KH Nur Muhammad Iskandar: Dari Pertromaks Kobong, sampai Gemerlap Ibukota

  • Whatsapp

KH. Nur Muhammad Iskandar adalah satu dari beberapa tokoh agama Nasional yang terkenal. Kiprahnya dalam mengisi ruang-ruang keagamaan di tengah kota metropolitan, pembangunan pesantren, terjun dalam dunia politik era Gus Dur, sampai bermacam desas-desus problematika Bangsa sudah pernah beliau terima. Itu semua adalah sekelumit dari catatan panjang beliau.

Meski dilahirkan di ujung Pulau Jawa (Banyuwangi), lanjut menimba ilmu di pedalaman Jawa (Lirboyo, Madura dan beberapa pesantren lainnya), jalan hidup rupanya membawa beliau ke dalam panggung Ibukota yang -tentu saja- berbeda 180 derajat dengan ‘dunia’ sebelumnya. Dengan restu Kyai dan dukungan dari berbagai pihak, tekad menaklukkan Ibukota adalah jalan yang bulat dipilih.

Read More

“Nakhoda yang tangguh tidak dilahirkan di laut yang tenang”, ujar bijak bestari. Demikian juga dengan Kiai Nur (sapaan orang-orang) atau Abah Nur (versi kami, santrinya).

Keputusannya mengikuti perintah Kyai dalam menerima sebidang tanah wakaf untuk dijadikan sebuah pesantren di tengah Ibukota bukanlah perkara yang mudah. Tidak sedikit kasus semisal harus berakhir pada penutupan atau pailit terganjal ini itu.

Dalam keadaan perintisan seperti itu, keterbatasan dan ketidakpunyaan adalah hal yang sangat lumrah. Kegigihan berusaha, laku tirakat dan pelampauan diri adalah senjata yang dirasa cukup ampuh. Hasilnya pun baru bisa dirasakan sekarang; 14 unit cabang di berbagai kota, puluhan majelis taklim binaan, puluhan unit usaha, sampai ribuan santri dan alumni yang terhitung pernah menimba dari sebuah lembaga yang mulanya didirikan dari 2 buah kobong (baca: kamar santri) adalah bukti riil dari makna sebuah perjuangan.

BACA  Nafas Gus Dur untuk Kemanusiaan

Kemampuan itulah yang kemudian dilukiskan oleh Gus Ulil Abshar Abdalla dalam buku biografi tentang Kiai Nur. Buku biografi Kiai Nur pertama yang terbit pada 2003 itu memuat tentang lika-liku perjalanan Kiai. Gus Ulil dalam catatan 45 lembarnya di awal buku itu, melihat sosok Kiai Nur sebagai sebuah semesta yang unik. Keberhasilannya dalam proses menyampaikan pesan-pesan agama ke dalam dunia yang serba kritis, logis dan apatis, dibahasakan oleh Gus Ulil sebagai sebuah komitmen akan migrasi budaya. Istilah lebih beken-nya beliau sebut sebagai Reinvensi Tradisi.

Kenapa Reinvensi Tradisi?

Reinvensi Tradisi –menurut Gus Ulil, diambil dari kata invention (penemuan) yang dalam praktiknya adalah proses menerjemahkan dan menafsirkan suatu teks pengetahuan ke dalam keadaan yang sangat berbeda jauh / kompleks. Pengetahuan santri dari pesantren pedalaman Jawa yang masih dianggap berkutat dalam koridor Kitab Kuning atau ritual-ritual tertentu harus diterjemahkan ke dalam ‘bahasa’ realitas zaman yang sangat berbeda. Untuk dapat menemukan rumusan-rumusan itu dibutuhkan sosok-sosok (agent) yang membuat eksplorasi sangat dalam. Sebab suatu teks pesantren apapun, yang berisi matan, syarah atau hasyiah, tentu akan berhenti pada pemaknaan semu jika tidak mampu menjadikannya hidup.

Sederhananya, reinvensi tradisi adalah proses men-sinkron-kan isi teks literatur maupun tradisi Pesantren dalam situasi dan kondisi zaman yang sebenarnya. Sehingga sampai kepada –apa yang sering Gus Dur kutip, al-Islamu sholihun likulli zaman, Islam sebagai ajaran yang terus relevan bagi tiap masa.

Dalam hal ini, ketidakmampuan dalam memahami teks secara utuh, akan berakibat fatal bagi praktik di lapangan. Pun sebaliknya, ketidakmampuan dalam melihat lapangan sebagai medan atau hanya fokus pada teks, akan membuat suatu purifikasi. Dalam hal ini, Gus Ulil melihat Kiai Nur sebagai agen yang mampu melakukan formulasi seperti itu.

