Mengenal Ngaji Pasanan di Pondok Pesantren

  • Whatsapp

Sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren memiliki beberapa sistem hingga istilah tersendiri dalam proses kegiatan belajar-mengajarnya.

Sistem ini bukan kurikulum formal yang bisa diotak-atik tiap bergantinya tampuk kepemimpinan, melainkan sebagai nilai dan pedoman filosofis ajaran dari leluhur pesantren. Tak heran, para santri yang bergelut di dalamnya memiliki karakter dan militansi yang kuat sebagai hasil dari proses sistem belajar-mengajar tersebut.

Read More

Selain sistem sorogan yang menjadi ciri khas pesantren, ada satu lagi sistem belajar yang tak kalah unik di kalangan pesantren yang dikenal dengan sistem ngaji pasanan.

Pasanan adalah sistem kurikulum mengaji di pesantren yang hanya dilaksanakan saat memasuki Ramadhan, biasanya dengan satu kitab tertentu yang berganti tiap tahunnya sesuai kehendak Kiai serta dikhatamkan selama 20-28 hari sepanjang Ramadhan, tanpa melampirkan nilai atau laporan akhir yang menentukan kelas santri di pesantren.

Ngaji pasanan merupakan pengajian yang dapat diikuti bukan hanya oleh santri yang terdaftar di pesantren tersebut, melainkan boleh diikuti oleh santri dari pesantren lain dan tentunya oleh masyarakat luas.

Nah biasanya, santri senior yang haus akan ilmu memanfaatkan momentum ngaji pasanan sebagai sarana mencari barokah dengan para Kiai, penyambung silaturahmi dan penambah pertemanan di kalangan santri.

Santri yang biasanya segan untuk berpindah pondok pesantren karena sudah terlanjur nyaman dengan almamaternya, atau khawatir calon istrinya ditikung oleh sesama santri senior, menjadikan pasanan sebagai momen mencari sanad keilmuan dan keberkahan Kiai tanpa harus pindah atau berganti almamater.

BACA  Kilas Balik kejadian Kontroversial Versi Nyarung.id 2019

Santri dari pesantren lain yang berniat mengikuti pasanan pun harus menetap di pesantren yang dijadikan rujukan memperoleh barokah pasanan tersebut.

Biasanya, kitab yang dipakai saat ngaji pasanan adalah kitab-kitab tasawuf dan mutiara-mutiara hikmah. Jarang sekali pasanan mengkaji kitab yang identik dengan fiqh maupun nahwu-shorof meskipun ada beberapa pesantren dan Kiai yang memilih mengkajinya.

Waktu pelaksanaan ngajinya biasanya dilaksanakan disetiap ba’da sholat fardhu dan biasanya, ramainya ngaji pasanan adalah pengajian yang dilaksanakan setelah tarawih.

Di beberapa daerah ngaji pasanan memiliki nama yang berbeda-beda, ada kalanya bernama pasaran atau bandongan.

Bahkan, Allahu Yarham, Syaikhona Maimun Zubair, selalu mengirim putera-puteranya ke Lirboyo saat memasuki Ramadhan untuk mengaji pasanan agar mendapat berkah para pendiri dan Kiai Lirboyo.

Mengingat saat ini Indonesia tengah dilanda Covid19, maka ngaji pasanan tidak dilaksanakan secara tatap muka, melainkan online dibeberapa kanal media. Jelas bagi santri, pasti kebiasaan ngaji pasanan sangat dirindukan.

Kalau di pesantren kalian, pasanan dinamakan apa, Kang?

Tanggapan Anda

Related posts