KH. Habibullah Zaini dan Thoriqoh Ta’lim wa Ta’allum

(Catatan kecil malam pertama kepergian KH. Habibullah Zaini, Lirboyo)

Thoriqoh (tarekat) “Ta’lim wa Ta’allum” tidak setenar thoriqoh “Qodiriyyah wa Naqsabandiyah”, “Syadziliyyah”, dan thoriqoh lainnya. Thoriqoh “Ta’lim wa Ta’alum” adalah thoriqoh yang diajarkan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Thoriqoh ini mengajarkan laku untuk selalu belajar dan mengajar. Begitulah ketika kita lihat makna harfiahnya.

Istilah thoriqoh “Ta’lim wa Ta’alum” bisa kita temukan secara spesifik dalam kitab Syarah Ta’lim Muta’alim. Menurut Syaikh Ibrahim bin Ismail, penulis kita tersebut, menyebutkan dengan redaksi: “afdhalu al-thariqah, thariqah ta’lim wa ta’allum”, lebih utama-utama thariqah adalah thariqah ta’lim wa ta’allum.
Semangat untuk selalu belajar dan mengajar adalah diantara dari sekian pesan pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim.

Konsistensi ini dilanjutkan oleh anak keturunan Mbah Manab, Manab adalah nama kecil KH. Abdul Karim, dalam mengelola pondok Lirboyo. Tidak heran, ketika para alumni sowan (silaturrahmi) ke kediaman para masyayikh, pertanyaan wajibnya adalah “sekarang ngajar apa?”. Bahkan, pelanggaran paling tidak disukai oleh para pengasuh adalah ketika ada santri yang tidak mau mengaji.

Dalam berbagai kesempatan, KH. Anwar Manshur, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, selalu menyampaikan, kalau santri berpuasa sunnah tetapi malas untuk belajar, maka justru puasanya bukan termasuk ibadah malah dosa. Menurut beliau, belajar adalah wajib, sementara sesuatu yang wajib tidak bisa ditinggalkan hanya karena sesuatu yang sunnah.

Ilmu adalah kunci utama, baik dalam membangun peradaban bangsa maupun Islam. Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Asad Syahab dalam kitab “Al-’Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari: Wadhi’ Lubnati Istiqlali Indunisi”, menyebutkan : “lâ khaira fî ummatin idzâ kâna abnâuhâ juhalâ, walâ tashluhu ummatun illa bi al-’ilmi”, tidak ada harapan bagus bagi sebuah bangsa apabila generasinya bodoh-bodoh, dan tidak bisa membenahi sebuah bangsa kecuali dengan ilmu.

BACA  Perjalanan Panjang Modernitas Pesantren

KH. Habibullah Zaini adalah cerminan sosok kiai yang teguh menjalankan thoriqah “Ta’lim wa Ta’allum” ini. Tidak ada istilah untuk berhenti belajar dan mengajar. Meskipun dalam keadaan sakit, KH. Habibullah tetap setia untuk membacakan beberapa kitab kepada santri-santrinya. Bahkan, KH. Habibullah masih setia mengikuti pengajian kitab “al-Hikam”, karya spiritulis terkenal, Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, setiap Kamis Legi. Laku mulia ini, beliau lakukan bukan satu kali atau dua kali. Ketekunan belajar dan mengajar beliau menjadi pelajaran penting bagi santri dan alumni pada khususnya dan umat Islam pada umumnya.

Ketika KH. Habibullah membuka pengajian kitab diluar jam sekolah, seperti ketika pertengahan bulan Sya’ban dan bulan maulud (Rabiul Awwal), hampir hari-harinya dihabiskan untuk mengaji. Dari pagi hingga malam hari. Ada waktu istirahatnya memang. Tapi bisa dihitung. Bahkan, ketika mengaji, beliau harus berdiri karena menahan kantuk yang mulai menyerangnya. Istilah kasarnya, waktunya mengaji ya harus ngaji, kalau mengantuk ya harus dilawan bukan dimanjakan.

Laku belajar dan mengajar beliau lakukan tanpa kenal usia. Sakit, ngantuk, usia lanjut, bukan alasan untuk berhenti belajar dan mengajar. Ilmu seperti telah menyatu dan mengalir bersama aliran darah pada diri KH. Habibullah Zaini. Beliau adalah suri tauladan. Beliau adalah sosok guru, orang tua, murabbi ruh, yang tidak hanya berkata, tetapi beliau terapkan dalam sikap dan tindakan.

Pada malam pertama sepeninggal KH. Habibullah Zaini, iringan doa dan hadiah bacaan kalimat thayyibah, bersenandung silih berganti. Semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Bersenandung bersama para kekasih-Nya. Kami diakui sebagai santrinya. Keluarga dan santri-santrinya diberi keteguhan dan kekuatan untuk melebarkan perjuangan beliau.

الى حضرة النبي المصطفى والى حضرة الشيخ حبيب الله زيني الحاج، الفاتحة.

Tanggapan Anda
Close
Social profiles