BACA  Astronom Penemu Hitungan Tahun Masehi itu Adalah Seorang Muslim

Pandangan Gus Ulil ini diperkuat dengan kenyataan keagamaan ibukota kekinian. Pandangan 17 tahun lalu itu kini terbukti. Selain tema-tema yang bersifat instan dan nge-tren, tema lain khususnya seputar kepesantrenan, tidak begitu mendapat ruang besar.

Nuansa keagamaan kota, tidak lagi berkutat pada proses ‘menerjemahkan’ literatur keagamaan ke dalam realitas. Tapi berhenti pada koridor benar-salah, halal-haram, thok. Tidak ada interaksi keilmuan dan proses panjang memahami secara utuh teks dan konteks. Maka sosok seperti Kiai Nur adalah beliau-beliau yang tentu telah memahami fase itu. Sehingga hasilnya bisa diterima oleh banyak kalangan.

Andai Kiai Nur juga menggunakan strategi rigid yang sama dalam menyampaikan nilai-nilai keagamaan, hasilnya pun mungkin tidak seajeg kini. Latar belakang dan lingkungan pesantrennya yang kuat, membuat tema apapun sejak dahulu tidak mampu melepas nilai-nilai kesantrian beliau.

Beliau memiliki pandangan bahwa pesantren masa depan adalah pesantren yang mampu menjawab tantangan zaman, lembaga pendidikan masa depan yang bertahan adalah lembaga yang melahirkan SDM yang mandiri secara ekonomi, kuat secara pengetahuan agama, beretika luhur, tidak gaptek dan menjadi sosok yang berpikiran global. Poin-poin ini kemudian diterapkan dalam visi-misi besar Pondok Pesantren Asshiddiqiyah.

Kiai Nur dan Dinamika Ibukota

Jakarta menawarkan berbagai macam kemudahan dan dinamika yang super cepat. Keadaan ini secara tidak langsung mempengaruhi karakter penghuninya. Sebagaimana kaidah ‘semakin modern suatu masyarakat, semakin melemah nilai ashabiyyah/solidaritasnya’ kata Ibnu Khaldun. Maka, bisa dikatakan,’menaklukkan’ suatu Ibukota adalah menaklukkan suatu miniatur peradaban. Sebab harus bergelut dengan sistem sosial, beragam kepentingan, perubahan budaya, dan pressure yang mengawasi.

Mungkin alasan itulah, kenapa Kyai Nur banyak bergaul dengan lintas kalangan. Beliau juga banyak berkecimpung dalam berbagai jabatan. Baik sejak dari mimbar masjid ke masjid yang lain, stasiun radio dan televisi, sampai melenggang ke gedung Parlemen dan ke Istana Negara. Itu semua adalah rentetan kisah yang tak cukup ditulis dalam kolom ini.

BACA  Didi Kempot, NU, Pesantren dan Santri

Karenanya, kemampuan Yai Nur dalam mengoper gigi Pesantren di tengah Ibukota adalah suatu keahlian yang unik. Sejak westernisasi produk dan boomsex era 80-an (awal pesantren Asshiddiqiyah berdiri), sampai kini teknologi 5.0, pesantrennya masih dapat berdiri dan eksis menancapkan tradisi kepesantrenan. Kekhawatiran akan zaman pun dibuktikan dari buku awal ditulis oleh beliau adalah tentang pentingnya infiltrasi budaya asing.

Pada akhirnya, berbicara tentang Kiai Nur adalah berbicara tentang hakikat keistiqomahan dan makna perjuangan. Sebagaimana ketika suatu titik di Jakarta tempat dunia gemerlap malam berkerlap-kerlip, di langit malam kota yang sama, ada santri-santrinya yang beristighotsah menyucikan asma-Nya. Di antara gedung-gedung menjulang bercakarkan langit, ada gedung tak sampai enam lantai berisi kader-kader Bangsa yang sedang mendaras. Di tengah sandangan yang fashionable dan branded, ada peci hitam dan sarung beragam motif yang masih dikenakan. Bahkan di tengah pelbagai himpitan raksasa restoran cepat saji di luar gerbang, ada nampan-nampan berisi nasi dan potongan tempe yang dinikmati berdempetan. Dan biasanya sih belum pada cuci tangan. Kena Corona gak ya? Hehe..

Tanggapan Anda

Related posts