Oman Fathurrahman: Santri yang Menyelami Naskah Kuna Islam Nusantara

  • Whatsapp
oman

Nusantara adalah gudang naskah kuna yang tidak banyak dimasuki oleh para sarjana. Di dalamnya terdapat banyak sekali referensi primer yang sangat sedikit orang berminat untuk menggalinya. Tetapi hal ini tidak terjadi pada diri Oman Fathurahman yang telah bertahun-tahun bertungkus-lumus dengan aroma kertas usang naskah kuna.


Lahir dari tradisi pesantren tradisional, khususnya di Jawa barat, Oman (yang mempunyai nama kecil Encep ini) “mewakafkan” dirinya untuk masuk dalam labirin naskah kuna Islam Nusantara yang belum tentu ditemukan ujungnya. Di kemudian hari nama Oman menjadi salah satu guru besar filologi di UIN Jakarta yang reputasinya tidak hanya berhenti di Indonesia, namun telah mendapatkan pengakuan di panggung akademik internasional.

Read More


Dalam konteks UIN Jakarta (dahulu IAIN), penghujung tahun 1980an sampai 1990an saat Oman masih studi di UIN jakarta, menjadi sarjana yang menyelami naskah kuna bukanlah hal yang umum. Pada era itu, Ciputat masih menjadi salah satu pusat diskursus keislaman, modernitas, dan keindonesiaan. Seolah keluar dari arus utama diskursus keislaman di Ciputat pada saat itu, Oman tetap setia mengakrabi naskah-naskah usang. Dia tidak bosan dengan hati-hati membuka dan menghirup aroma usang setiap lembar naskah.


Dari setiap naskah kuna yang diselami, Oman telah menemukan banyak hal; mulai dari jaringan tasawuf di Nusantara sampai dengan resep obat kuat.


Jaringan kesarjanaan Oman tidak hanya berhenti di Indonesia. Sayap keilmuan filologi yang dimiliki olehnya, setidaknya, membawanya terbang ke pusat-pusat keilmuan di Eropa dan Asia. Filologi juga membawanya untuk menjadi salah satu International Advisory Panel dalam program Endangered Archives Programme di British Library, Inggris. Oman adalah satu-satunya anggota panel yang berasal dari Asia Tenggara.

BACA  Sang Maestro dan Tetesan Air Mata Sobat Ambyar


Menurut pengakuannya, penguasaan bahasa Arab yang bagus adalah modal penting dalam studi filologi Islam di Nusantara. Karena sebagian besar naskah kuna yang berbicara tentang keislaman ditulis dalam bentuk Arab pegon. Rasanya sangat sulit untuk memahami isi dari setiap naskah kuna yang berbicara tentang Islam di Nusantara tanpa bekal bahasa Arab dan pengetahuan yang cukup atas wacana keislaman. Oleh karena itu, rasanya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa santri adalah pihak yang paling memungkinkan untuk menyelami dunia filologi Islam Nusantra.


Oman adalah sedikit santri—yang dengan bekal kemampuan bahasa Arab dan pengetahuan keislamannya—berhasil untuk menjembatani semesta naskah kuna Islam Nusantara dengan sarjana-sarjana dunia. Penelitiannya tentang sufi perempuan Jawa diakui sebagai kontribusi besar oleh Peter Carey yang selama puluhan tahun meneliti Pangeran Dipanegara.

Penelitian Oman tersebut menjawab teka-teki siapa sebenarnya sosok nenek buyut Pangeran Dipanegara yang mempunyai andil besar dalam pembentukan kepribadiannya.
Dalam penelitiannya, Oman menemukan bahwa nenek buyut pangeran Dipanegara yang bernama Ratu Ageng—atau dalam naskah disebut Kanjeng Ratu Kadipaten—adalah penganut Tarekat Syattariah yang memiliki keterhubungan langsung dengan mursyid utamanya di Jawa Barat, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan. Ratu Ageng ini pula yang membentuk karakter Pangeran Dipanegara sejak kecil sampai dewasa. Dengan jaringan ulama yang dimiliki Ratu Ageng ini, Pangeran Dipanegara didekatkan dengan tradisi keilmuan Islam melalui dari mengaji fiqih, tasawuf, sampai tata negara, dan kegiatan silaturahmi ke berbagai pesantren. Konon jaringan ulama dan santri ini pula yang menyokong perjuangan Pangeran Dipanegara dalam Perang Jawa yang cukup menguras keuangan pemerintah kolonial pada saat itu.


Penelitian Oman soal Ratu Ageng ini membuka kemungkinan lain dari latar belakang dan motivasi Perang Jawa yang dikobarkan Pangeran Dipanegara. Jika selama ini kita sering mendengar bahwa Perang Jawa disulut oleh pemasangan patok oleh Belanda untuk pembangunan jalan yang menyerobot tanah keraton, hasil peneltian Oman ini menawarkan hal lain; pengaruh nilai-nilai dalam ajaran tasawuf yang diterima oleh Pangeran Dipanegara dari nenek buyutnya adalah salah satu motivasi dari dikobarkannya Perang Jawa.

BACA  Welcome Back, Bib Bahar!


Sekarang, sepertinya Oman tidak mau kesepian lagi menyelami semesta naskah yang berserakan itu. Beberapa usaha telah dilakukan untuk menjadikan studi filologi lebih akrab di telinga kita, termasuk program Ngariksa (Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara) yang dia inisiasi. Program ini sendiri dilaksanakan lebih santai, tidak seketat dan sekaku ceramah akademik di ruang kelas atau seminar. Medianya pun lebih populer agar mudah diikuti oleh khalayak umum.
Oman memanfaatkan platform media sosial seperti YouTube, Facebook, Twitter, dan Instagram. Melalui semua akun media sosial miliknya itu, tentu saja salah satu harapannya adalah publik dan generasi milenial bisa tertarik untuk melirik studi filologi dan menariknya ke tengah wacana keislaman di Indonesia. Hal ini juga dapat dilihat sebagai salah satu cara untuk menawarkan sebuah diskusi yang berjangkar pada naskah sebagai sumber-sumber primer di tengah perdebatan dan wacana keislaman yang sering kali hanya berisi cacian terhadap pihak yang berseberangan secara pemahaman dan ideologi.


Pada akhirnya, relasi yang kuat antara pengalaman belajar di pesantren dan studi naskah kuna Islam Nusantara dapat ditemukan pada sosok Oman Fathurahman. Dia juga membuktikan bahwa santri yang sering dikelompokkan dalam kelompok masyarakat tradisional—dan ketinggalan jaman—hari ini mampu tampil dalam panggung akademik dunia dengan berbekal ilmu yang didapatkan dari pesantren. Dan yang terpenting dari semuanya adalah santri tidak dapat lagi dipandang sebelah mata sebagai kelompok yang tidak mampu beradaptasi dengan dunia.

Tanggapan Anda
  • Whatsapp

Related posts