Belajar Islam Via Medsos, Salahkah?

  • Whatsapp

Tak dapat dipungkiri kalau dunia kita saat ini amat dekat dengan media sosial. Saking dekatnya mungkin sudah sukar untuk dipisahkan. Bahkan menurut sebuah penelitian, rata-rata kita bisa menghabiskan waktu bermedia sosial paling minimal 3 jam dalam sehari. Medsos memuat banyak informasi, tidak terkecuali soal Islam. Kajian tentang Islam yang beredar di media sosial cukup berwarna. Dari yang paling lurus sampai yang paling bengkok, semuanya ada. Karenanya tidak heran jika banyak dari umat Islam saat ini yang menjadikannya sebagai sarana atau tempat belajar hal-hal terkait Islam.

Pro-Kontra

Read More

Fenomena belajar Islam lewat medsos ini ternyata mengundang pro-kontra. Ada yang menolaknya. Dan ada pula yang menerimanya. Yang menolak beranggapan karena ilmu-ilmu yang disampaikan di sana dianggap tidak kredibel dan tidak memiliki sanad keilmuannya dari para ustad, kiai dan ulama-ulama. Sesuatu yang harus kita akui sebagai fakta.

Walau begitu, di bagian yang lain juga ada orang-orang yang menerimanya. Pasalnya ia dianggap memudahkan orang-orang yang ingin belajar agama. Terutama mereka yang tidak sempat belajar agama di madrasah atau pesantren. Mereka adalah orang-orang yang haus ilmu agama. Karenanya mereka merasa diuntungkan dengan adanya media sosial ini. Mereka bisa belajar perihal Islam hanya dengan bermodal gadget dan kuota internet.

Sampai sejauh ini, saya menganggap kedua pandangan di atas (yang menolak dan menerima) sama-sama masuk akal dan patut dipertimbangkan. Sikap yang pertama di atas merupakan kegelisahan banyak orang. Mereka gelisah melihat panorama belajar Islam lewat medsos. Apa-apa yang disebarkan soal Islam sering tidak berdasar dan tidak memiliki sumber atau rujukan yang jelas.

BACA  Spirit Pembebasan Cak Nun

Hadis-hadis sering disampaikan secara serampangan tanpa melihat validitasnya (kesahihannya). Ayat-ayat sering di ditafsirkan secara bebas tanpa memerhatikan kaidah-kaidah penafsiran yang telah ada. Tidak jarang ajaran-ajaran soal Islam yang disampaikan cenderung menampilkan, meminjam istilah Gus Dur, wajah Islam yang marah nan menyeramkan. Sehingga menimbulkan penilaian yang tidak-tidak terhadap Islam. Hal itu akibat dari kecerobohan dan ke-sembrono-an segelintir orang.

Adapun kalau ilmu-ilmu yang disampaikan di sana tidak memiliki sanad, saya mengira bahwa poin kita dalam belajar bukanlah sanad. Yang menjadi poin penting kita dalam mempelajari suatu ilmu adalah kebenaran dari ilmu itu sendiri. Kebenaran informasi itu yang utama. Jika benar, diterima. Jika tidak, maka harus ditolak. Karena amat tidak mungkin kita menolak sesuatu yang benar hanya karena dia tidak memiliki sanad.

Sikap kedua juga ada benarnya. Belajar Islam via medsos itu memudahkan. Orang-orang tidak perlu kesusahan lagi. Saya terkadang juga membayangkan bagaimana kalau belajar Islam di medsos diharamkan? Bagaimana dengan orang-orang yang ingin sekali belajar agama? Mereka ingin sekali menambah wawasannya tentang ajaran agama yang dianutnya. Apakah itu salah? Saya kira tidak.

Makanya untuk menjembatani kedua sikap di atas, saya memilih untuk mengambil sikap jalan tengah. Yakni tidak menentang secara keras dan juga tidak membiarkan secara bebas. Artinya tetap ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan dan diikuti. Karenanya penolakan terhadap belajar Islam via medsos adalah hal yang sangat berlebihan.

Pasalnya tidak semua yang ada di medsos itu buruk. Ada yang baik-baik yang masih bisa kita petik kalau kita pintar dalam melakukan sortir informasi. Makanya tugas kita adalah bukan melarang, tapi memberi tahu atau merekomendasikan kepada mereka tentang situs-situs Islam yang baik untuk diakses, ustad-ustad yang ceramahnya bagus untuk didengarkan.

