Salah Tanggap Hadapi Covid-19

  • Whatsapp

Bagi Indonesia, Covid-19 bukan hanya sekedar virus mematikan, tapi juga teror, kepanikan dan kebobrokan.

Bayangkan saja, jauh sebelum sampai ke Indonesia, masyarakat kita justru menjadikan Covid sebagai meme ledekan, katanya masyarakat kita kebal dengan virus ini, bahkan ada ceramah yang mengatakan bahwa Covid hanya turun ke negeri non-muslim. Giliran sampai sini, semua panik.

Read More

Di sisi lain, pemerintahnya sibuk membayar influencer untuk kepentingan politik dan pariwisata, harga tiket diturunkan, akses kerja dan wisata dibuka selebar-lebarnya, Menkes-nya sibuk mengatur Duta Imun, DPR-nya sibuk sosialisasi Omnibus law.

Mitigasi bencana tidak ada, ruang kesehatan dan cek kesehatan gejala Covid sangat buruk, pemerintah pusat dan daerah miss koordinasi, tayangan berita hanya mampu menampilkan teror, trending media sosial hanya diisi buzzer-buzzer berebut simpatisan suara. Sungguh kebobrokan yang sangat tidak patut dipertontonkan.

Jauh lebih menyedihkan, media dan politikus malah mengadakan debat seolah mencari benar dan buruk serta siapa yang patut disalahkan. Transparansi jumlah korban tidak terbuka karena pola pikirnya hanya citra politik!

Kebijakan yang diambil sangat-sangat lamban karena hitung untung-rugi demi sebuah korporasi kapitalis.

Bahkan satu-dua tokoh masyarakat mengatakan meskipun Covid berbahaya, mau tidak mau keadaan hidup harus tetap terlaksana. Kuliah tetap berjalan, kuli bangunan tetap bekerja demi menyambung kehidupan, dan menyuruh jangan samakan penanganan Covid perihal isolasi dan lockdown di luar negeri dengan di Indonesia!

Di sisi lain, yang paling mengenaskan, tenaga medis pusing bukan kepalang, jiwa dan raganya dipertaruhkan untuk kesembuhan, riset dan teriakan untuk memerangi virus ini makin lantang, namun tidak pernah tersorot dengan tajam.

BACA  (Masih) Menanti Langkah Besar Staffsus Milenial Merespon Covid19

Ya, Covid-19 bagi warga Indonesia terlalu membingungkan. Disuruh santuy tidak panik, tapi tidak ada tracking, transparansi dan pencegahan. Tau-tau media mengumumkan bertambahnya jumlah korban.

Disuruh menjaga jarak sentuhan dan aktivitas di luar, tidak ada arahan dan surat resmi untuk meliburkan seluruh kegiatan. Sebagian masyarakat yang kolot, justru bersitegang. Giliran terjangkit pusing bukan kepalang.

Kalau tidak ingin membuat masyarakat panik dan resah berlebih, ada kalanya pemerintah pusat dan daerah menyatukan suara dan tidak saling menyalahkan, menyiapkan sarana kesehatan sebaik mungkin, dan benar-benar mengantisipasi jatuhnya korban. Masyarakat juga ingin hidup normal, namun bila kesigapan tidak ada, lantas apa yang harus dijadikan pegangan. Pada akhirnya, mau tidak mau masyarakat hanya menggantungkan Tuhan.

Padahal Tuhan mewajibkan ikhtiar dan berfikir, bukan hanya bertawakkal dan berdoa, embuh lah, ribet!

Tanggapan Anda

Related posts