Keluar dari Circle Nahdlatul Ulama, Mau Jadi Apa?

  • Whatsapp

Meski tak berasal dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) tulen, secara kultural, saya adalah Nahdliyyin. Sewaktu kecil, sekitar kelas tiga sekolah dasar, saya melihat lambang NU dipasang di tembok Musholla keluarga.

Menariknya, bingkai lambang itu tidak dipaku sejajar dengan bingkai tulisan Arab Allah Swt. dan Muhammad Saw. Lambang NU dipaku tepat di tengah, berada di atas tulisan Tuhan dan Nabi umat Islam. Saat itu, saya terheran-heran. Hari ini, saya hanya tersenyum sendirian.

Read More

Meski lahir di lingkungan NU, saya bersekolah di Muhammadiyah. Mungkin lantaran di kota saya tak ada sekolah NU dengan jurusan farmasi. Di masa-masa sekolah, saya jadi berkepribadian Muhammadiyah banget. Ikut shalat Jumat bersama para lelaki di masjid, tak melaksanakan kunut saat shalat Subuh dan merasa mendapat pencerahan dari Tuhan. Hingga suatu hari, salah satu tante dari pihak Mama gemas dengan perubahan cara beribadah dan berpikir saya, lalu tiba-tiba menyodorkan buku biografi KH. Hasyim Asy’ari.

Saya mafhum, tindakan tante adalah dorongan dari keluarga besar yang memang sangat NU banget. Adik kakek saya misalnya, adalah seorang anggota Banser yang bangga mengenakan seragamnya di acara-acara keluarga. Di grup keluarga besar, link dan gambar yang dibagikan melulu soal NU. Tak heran, jika ada anggota keluarga yang keluar dari koridor ke-NU-an, seluruh anggota keluarga akan melahap habis pemberontakan ideologi yang dilakukan.

Meski begitu, buku itu tak segera saya baca. Setelah tahu kisah hidup KH. Ahmad Dahlan dari pelajaran di sekolah, saya merasa belum tertarik untuk membaca kisah hidup KH. Hasyim Asy’ari. Maka, saya biarkan buku itu tergeletak di atas lemari, tak tersentuh sama sekali. Entah kenapa, pihak keluarga justru marah dengan tindakan saya. Mereka beralasan bahwa saya telah mengkhianati ajaran keluarga dan melupakan tradisi yang ada. Saya mencoba melawan, tapi kalah suara.

BACA  Kritik Sosial Ala Gus Mus

Saya pikir, penghakiman ini akan selesai sampai di situ. Setelah menjalankan masa kuliah di UIN Jakarta, saya merasakan dampak “kekuatan massa” itu lagi. Dalam kampus, para mahasiswa terbagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok paling dominan tentu saja dari bendera hijau, biru, dan merah (tak perlu dijelaskan apa artinya, bukan?). Satu waktu, saya terlibat obrolan serius dengan salah satu pegiat organisasi yang juga seorang Nahdliyyin tulen.

Teman saya, sebut saja Mawar, mengeluh tak punya uang. Saya memberi solusi dengan menjelaskan pelbagai macam pekerjaan yang bisa dilakukan sembari berkuliah dan di mana saja ia bisa mendapatkan pekerjaan itu. Mawar hanya diam. Ia justru menjawab dengan enteng, katanya, karena ia tak terlalu dekat dengan senior dan junior di organisasi yang ia geluti, jadi tak dapat banyak proyek. Saat Mawar mengatakan itu, saya sebenarnya tak begitu terkejut.

Di awal semester, saat memutuskan untuk tidak mengikuti organisasi apa pun, Mawar adalah salah satu orang yang menyayangkan keputusan saya. Ia bilang, lantaran berasal dari lingkungan NU, ia harus ikut organisasi mahasiswa yang juga berada dalam naungan NU. Saat ditanya kenapa, ia menjawab bahwa relasi adalah yang paling utama. Sebab, relasi bisa membuka pintu rezeki.

Saya balas menjawab, menekankan padanya bahwa kemampuan adalah segalanya. “Sekali kau menemukan passion, jatuh cinta pada passionmu dan menekuninya, rezeki akan datang dengan sendirinya.” Tapi Mawar kekeuh. Ia tetap lebih mementingkan relasi ketimbang kemampuan diri sendiri. Hasilnya, saya kerap menemukan Mawar termenung sendirian saat mengulang mata kuliah di pojok ruangan kelas.

Di tengah obrolan, satu pertanyaan muncul dalam benak saya. Apakah mungkin Mawar bisa bertahan hidup jika keluar dari lingkungannya, terpisah dari lingkaran yang selama ini menaunginya? Tentu saja saya tak tahu jawabannya. Tapi, jika saja Mawar mau keluar dari circle NU dan mau mengasah kemampuannya, mungkin nasib baik bisa berpihak padanya. Ia bisa melakukan banyak pekerjaan sesuai dengan kemampuannya, bukan karena aji mumpung berada dalam satu organisasi tertentu dan mendapat jatah proyek dari senior.

BACA  Era Digital Adalah Eranya Anak-Anak NU

Karena penasaran, akhirnya saya pun bertanya pada Mawar, “bagaimana kalau kamu keluar dari circle NU-mu itu. Coba kamu lihat dunia lebih luas lagi. Ada banyak hal belum terjangkau tanganmu, belum terinjak kakimu.” Di luar dugaan, Mawar malah menjawab sambil garuk-garuk kepala, “keluar dari circle NU? Mau jadi apa saya nanti?” Jawaban itu membuat saya segera meninggalkan Mawar. Saya tak sanggup lagi mendengarkan ucapannya.

Peristiwa ini mengingatkan saya pada penghakiman keluarga saat saya berubah menjadi seseorang yang Muhammadiyah banget. Seluruh keluarga yang menghakimi tak mau bicara empat mata dengan saya. Mereka selalu mencari momen tertentu di mana selalu ada anggota keluarga lain yang bisa membela dan mendukungnya. Bekingan, istilah zaman now. Saya menduga, jangan-jangan, tak ada seorang pun dari seluruh anggota keluarga saya—yang NU banget itu—yang mau mengobrol dengan saya, berdiskusi tentang perbedaan pendapat di tubuh NU dan Muhammadiyah. Tapi mungkin, mereka hanya malas berdiskusi dengan saya. Ah, entahlah. Saya tak mau berspekulasi tanpa bukti.

Saya lantas menduga, mungkin Mawar memang tak bisa hidup tanpa berada dalam perkumpulan. Atau juga, mungkin, Mawar sudah terlalu nyaman lantaran telah mendapat begitu banyak kemudahan? Ah, entahlah (lagi). Coba saja kau tanya sendiri pada si Mawar. Atau pada dirimu sendiri, atau pada kawan-kawanmu yang barangkali tahu persis jawabannya.

Tanggapan Anda

Related posts