BACA  Inilah Aktivitas Ramadan yang Dapat dilakukan di tengah Wabah

Beberapa Kekurangan Belajar di Medsos

Di antara kekurangan itu adalah kurang efektif. Kurang efektif dalam mendapatkan pemahaman yang komprehensif soal Islam. Berbeda halnya dengan di pesantren. Di sana semua yang diajar dimulai dari dasar sampai dengan pangkalnya: Ilmu tauhid, ilmu ushuluddin, ilmu tafsir, ilmu hadis, tarikh (sejarah Islam), ilmu fikih, ilmu ushul fikih, ilmu nahwu, shorof dan ilmu balaghah. Di pesantren, kita diajar dengan dibimbing seorang guru. Jadi jika ada yang salah bisa dikoreksi. Berbeda dengan di media sosial.

Belum lagi medsos tak ubahnya seperti warung kopi. Yang didengar bukan siapa yang paling kuat argumennya, tapi siapa yang paling nyaring suaranya. Bukan penceramah yang dengan argumen jernih yang diterima, tapi yang paling tinggi dan keras suaranya. Bahkan masih lebih baik warung kopi ketimbang medsos. Warung kopi obrolannya di ruang khusus dan tidak meninggalkan jejak. Sedangkan obrolan di medsos punya jejak yang bisa diakses dan diliat orang kapan saja.

Naifnya lagi masyakat kita juga sepertinya belum siap belajar Islam lewat medsos. Sebab masyarakat kita belum punya budaya literasi yang kuat. Malas untuk membuktikan keotentikan dan kebenaran suatu hal. Apa yang datang biasanya akan langsung diterima. Di samping itu kita cenderung kurang dewasa dalam menerima informasi keagamaan. Menerima satu pandangan dan setelahnya menepis pandangan-pandangan lain yang bisa saja lebih benar dari apa yang dianut pertama. Watak kita dalam menerima informasi keagamaan cenderung pada ‘like’ dan ‘dislike’, bukan benar dan salah.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan

Pertama, memerhatikan latar belakang ustad yang didengarkan. Ini saya kira cukup vital. Karena banyak mereka yang tampil mendakwahkan agama Islam berasal dari orang yang tidak jelas latar belakangnya. Pernah belajar Islam ke siapa dan di mana. Karenanya harus diperhatikan. Jika tidak jelas latar belakang pendidikan Islamnya, maka sudah sebaiknya kita harus memasang sikap ragu.

BACA  Akibat Dikotomi Teleran dan Intoleran

Kedua, menilai isi konten. Setelah melihat latar belakang penceramah, kita tak boleh lupa untuk menilai ajaran-ajaran Islam yang disampaikannya. Apakah masuk di akal kita atau tidak? Karena agama ini adalah agama akal. Dalam hadis disebutkan bahwa tidak ada agama bagi mereka yang tidak berakal. Ini menegaskan bahwa beragama tidak berarti mengggalkan nalar. Nalar tetap harus dipakai untuk menyaring pemahaman-pemahaman yang ada.

Di samping itu, selain memerhatikan sisi-sisi rasional, kita juga harus melihat apakah pemahaman-pemahaman yang disampaikan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Jangan sampai ajaran-ajaran yang kita dapatkan justru mengacaukan kemanusiaan kita. Misalnya kita malah menjadi orang yang tertutup dan anti sosial. Hubungan kita dengan orang tua, tetangga dan kerabat menjadi kurang baik. Jangan sampai ajaran-ajaran yang kita anut malah membahayakan dan meresahkan orang lain. Kesesuaian antara ajaran Islam yang diterima dengan nilai-nilai kemanusiaan harus selalu diperhatikan.

Dengan begitu, untuk menjawab pertanyaan apakah salah belajar Islam melalui media sosial? Secara pribadi saya mengganggap tidak salah dan boleh-boleh saja. Selama tetap memerhatikan hal-hal di atas. Dan juga tidak merasa yang paling benar. Karena harus sadar diri, bahwa kita cuma belajar lewat medosos!

Tanggapan Anda

Related posts