Apa NU Menghapus kata “Kafir”?

Kesalah-pahaman atas putusan Munas NU agar kita tak menyebut kafir terhadap non-muslim di Indonesia masih terjadi. Padahal Munas NU yang memutuskan perkara itu sudah berlangsung setahun lalu.

Kemarin dalam sebuah simposium di Jakarta kesalah-pahaman itu terjadi lagi. Ada yang menyangka bahwa NU mau menghapus nomenklatur kafir dalam nash Islam.

Rupanya banyak orang yang tak bisa membedakan antara meninggalkan nash (tarku al-nushush) dan tak menerapkan nash (ghairu tathbiq al-nushush). Antara menghapus kata kafir dan tidak menerapkan kata kafir.

Munas NU di Banjar Jawa Barat tahun lalu itu tidak berkesimpulan untuk menghapus kata kafir. Kata kafir itu akan tetap ada, bukan hanya dalam Qur’an dan Hadits melainkan juga dalam kitab-kitab yang dibaca para santri di pesantrem.

Menghapus kata kafir bukan kesimpulan Munas NU. Kesimpulan Munas NU adalah tidak menerapkan kata kafir terhadap non-muslim di Indonesia karena dalam pandangan NU mereka tak memenuhi kualifikasi sebagai kafir dzimmi, musta’man, mu’ahad, dan harbi.

Dengan perkataan lain yang lebih teoritis-akademis, keputusan tidak menggunakan kata kafir terhadap non-muslim di Indonesia itu diambil melalui mekanisme “al-ijtihad bi tahqiq al-manath” bukan “al-ijtihad bi takhrij al manath”.

Sekian, Wallahu ‘alam.

Tanggapan Anda
Close
Social profiles