Diskusi dengan KH Ali Yafie

  • Whatsapp

Hari ini, sabtu, 01.02.20, aku bahagia, karena bisa silaturahim dan besuk ke al-‘Alim al-‘Allamah Kiyai Ali Yafi di rumahnya, di Bintaro. Beliau masih “gerah”. Tetapi menyambut kami dengan ceria. Kami didampingi putranya, sahabat kami bang Helmy Ali Yafi.

Aku bertanya kepadanya, berapa usia ayah? Katanya 94, jika dihitung kalender Masehi dan 97 jika kalender Hijriah. Aku bertanya, apa resep awet sehat beliau. Katanya: beliau senang membaca dan berpikir positif: membaca al-Qur’an dan kitab kuning. Ya Salam. Aku mengangguk. Beliau mendengarkan dengan penuh.

Read More

Nah. Ini kesempatan baik bagiku untuk bertanya banyak hal. Kyai belakangan ada istilah  keagamaan Islam yang makin populer di kalangan intelektual/sarjana Islam progresif. Yaitu Maqashid al-Syari’ah (tujuan hukum agama). Ini dipopulerkan oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya “Al-Mustahfa min ‘Ilm al-Ushul”. Al-Imam menyebutnya “Al-Kulliyat al-Khams” (Lima hak dasar). Yaitu Hifzh al-Din (perlindungan keyakinan), Hifzh al-Nafs (Perlindungan jiwa/hidup), hifzh al-‘Aql (perlindungan hak berpikir), hifzh al-Nasl (perlindungan berketurunan) dan hifzh al-Mal (perlindungan hak milik). Begitu urutan Imam al-Ghazali.Bagaimana urutan ini menurut kyai?

“Hifzh al-Nafs (hak hidup) itu urutan pertama”, jawab beliau.

Aku tertawa senang, karena sama dengan pikiranku.”

Mengapa hifzh al-Din tidak didahulukan?

“Ya karena orang bergama itu harus orang hidup,” katanya

Aku tertawa senang lagi.

Jadi hifzh al-Din diletakkan di mana? Aku mengejar

“Terakhir”.

Wouw, Subhanallah

Mengapa?

“Agama melindungi semua hak itu,” kata beliau.

Dan aku terpana. Luar biasa cerdas dan progresif beliau ini.

https://www.facebook.com/husayn.muhammad
Tanggapan Anda

Related posts