Sinta Nuriyah: Sosok Perempuan Tangguh dan Panutan

  • Whatsapp

Sinta Nuriyah, kini tengah menginjak usia 72. Pendamping setia dari sosok KH. Abdurrahman Wahid atau biasa disapa (Gus Dur) yang merupakan presiden RI yang ke-4.

Usia remaja Sinta Nuriyah dihabiskan di Jombang dengan gemerlap kehidupan pesantren. Setelah lulus dari pesantren, beliau melanjutkan studi di Perguruan Tinggi IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta (sekarang UIN) dengan mengambil Fakultas Syariah, Jurusan Qodlo’.

Read More

Setelah lulus, Bu Sinta menikah dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang masih berada di Luar Negeri dalam rangka belajar, pernikahan itu berlangsung dengan diwakilkan oleh Kakek Gus Dur. Hingga 3 tahun kemudian Gus Dur pulang ke Indonesia membangun rumah tangga dengan bu Sinta untuk beberapa tahun kemudian di Jombang.

Bu Sinta yang merupakan aktifis Gender merupakan sosok yang tangguh dan kuat, hal ini dibuktikan dengan perannya di dalam masyarakat. Tentunya karakter yang dimiliki Bu Sinta tidak lepas dari aktifitas dan pendidikan yang telah dijalaninya.

Semasa menjadi istri Gus Dur dan mukim di Jakarta, beliau pernah berkesempatan melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia dengan mengambil Jurusan Kajian Perempuan dan Gender. Hal ini memberikan stimulus kepada pemikiran bu Sinta bahwasanya masih terjadi ketidakadilan dalam kehidupan perempuan, hingga akhirnya muncul gagasan mendirikan forum Kajian Kitab Kuning (FK3) yang dirasa masih ada bias gender, terutama telaah kitab Uqudul Lujain karya Syech Nawawi Al-Bantani.

Peran Bu Sinta dalam membela hak perempuan semakin berat karena menuai pro dan kontra dalam memahami gerakan Gender, disamping itu gerakan Gender yang terlalu bebas yang diadposi dari Barat tidak begitu pas untuk diterapkan di Negara Indonesia. Karena perbedaan budaya dan karakter masyarakatnya.

BACA  Tujuh Kontribusi KH. Bisri Syansuri yang Tidak Banyak Diketahui Oleh Masyarakat

Misalnya, pernah dalam satu acara podcast yang diadakan oleh Deddy Corbuzier, menyoal masalah Jilbab atau Hijab tidak wajib untuk dipakai, kometar Bu Sinta soal ini menuai banyak kontra dari masyarakat, bahkan banyak yang menghujat. Namun bu Sinta tetap menghadapinya dengan tenang dan santuy.

Memang kejadian seperti itu, sudah biasa bagi kehidupan Bu Sinta, seperti kegiatan Ramadhan yang diadakan acara sahur bareng bersama agama lain, juga menuai kontra. Pada akhirnya masyarakat mulai menyadarinya, seiring dengan problem sosial yang terjadi akhir-akhir ini antara pemeluk agama.

Dengan usia yang sudah menginjak 72 tahun, tentunya banyak peran dan kegiatan yang beliau lakukan, namun kegiatan itu akan berakhir jika tidak ada generasi perempuan yang meneruskannya. Disamping itu tantangan zaman semakin kompleks, dibutuhkan sosok perempuan yang punya daya adaptif dan berani berjuang untuk menegakkan keadilan hak-hak perempuan. Oleh karena itu, para generasi Muda Perempuan Indonesia bisa belajar dari keteguhan dan ketangguhan Bu Sinta, sebagai cerminan dalam mendalami perjuangannya.

Semoga bu Sinta diberi kesehatan dan panjang umur. Amin.

Tanggapan Anda
  • Whatsapp

Related posts