Bajing Loncat Mana yang Menyebabkan AIS Nusantara Ambyar?

  • Whatsapp

Kabar pamitnya AIS Nusantara sebagai media yang lantang mewartakan dunia kesantrian kepada khalayak umum, sekaligus menyuarakan nilai-nilai keislaman yang santun, sontak menjadi kabar yang begitu ambyar.

AIS bukan hanya wadah yang mampu menyatukan para santri agar dapat bertatap muka dan saling mengenal, lebih dari itu, AIS adalah media besar yang telah dikenal banyak orang, media yang memiliki banyak followers yang siap digerakkan memenuhi undangan kementerian serta pesanan, eh, maksudnya para misionaris yang siap sedia menjadi tameng pengarusutamaan Islam yang ramah.

Jelas ini adalah kabar buruk dan sangat menyedihkan, mengingat kita masih membutuhkan AIS, paling tidak sebagai batu loncatan karir politik dan kepentingan, eh maksudnya media dakwah penyebar kedamaian dan persatuan.

Saya sendiri tidak begitu faham, AIS adalah milik pribadi atau memang berdiri sebagai organisasi. Berdiri sebagai Admin Instagram Santri atau komunitas yang dirawat penuh keikhlasan sebagai Arus Informasi Santri. Sarana silaturahmi dan kelompok diskusi perihal dunia kesantrian atau ajang eksistensi unjuk banyak pasukan.

Pastinya nama besar AIS Nusantara bisa secemerlang dan setenar ini berkat ditopang dengan visi-misi serta tujuan awal berdiri yang tentunya sangat baik, dan tentunya banyak andil keringat yang terkuras, inovasi fikir yang cemerlang, dan kerelaan bersama secara ikhlas.

Kalau AIS Nusantara berdiri atas nama pribadi, ketidak mampuan untuk mengendalikan para anggota sebenarnya bisa disikapi dengan memberikan teguran langsung secara keras.

Bila berdiri sebagai organisasi, permasalahan internal yang terjadi di AIS seharusnya dapat dengan mudah diselesaikan dengan manajemen konflik yang baik, bukan dengan cara berpamitan atau justru membubarkan diri.

Bila AIS berdiri sebagai komunitas yang hanya bergerak di ranah media sosial dan regional, seharusnya tidak perlu pemantik yang begitu dalam dan tidak perlu ikut berpamitan bukan, karena tiap regional tentu memiliki sikap dan cara pandangnya masing-masing.

Bila AIS hadir sebagai ajang silaturahmi dan kelompok diskusi perihal dunia kesantrian, seharusnya hal ini dibicarakan dengan cara duduk bersama. Tidak perlu diekspos dan dibesar-besarkan.

Akan tetapi, saya yakin, alasan pamitnya AIS Nusantara bukan hanya masalah ketidak mampuan organisasi menangani konflik internal dalam sebuah komunitas atau organisasi.

Visi-misi dan tujuan baik pendirian awal, kini telah berubah menjadi visi-misi serta tujuan pribadi yang pragmatis serta merugikan yang lain. Tidak ada lagi keringat yang bercucur deras karena kemapanan yang telah diperoleh. Inovasi sudah tidak secemerlang dulu, mandek karena tersumbat pola fikir keuntungan apa yang bakal didapat. Keikhlasan pudar sebab AIS hanya dijadikan pijakan dalam memeroleh kepentingan.

Atau mungkin saja sebab sebagian anggotanya kini sudah sibuk keluar masuk istana dan kantor-kantor instansi pemerintahan, sibuk mengatur loby dan strategi, sedangkan para anggotanya yang masih berharap lebih dalam berproses mulai pusing mencanangkan program untuk kemajuan komunitas dan memberi manfaat terhadap sesama anggota.

Jelas ini bukan hal yang adil, apalagi kalau ternyata para pendiri dan inisiator lain yang enggan muncul ke permukaan sama sekali tidak menginginkan idenya dijadikan loncatan.

Ini bukan soal bagi-bagi kue jabatan dan kesejahteraan, lebih daripada itu, ada hati yang penuh keikhlasan serta keresahan untuk memberikan hal lebih, dikhianati dengan bentuk keangkuhan demi sebuah kepentingan.

Sekelas media santri dengan ratusan ribu anggota, membubarkan diri adalah hal yang paling lemah dan memalukan.

Lambang di dada harusnya lebih besar daripada nama dipunggung. Marwah organisasi harusnya menjadi harga mati tanpa harus takut ancaman dari satu-dua nama pembina, koordinator, atau anggota yang memiliki power.

Bongkar saja orang-orang yang hanya memanfaatkan AIS. Masih banyak kok anggota-anggota AIS lainnya yang menginginkan perubahan. Rombak dan renovasi demi kemajuan bersama. Lanjutkan pengabdian dan kreativitas untuk menyuarakan hal-hal yang baik.

Soal kontribusi?, maaf, kontribusi AIS demi kemajuan pesantren masih kurang. Oleh karena itu, kita semua masih sangat membutuhkan AIS untuk bersama-sama memajukan pesantren serta menginisiasi dakwah Islam yang ramah.

Duduk bersama sepertinya menjadi solusi terbaik atas permasalahan ini. Kopdar-kopdar AIS yang begitu prestisius seharusnya cukup untuk menyelesaikan konflik dan menata ulang tujuan bersama. Ada visi-misi besar yang harus didahulukan demi cita-cita mulia daripada menanggapi dendam yang bercampur dengan sikap kepasrahan dan kecil hati, apalagi hanya bersumber dari satu-dua orang.

Tanggapan Anda

Related posts