dilalah tadhommun dan dilalah iltizâm pasti mengandaikan dilalah muthâbaqah. Misalnya, ketika kita melihat seseorang sedang melakukan gerakan rukuk. Lalu, kita menyatakan bahwa dia sedang sholat. Benar, bahwa rukuk merupakan dilalah tadhammun dari sholat. Titik tekannya adalah, bahwa ketika kita menyatakan orang yang rukuk itu sedang sholat, maka seketika juga kita mengandaikan bentuk sholat secara utuh—niat hingga salam. Tanpa memiliki pengetahuan tentang sholat secara utuh, kita tidak mampu menyimpulkan bahwa orang yang rukuk tersebut sedang sholat. Sehingga dalam kaidahnya, menarik hal-hal partikular (tadhammun) selalu bertumpu pada pengetahuan utuh akan hal tersebut (muthâbaqah).

Di bagian inilah kita gunakan untuk memecahkan pertanyaan di atas, legalkah jika sebuah judul tulisan tidak menggambarkan keseluruhan dari isi tulisan?Dalam KBBI, judul merupakan nama yang dipakai untuk buku atau bab yang dapat menyiratkan secara pendek isi atau maksud buku atau bab itu. Dari sini, saya katakan bahwa judul merupakan hasil atau bentuk dilalah tadhammun dari sebuah tulisan. Sedangkan dilalah muthâbaqah ada pada keseluruhan isi tulisan tersebut. Sehingga, sah dan legal jika sebuah judul hanya menarik fakta-fakta partikular dari keseluruhan isi tulisan. Seperti judul di atas, “Jakarta Sering Banjir, Indonesia Pindahkan Ibukota”. Judul semacam ini legal, asalkan di dalam isinya tercantum fakta bahwa Jakarta sering banjir dan fakta bahwa Indonesia mewacanakan perpindahan Ibu kota.

Lalu, bagaimana jadinya jika judul tersebut dikatakan provokatif, membuat pembaca berasumsi negatif bahwa perpindahan tersebut karena Jakarta yang sering banjir? Pertanyaan semacam ini, akan saya jawab balik dengan pertanyaan; siapa yang mengatakan bahwa kita bisa berasumsi hanya berdasar pada judul? Sudah jelas bahwa judul hanya menyiratkan partikular dari keseluruhan isi berita. Untuk berasumsi, perlu pembacaan secara utuh (muthâbaqah), bukan pembacaan judul saja yang ia hanya bentuk dari dilalah tadhommun. Tentu asumsi tersebut tidak selaras dengan isi berita, karena memang pijakannya tidak benar. Sebagaimana ulasan di atas, bahwa dilalah tadhammun pasti mengandaikan dilalah muthâbaqah. Sehingga, bukan judul tersebut yang seyogyanya disangsikan, melainkan pembaca yang berasumsi hanya dengan pembacaan judul, tanpa mengetahui keseluruhan isi berita.

BACA  Tak Ada Paksaan Ikut Fatwa

Mungkin, sebagian pembaca tidak sependapat dengan saya, menyangsikan pelegalan judul tulisan semacam di atas. Tulisan ini merupakan usaha saya untuk menbedah satu dari sekian banyak kaidah mantiq. Kaidah mantiq lho, bukan sesuatu yang saya ada-adakan. Dan perlu diingat, menyangsikan pelegalan judul tulisan seperti di atas (tidak menganggambarkan keseluruhan tulisan) sama halnya menyangsikan keabsahan penamaan surat-surat di dalam al-Quran. Apakah kita akan menyangsikan Tuhan karena isi surat al-Baqarah tidak semuanya membahas sapi? Yang mesti kita sangsikan justru mereka yang beranggapan bahwa nama surat selalu menggambarkan isi keseluruhan surat tersebut. Tabik!

Tanggapan Anda

Related posts