Gus Baha’ dan Kritik Barokah

  • Whatsapp

Pada suatu malam seorang suami dari istri saudagar itu menyibukan diri menyendiri di dalam goa yang gelap. Tiba-tiba sesosok makhluk datang dan menghampirinya. Bacalah…..bacalah…bacalah…., bagaimana aku membacanya? Aku tidak bisa membaca. Dan makhluk itu lantas memeluk erat sang suami, kemudian dia membacakan untuk sang suami.

Sepenggal kisah bertemunya Nabi Muhammad SAW dengan malaikat Jibril, sering kali menjadi bahan dakwah khusunya momen malam Nuzulul Qur’an. Cerita yang kerap kali digunakan para dai dari level stasiun tv sampai level desa untuk sekedar bercerita tentang malam nuzulul Qur’an. Terlepas dengan berbagai temanya, namun penggalan cerita tersebut tetap menjadi cerita nomer satu untuk disampaikan.

Read More

Al-Qur’an turun sejak awal menjadi sebuah hujjah atau argumentasi untuk memberikan petunjuk manusia kejalan yang lurus. Al-Qur’an sebagai hujjah mengajarkan bahwasanya landasan agama harus bersifat argumentasi yang rasional. Argumentasi rasional ini dibutuhkan dalam rangka menjelaskan kesalahan-kesalahan orang Quraisy waktu itu yang masih Jahiliyah.

Argumentasi yang rasional sejatinya menjadi kebutuhan dalam menjawab setiap permasalahan. Adanya argumentasi yang masuk akal lebih memudahkan setiap orang untuk menerimanya. Proses yang panjang dan belajar yang banyak dibutuhkan agar setiap orang memiliki argumentasi yang rasional dan bisa diterima setiap orang.

Pesantren dan mitos-mitos barokah

Ngaji iku golek ilmu ben ngalim, ora golek barokah (ngaji itu mencari ilmu biar jadi alim, bukan mencari barokah). Kutipan di atas merupakan kalimat yang pernah disampaikan Gus Baha’ dalam pengajiannya, yah meskipun setelah saya cari-cari ulang di youtube tidak ketemu karena hp yang habis restore. Kalimat di atas menjadi sebuah kritik yang menarik bahwasanya seseorang yang mencari ilmu sejatinya biar paham ilmu, bukan sekedar untuk mencari barokah.

BACA  Salah Tanggap Hadapi Covid-19

Dalam ceramah beliau juga disampaikan beberapa fenomena menarik yang sering kali masih dijumpai di beberapa pesantren klasik. Fenomena-fenomena seperti santri yang tiap hari hanya disibukan dengan mengepel, mencuci mobil atau sekedar sibuk jadi supir. Sebuah kegiatan yang dirasa gus Baha’ merupakan hal yang remeh dan malah meninggalkan kegiatan paling esensial yaitu ngaji.

Doktrin dengan melakukan kegiatan A,B,C dan sekedar manut (taat) kiai biar barokah tanpa perlu ngaji masih banyak dipercayai oleh para santri. Bahkan para pembela sering menggunakan dalil cerita Hadratu Syekh Hasyim Asyari yang rela menceburkan diri ke dalam septic tank demi mencari cincin Syaikhona Kholil. Yang menjadi pertanyaan apakah lantas beliau langsung jadi alim alamah setelah melakukan hal tersebut? Sekiranya kita juga tidak boleh lupa bahwa beliau juga masih meneruskan nyantrinya bahkan sampai di mekah dan banyak berdialektika dengan pakar-pakar keilmuaan agama waktu itu.

Pada dasarnya bukan berarti tidak percaya tentang barokah itu sendiri, namun dengan tidak mengaji dan tidak belajar bagaimana mungkin seseorang menjadi faqih dalam ilmu. Selain cerita-cerita di atas, konon sering kali dengan mengamalkan ijazah tertentu niscaya bertemu nabi Khidir dan dapat ilmu laduni. Cerita ini juga menjadi sebuah mitos mashur yang masih bisa diketahui. Bermodal mengamalkan ijazah dan tanpa perlu ngaji lantas bertemu nabi Khidir dan jadi alim, yah…. mungkin bisa dan mungkin tidak.

