Jangan Anti Cina Kalau Hanya Banyak Berfantasi

  • Whatsapp

TERIAK ANTEK CHINA…
MINIM LITERASI…
KEBANYAKAN FANTASI…

Mungkin kata tersebut sangat tepat menggambarkan arus isu yang merebak dan banyak digaungkan saat ini.

Read More

Dulu, di era Orde Baru, rakyat dicekoki dengan paham rasis Anti Etnis Cina. Bahkan pahlawan-pahlawan olahraga Indonesia keturunan etnis Cina, harus jadi korban perlakuan tidak adil dari proses birokrasi kewarganegaraan.

Padahal di level pusat, pemerintahannya (baca: Cendana) justru berpelukan mesra dengan para konglomerat Negeri Naga, dan menguasai sentra-sentra perekonomian negara. Inget dong, siapa itu Liem Sioe Liong, Bob Hasan, William Soerjadjaja, Tjiputra, Prayogo Pangestu, Sudwikatmono, dll..??? Itulah kenapa, akhirnya terjadi gerakan dan demonstrasi mahasiswa, yang berujung pada peristiwa Reformasi ’98.

Beda dengan zaman beda proses kebijakan. Amandemen UUD 45 yang dilakukan oleh MPR tahun ’99 merubah sistem ketatanegaraan kita. Dwi Fungsi ABRI dihapus, Polri kembali ke habitatnya. TNI juga mereformasi dirinya sendiri. Otonomi daerah lalu dirancang oleh Prof. Ryaas Rasyid, agar setiap provinsi bisa mandiri dan berkreasi sendiri. Hak warga negara menjadi setara, apapun ras dan etnisnya. Yang sempat rusak atau tercoreng, namanya direhabilitasi dan harum kembali. Kini semua punya hak dan kewajiban yang sama.

Legislatif juga dipermak ulang. DPR dan MPR dipisah, bahkan kini ditambah dengan DPD. Presiden, Anggota DPR dan DPD, dipilih langsung oleh rakyat, lewat mekanisme Pemilu dan diwasiti oleh KPU. Intinya, zaman memang sudah berubah.

Lalu kini apa yang muncul kemudian..??KOMPETISI…!!!

Yaa

Mau nggak mau kita harus siap berlomba. Kita semua akan tergilas zaman bila masih kurang kreatif, bermalas-malasan, baperan, gaptek, dll. Maksimalkan seluruh potensi menjadi kunci agar mampu bersaing menjadi apapun, kuncinya pada kerja keras. Percuma teriak komunis, anti Cina, sementara hidup masih berfantasi dan bermalas-malasan.

BACA  Mengenal 3 Kerajaan yang Berpengaruh Terhadap Penyebaran Islam di Pulau Jawa

Faktanya, saudara kita etnis keturunan Cina memang unggul disitu. Hampir semua dari mereka memang ahli berdagang. Ada “kultur” yang sangat kuat mengalir di darah dan jiwa mereka. Mau dikabilang PKI, Aseng, mereka hanya fokus mengembangkan bakat mereka.

Mungkin (sepertinya…) hanya etnis Minang-lah yang bisa sedikit mampu menyaingi keuletan mereka.

Jadi ibarat kita bertanding, keliru sekali kalau kita menyalahkan musuh yang berhasil mengalahkan kita. Karena mereka punya skil dan perjuangan tak kenal lelah dalam bertanding. Harusnya kita banyak instropeksi, kenapa kita bisa kalah.

NGERTI ORA SON…?????

Tanggapan Anda

Related posts