Wabah Thoun dalam Sejarah Islam

  • Whatsapp

Thoun secara bahasa berasal dari kata tho’ana, yang memiliki arti menikam atau menusuk. Karena ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa penyakit ini adalah akibat dari tikaman jin. Namun kalimat thoun yang berwazan فعول (fa’ulun) di sini digunakan untuk menunjukan arti wabah yang menyebar luas dan menyebabkan banyak kematian. Namun ada ulama yang berpendapat bahwa thoun dan wabah itu berbeda, thoun salah satu contoh dari wabah namun wabah belum tentu thoun. Berbeda dengan imam Kholil yang mengartikan bahwa thoun adalah wabah itu sendiri, atau sederhananya thoun dan wabah itu artinya sama.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas beberapa wabah thoun yang pernah terjadi pada sejarah Islam. Secara garis besar ada 5 wabah thoun yang terkenal sepanjang dunia islam;

Read More

Pertama adalah wabah thoun Syirawaih, terjadi pada masa nabi yaitu pada tahun ke 6 Hijriyah di beberapa kota. Tidak diketahui berapa jumlah korban dari wabah ini, namun ada yang menyatakan bahwa tidak ada satu pun kaum muslim yang menjadi korban dari wabah thoun ini.

Kedua adalah wabah thoun ‘Amawas, terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab yaitu pada tahun 18 Hijriyah di kota Syam. Diberi nama ‘Amawas karena dinisbatkan pada sebuah daerah kecil yang bernama ‘Amawas yang terletak diantara al-Quds dan al-Romlah. Tragedi wabah ini terjadi setelah perang sengit antara kaum muslim dan Yunani. Jumlah korban dari wabah ini mencapai 25.000 orang, termasuk Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abu Sufyan, dan Harits bin Hisyam.

BACA  (Masih) Menanti Langkah Besar Staffsus Milenial Merespon Covid19

Ketiga adalah wabah thoun al-Jarif, terjadi di Basroh pada tahun 64 Hijriyah, ada pula yang mengatakan terjadi pada tahun 69 Hijriyah pada masa Abdullah bin Zubair. Dinamakan al-Jarif yang artinya mengalir deras, dikarenakan saking deras dan cepatnya korban manusia yang disebabkan oleh wabah ini. Banyangkan saja setiap harinya jumlah korban dari wabah ini mencapai 70 ribu orang, dan hal ini terjadi selama 3 hari berturut-turut.

Keempat adalah wabah thoun al-Fatayat, yang terjadi di Iraq dan Syam pada tahun 87 Hijriyah. dinamakan al-Fatayat karena awal mulanya wabah ini menyerang perempuan dan remaja, baru setelah itu menyebar luas hingga ke laki-laki. Wabah ini tiap harinya menjatuhkan banyak korban, dan termasuk dari korban wabah ini adalah ketiga anak perempuannya Ibnu Hajar Al Asqolani. Wabah thoun ini juga dijuluki sebagai al-Aysrof, karena banyaknya orang-orang besar meninggal sebab wabah ini, salah satunya adalah al-Hallaj.

Kelima adalah thoun Muslim bin Qutaibah, yang terjadi pada tahun 131 Hijriyah di Basroh selama 3 bulan berturut-turut. Dinamakan Muslim bin Qutaibah karena dinisbatkan pada orang pertama yang menjadi korban dari wabah ini, yaitu Muslim bin Qutaibah. Wabah ini hampir setiap harinya menjatuhkan korban hingga 1000 orang.

Selain lima wabah thoun di atas, masih banyak lagi wabah-wabah yang pernah terjadi dalam sejarah Islam. Seperti wabah yang terjadi di daerah Rai pada tahun 134, wabah di Baghdad pada tahun 146, wabah di Basroh pada tahun 221, wabah di Iraq tahun 249, dan kemudian wabah Isbahan pada tahun 324, dan masih banyak lagi wabah-wabah yang lain.

Adapun wabah terakhir yang Ibnu Hajar sebutkan dalam kitabnya terjadi pada tahun 849 H. Dan selanjutnya syeikh Zakariya al-Anshari menambakan wabah yang terjadi pada tahun berikutnya, yaitu dari taun 853 H hingga tahun 919 H, terhitung ada 14 wabah yang terjadi. Jika dirata-rata, maka hampir setiap 4 tahun sekali terjadi wabah pada masa itu. Dari sini mungkin kita bisa ambil pelajaran, bahwa musibah wabah seperti COVID-19 sekarang ini, sebenarnya bukanlah hal yang baru atau hal yang dahulu belum pernah terjadi. Karena sejatinya, di dalam dunia Islam sendiri sudah beberapa kali menghadapi musibah-musibah wabah tersebut.

BACA  Sunda Empire itu Gila, Kita Tak Usah Mengikuti Kegilaannya

Pada intinya semuanya itu tetaplah kehendak dan irodah-Nya. Tak perlu panik, tak perlu khawatir, tak perlu takut yang berlebihan. Cukup dengan yakin dengan doa dan keyakinan, yang tentunya wajib diiringi dengan ikhtiyar. Artinya tetap jaga kesehatan, jaga kebersihan, patuhi aturan, dan jangan tinggalkan doa dan tingkatkan iman.

Semoga kita senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan oleh Allah, semoga yang sakit lekas dipulihkan dan yang telah gugur termasuk gugurnya orang-orang yang syahid, Amiin.

Wallahu a’lam

Tanggapan Anda

Related posts