Mengunjungi Taman Bunga Gus Mus

  • Whatsapp

Judul : Pesan Islam Sehari-hari Memaknai Kesejukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Penulis : A. Mustofa Bisri (Gus Mus)
Penerbit : Laksana
Cetakan : Pertama, 2018
Tebal : 336 halaman
ISBN : 978-602-407-443-2

Read More

Buku bersampul putih. Cetakan terdahulu, tahun 1997, sederhana saja, hanya ada tulisan judul buku dan sebuah objek kecil serupa kertas kado bermotif hati dan lakban kecil mengganggu di sampingnya. Dalam cetakan terbaru, wajah Mustofa Bisri (selanjutnya akan ditulis Gus Mus saja) muncul dalam kaver dengan posisi miring agak mendongak ke atas, berkacamata dan berpeci hitam. Wajahnya teduh. Senyum kecil merekah di bibirnya, matanya memandang dengan optimis. Rambut yang sudah berubah jadi rimbun uban menaungi wajah teduh itu.

Keseluruhan tulisan berbentuk esai dalam buku ini berjumlah 56, terbagi menjadi tiga bagian. Ada 16 esai dalam bagian pertama yang diberi judul Fenomena Kekuasaan, Kehidupan, dan Politik. Dalam bagian ini, Gus Mus menulis tentang kehidupan beragama di kampung-kampung pada masa akhir Orde Baru dan awal reformasi. Ada nasihat soal memilih sekolah Taman Kanan-kanak hingga tentang makna kekuasaan. Meski menyampaikan hal-hal berat, Gus Mus menulis dengan bahasa yang ringan.

Yang menarik dari bagian pertama ini adalah Gus Mus menciptakan tokoh-tokoh fiktif, mungkin representasi dari tokoh asli di kehidupan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam esai berjudul Peluang Para Kontestan Pemilu (hal. 43) misalnya, ada tokoh bernama Kang Kimin yang menjadi tokoh utama, seseorang yang dianggap masyarakat sebagai orang yang paling tahu, menjadi rujukan masyarakat dalam menghadapi persoalan-persoalan kehidupan.

BACA  Tiga Alasan Kenapa Kader IPPNU Harus Punya Banyak Keturunan

Bagian kedua, berjudul Perilaku Kiai dan Perilaku Umat. Ada 17 esai dalam bab kedua ini yang membahas tentang Kiai. Mulai dari pembahasan Tablig Akbar dan Pagelaran seni yang pernah digelar oleh Rhoma Irama, Setiawan Djody, Zainuddin M.Z dan WS. Rendra, hingga persoalan pahala memberikan pinjaman dalam esai berjudul Memberi Pinjaman (hal. 219). Dalam bagian kedua ini, esai berjudul Perempuan dan Kesalehan (hal. 214) adalah yang paling menarik.

Gus Mus mengawali esai tersebut dengan merespons keadaan saat itu (mungkin di rentang tahun 90an, sebelum atau tepat pada tahun 1997). Ia memaparkan tren di kalangan muslimah yang mencantumkan nukilan ayat 21 dalam surat ar-Ruum dalam undangan pernikahan. Terjemahan yang dipakai Departemen Agama (Depag) nampaknya membuat kaum feminis merasa terpojokkan atas dominasi laki-laki dalam terjemahan ayat tersebut.

Gus Mus melanjutkan tulisan dengan pembahasan tentang pilihan menjadi wanita karir dan ibu rumah tangga. Menjelang akhir tulisan, ia menekan satu alinea berikut: wanita muslim, seperti juga pria muslim, mempunyai miqyas, ukuran kepatutannya sendiri sesuai dengan pedoman yang dimilikinya. Ia menghargai pilihan setiap orang—baik Muslimah maupun Muslim—untuk memilih keyakinan seperti apa yang akan dijalani dalam hidupnya.

Seperti sebagian besar esainya yang lain, Gus Mus juga menutup tulisan ini dengan satu “pengingat” yang bersumber dari Alquran yakni Surat al-Hujurat Ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

BACA  Empat Rekomendasi Brand Sarung untuk Santri

Gus Mus mengingatkan pada kita bahwa apa pun pilihan yang diambil, baik menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga, Allah Swt sesungguhnya telah mengingatkan kepada kita bahwa bukan pilihan itu yang membuat kedudukan seseorang mulia di hadapan Allah Swt, melainkan ketakwannya. Maka, berbeda pilihan seharusnya tidak menjadi masalah.

Bagian ketiga dengan judul Allah, Nabi, dan Makna Ibadat. Gus Mus membahas hablumminallah dan hablumminannas dalam 23 esai pada bab terakhir, hal yang seharusnya menjadi pijakan utama umat Islam dalam beragama. Puluhan esai ini mengupas lima rukun Islam yakni syahadat, shalat, zakat, puasa, haji hingga konsep kesalehan Gus Mus yang paling terkenal: saleh ritual dan saleh sosial, menjadi kesalehan total.

Gus Mus, nampaknya mengembuskan satu napas serupa dalam tiap tulisannya: pluralitas. Ia juga mengajak pembacanya untuk beramar ma’ruf nahi munkar degan sejuk dan damai, tanpa kekerasan. Ia pun merekatkan tiap tulisan dengan konteks sosio-politik yang ada, sehingga tulisannya adalah gambaran dari fenomena yang terjadi pada zamannya.

Keberagaman tulisan dalam buku ini bersesuaian dengan pengantar buku ini yang berjudul Taman Bunga Perenungan Seorang Kiai, ditulis oleh Mohamad Sobary, seorang budayawan. Ia melihat ada begitu banyak warna-warni bunga mekar di taman bunga Gus Mus, menunjukkan bahwa dalam tiap kumpulan tulisan Gus Mus ada warna-warni persoalan yang dibahas.

Taman bunga Gus Mus tak berhenti di buku ini saja. Lantaran keprihatiannya atas kebebasan pers yang sangat tidak terkendali pasca Orde Baru tumbang, Gus Mus menjaga kewarasan dan kepeduliannya lewat media massa yang melahirkan konsep Mata Air yang terwujud dalam situs MataAir, gubuk maya Gus Mus di www.gusmus.net  (2005). ‘MataAir’ mempunyai motto: “Menyembah Yang Maha Esa, Menghormati yang lebih tua, Menyayangi yang lebih muda, mengasihi sesama”.

BACA  Rekomendasi untuk Santri Setelah Lulus

Gus Mus terus membangun taman bunganya tidak hanya dalam bentuk tulisan, tapi juga dalam bentuk produk digital. Itu artinya, ia mau beradaptasi dengan zaman, mengikuti perkembangan teknologi agar bisa lebih dekat dengan masyarakat. Lebih bisa mengarungi horizon netizen zaman now yang lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial. Kini, Gus Mus juga merambah ke YouTube dengan membuat GusMus Channel.

Mari mengunjungi taman bunga Gus Mus yang kaya dengan ide dan kritik melalui karyanya, baik dalam esai, puisi, cerita pendek, lukisan, ataupun videonya. Taman bunga ini akan terus mekar jika kita sebagai pengunjung terus menyirami dan merawatnya dengan mengembangkan gagasan Gus Mus sebagai tulisan, konten di media sosial, dan mewujudkannya dalam tindak-tanduk keseharian kita.

Tanggapan Anda
  • Whatsapp

Related posts