Pesantren untuk Jadi Ustadz; Benarkah demikian ?

  • Whatsapp

Kewajiban menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap insan, tak peduli siapapun itu orangnya, apapun itu pekerjaanya, dan bagaiman latar belakangnya. Dalam menuntut ilmu, ada dua macam pendidikan yang harus ditempuh, yaitu formal dan non-formal.

Salah satu sarana untuk menuntut ilmu, masyarakat Indonesia mengenal proses pendidikan non-formal yaitu pesantren.  Pesantren adalah sarana mencari ilmu bagi para ‘santri’, sebab para santri melakukan segala aktivitasnya di pesantren dari bangun hingga tidur kembali demikian terus seperti itu. Aktivitas mencari ilmu yang dijalani dinamakan ‘mengaji’.

Read More

Pada praktiknya, pesantren adalah suatu lembaga pendidikan tradisional yang mengajarkan ilmu agama kepada para santri walaupun pada perkembangannya hari ini, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja, melainkan sudah banyak menghadirkan ilmu-ilmu lain selain agama. Artinya, pesantren pun sudah menyesuaikan kebutuhan masyarakat masa kini.

Dalam narasi yang sering penulis temui di tengah-tengah masyarakat, menjalani pendidikan di pesantren sama halnya dengan menyiapkan diri untuk menjadi seorang ustadz atau mubaligh.

Jika benar demikian, sama halnya dengan menutup kemungkinan bahwasannya santri tidak bisa menjadi apapun sekaligus menyimpulkan bahwasannya ustadz adalah sebuah profesi.

Padahal, seorang santri setelah menjalani masa pendidikan di pesantren bisa menjadi apapun, kuncinya dengan tetap membuka diri untuk belajar hal apapun selain ilmu agama. Sebab, agama islam sendiri  mengajarkan bahwa umat manusia khususnya muslim haruslah seimbang, baik perkara agama (ukhrawi) maupun perkara dunia (duniawi).

Memang benar, seorang santri mempunyai tanggung jawab logis selaku orang yang memahami agama dengan baik untuk mengamalkan ilmunya kepada masyakarat luas, tapi sebuah hal yang sangat keliru jika mengamalkan ilmu kepada masyakat itu haruslah dengan memakai gelar ustadz, apalagi sampai menjadikan gelar ustad tersebut sebagai profesi yang dilegalkan di tengah masyakarat sampai menggantungkan hidup dengan mengandalkan gelar tersebut.

BACA  Nahdlatul Ulama dari Waktu ke Waktu

Dalam literatur agama, proses pengamalan ilmu yang diperoleh melalui proses belajar adalah hukumnya wajib. Tapi, kewajiban mengamalkan ilmu itu tidaklah harus selalu dengan mengajar atau dalam konteks hari ini sering disebut ceramah.

Fenomena  yang ditemukan hari ini dalam konteks kemasyarakatan yang haus akan pengetahuan agama, kebanyakan menjadikan pengamalan itu selalu dalam bentuk ceramah atau proses penyampaian pengetahuan dengan tatap muka antara seorang ustadz dengan jama’ahnya dalam suatu majelis. Dan banyak yang menjadikan kesempatan ini sebagai peluang untuk meraup keuntungan pribadi dengan mengandalkan panggilan ceramah. Jika demikian, gelar ustadz yang dipakai seakan-akan sudah legal sebagai profesi.

Dalam tradisi pesantren, santri selalu diajarkan untuk terus belajar tanpa memikirkan akan menjadi apa selepas menuntut ilmu nanti, tapi penekanan untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh selalu disampaikan. Artinya, santri disiapkan untuk menjadi manusia berpengetahuan agama yang mumpuni  dan mampu mengamalkannya, dan bertanggung jawab penuh atas perilaku dan ucapannya terlepas apapun profesi seorang santri tersebut.

Tanggapan Anda

Related posts