Optimisme Pendidikan Santri

  • Whatsapp

Pesantren dan sekolah pada dasarnya adalah sama-sama lembaga pendidikan. Pesantren menurut saya menarik karena ia begitu optimis ‘lepas’ dari kontrol penuh pemerintah. Pesantren tidak menggunakan kurikulum Mendiknas, tidak mengeluarkan ijasah, dan tidak pula mengharapkan dana dari pihak luar. Nah, apa yang membuat pesantren bertahan dengan idealismenya?

Salah satu hal yang membuat santri enggan terburu-buru menyelesaikan pendidikannya di pesantren adalah kajian keilmuannya yang mengagumkan. Konstruksi keilmuan yang telah dibangun oleh ribuan Sarjana Islam menyihir santri untuk menyerap sebanyak mungkin warisan itu untuk kemudian dikembangkan.

Read More

Karya-karya para Kiai klasik masih menjadi pegangan santri selain karena faktor barokah pengarangnya, juga memang dalam kenyataannya belum ada teori atau tesis lain yang sanggup menggesernya. Bahkan ilmu praktis semacam fiqh pun banyak yang masih relevan meskipun harus diberi inovasi agar mencukupi kebutuhan zaman. Masalah ini sudah lama disikapi oleh KH. MA. Sahal Mahfudh dengan Fiqh Sosial dan di dalamnya ilmu fiqh menemukan dirinya sebagai pengatur dinamika kemasyarakatan.

Berhubung Para kiai Klasik (sudah sepakat untuk) menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar pendidikannya, santri dituntut sanggup menguasai ilmu bahasa Arab. Ini jelas tidak mudah dan membutuhkan keuletan dan kesabaran ekstra karena memahami cara dan gaya mereka berbahasa merupakan sebuah keterampilan. Maka terimakasih patut diucapkan kepada kiai pencipta metode utawi iki iku yang banyak membantu menjembatani bahasa Arab dan bahasa kita. Meskipun metode ini juga butuh penyegaran.

Tidak adanya sistem ijasah menguntungkan santri untuk bebas berlama-lama menyelami samudera ilmu hingga memperoleh mutiara. Dengan tuntunan dan dorongan Kiai Pesantrennya, santri memetakan dan mengembangkan sendiri alur pendidikannya. Oleh karena itu, dua santri yang sama-sama sudah selesai mengkaji suatu kitab dapat berbeda hasil yang diperoleh keduanya. Juga, dalam rentang waktu yang sama, dua santri dapat berada dalam level yang berbeda. Semua itu bergantung seberapa besar kemauan dan kemampuan individu santri masing-masing. Artinya, santri harus merumuskan sendiri indikator dan silabus pendidikannya. Tentu, semua itu tak lepas dari bimbingan Sang Kiai.

BACA  Pesantren untuk Jadi Ustadz; Benarkah demikian ?

Perpaduan sains dan sastra

Kiai Klasik punya pertimbangan tersendiri dalam metode ilmiahnya. Dengan alasan agar mudah dihafal, enak didengar, dan tidak lekas membuat pembaca bosan, mereka menadhamkan (mensyairkan) teori dan karya-karya ilmiah. Dalam nadham, sains dikemas dalam bait-bait puisi (baca: syair) dengan aturannya (rima, diksi, majas, dan bahar (metrum). Kebanyakan kitab nadham berbahar rojaz. Memang bahar itulah yang paling mudah dan populer. Oleh karena itu, kitab Alfiyah Ibnu Malik lebih unggul daripada kitab Alfiyah Ibnu Mu’thi karena semua bait Alfiyah Ibnu Malik menggunakan satu bahar dan bahar itu adalah bahar rojaz.

Hampir semua disiplin ilmu pesantren sudah dinadhamkan. Misalnya Al-Khulashah (Alfiyah Ibnu Malik) untuk gramatika Arab, Aqidah al-Awam untuk ilmu tauhid, Jauhar al-Maknun untuk ilmu balaghah, Shofwa al-Zubad untuk fiqh, Tashil al-Thuruqat untuk ilmu ushul fiqh, Faraid al-Bahiyah untuk ilmu kaidah fiqh, Hidayah al-Shibyan untuk ilmu tajwid, Sullam al-Munawraq untuk ilmu mantiq, dan sebagainya.

Di samping itu, tidak jarang dalam kitab nadham terdapat kata-kata bijak, wejangan, motivasi, dan pesan moral. Maka, di saat pendidikan nasional sedang menggalakkan apa yang mereka sebut pendidikan karakter, sebenarnya pesantren sudah melakukannya dari dahulu antara lain dengan kitab kuningnya.

Rendra dan santri

Sebagai lembaga pendidikan khas indonesia, pesantren tidak hanya berkutat pada ilmu-ilmu agama saja akan tetapi pesantren juga mendidik bagaimana menjadi manusia Indonesia. Pesantren mendidik santri antara lain hidup berbhinneka, bergotong-royong, demokrasi, saling membantu, berdikari, dan kreatif.

Komunitas pesantren yang heterogen membiasakan santri hidup dengan perbedaan yang merupakan kodrat Bangsa Indonesia. Musyawarah (membahas suatu kitab secara bersama-sama) mendorong santri bebas menyampaikan pendapat dan argumentasinya. Kerja bakti melatih santri menyadari bahwa teamwork itu penting. Santri juga berlatih mengatur keuangannya sesuai kiriman orang tua. Dan hidup serba terbatas membuat kreativitas santri terasah.

BACA  Gus Baha’ dan Kritik Barokah

Soal kreativitas santri ini menarik. Anda tahu Indonesia sedang dilanda krisis kretivitas karena pola hidup instan dan konsumerisme yang berlebihan. Lain halnya dengan santri yang apabila ingin makan saja harus mencari kayu bakar. Kebanyakan santri bisa membuat teklek, sapu, almari, dan asbak. Menutur saya, keterbatasan mudah merangsang kreativitas meskipun juga gampang mengundang kriminalitas.

Pesantren tidak hanya memakan mentah-mentah semua hasil keilmuan Kiai Klasik yang kebanyakan berasal dari Timur Tengah. Seperti potongan puisi Rendra dalam Sajak Sebatang Lisong; Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing; dekdat-dekdat hanya boleh memberi metode; tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan; kita mesti keluar ke jalan raya; keluar ke desa-desa; menghayati sendiri semua gejala; dan menghayati persoalan yang nyata.

Ilmu-ilmu tersebut diindonesiakan atau (meminjam bahasa KH. Abdurrahman Wahid) dipribumikan sehingga para santri diharapkan dapat menjadi warga negara yang bisa mengisi kemerdekaan dengan ilmunya. Minimal, santri tidak menambah daftar calon koruptor di negeri ini. Semoga.

Nah, bagaimana pendidikan nasional kita? Sudahkah mengikuti kata-kata Rendra?

Tanggapan Anda

Related posts