Ngaji dan menjaga argumentasi agama

Agama Islam tersebar dengan dilandasi oleh argumentsi yang rasional. Debat argumentatif ini bisa dijumpai dalam Al-Qur’an, seperti debat Firaun dengan Nabi Musa atau debat nabi Ibrahim dengan kaumnya. Al-Qur’an sebagai wahyu suci sering kali juga menjadi jawaban argumentatif dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan baik orang Yahudi, Nasrani atau Qurasy di zaman nabi Muhammad SAW.

BACA  Mengenal Lembaga Zakat di Indonesia Berikut Ranking Websitenya, NU CARE-LAZISNU Nomer Berapa?

Ngaji sebagai proses belajar memiliki esensi yang penting dalam menjagai argumentasi agama. Melalui ngaji santri mencoba memahami berbagai masalah keagamaan yang kompleks dan memerlukan pemikiran yang mendalam. Proses yang lama dengan berbagai fan ilmu dibutuhkan agar menjadi seorang yang benar-benar faqih fi din, atau dalam bahasa Gus Baha’ menjadi alim. Selanjutnya dengan ngaji membuat setiap orang mampu memberikan argumentasi yang ilmiah dan rasional dalam menjawab permasalahan yang berkaitan dengan agama.

Pentingnya ngaji tersebut menjadi sebuah hal yang seharusnya tetap diperhatikan oleh setiap santri. Taat dan patuh terhadap guru memang menjadi penting, namun bukan berarti sampai harus meninggalkan hal-hal yang esensial dengan doktrin agar barokah. Doktrin barokah sering menjadi pembenaran dengan sekedar manut kiai jadi barokah dan kelak saat boyong (pulang) lantas tiba-tiba jadi alim, selayaknya juga perlu dipertanyakan. Atau hanya bermodal ijazah amalan lantas tiba-tiba pintar, juga layak untuk dipertanyakan.

Mengutip imam Ibnu Malik dalam Alfiyahnya wa fi ladunni laduni qolla, laduni (yang dariku) itu qolla (sedikit). Sesuatu yang langsung dari Allah itu sedikit, kalimat ini mengajarkan bahwa konsep ilmu laduni atau yang sering dikatakan langsung dari Allah itu Cuma bagi sedikit orang. Maka untuk menjadi seorang yang pandai juga diperlukan ketekunan yang sangat. meskipun secara eksplisit kalimat tadi bukan membahas tentang konsep ilmu laduni, namun sering kali imam Ibnu Malik memberikan sebuah pengetahuan dengan contoh tersebut.

Sebuah cerita mashur juga perlu untuk diperhatikan. Konon sebelum menjadi orang alim dalam bidang ilmu fiqih, Imam Ibnu Hajar al-Haitami adalah seorang yang sulit sekali dalam menerima pelajaran. Suatu ketika dia melihat sebuah batu yang lama-lama berlubang akibat dari tetesan air. Dari inspirasi itu beliau mulai rajin kembali belajar. Karena air yang kecil saja bisa membuat batu berlubang masak manusia yang bodoh dengan belajar yang rajin tidak pandai.

BACA  Masih Relevankah Kurikulum Pesantren?

Cerita tersebut mengingatkan bahwa sejatinya ngaji atau belajar memang butuh proses yang lama dan tidak serta merta bisa dilakukan dengan instan. Lantas bagaimana seorang yang jarang ngaji dan malah disibukan dengan pekerjaan yang seperti diceritakan gus Baha’ tadi menjadi alim. Adapun seperti dikatakan sebelumnya ngaji menjadi hal yang penting utuk diperhatikan, karena hujjah keagamaan memang perlu untuk mengawal agama.

Tanggapan Anda

Related posts