Meneguhkan Ramadhan sebagai Madrasah Ukhuwah Islamiah

  • Whatsapp

Syahdan, bulan Ramadhan tahun ini terasa berbeda dengan ramadhan tahun-tahun lalu. Pada ramadhan kali ini, kita menjalani ibadah puasa di tengah-tengah pandemi Covid-19. Selain itu, ibadah-ibadah yang biasanya kita lakukan di bulan ramadhan seperti salat tarawih dan iktikaf, terpaksa dilakukan dirumah masing-masing. Pemerintah dan beberapa ormas Islam pun telah mengeluarkan maklumat untuk mengerjakan salat id di rumah juga.

Terlepas dari segala problematika yang muncul dihadapan kita hari ini, tetap tidak menghilangkan esensi dari Ramadhan itu sendiri. Ini bukan perkara kita berlomba-lomba meramaikan dan menghidupkan masjid pada malam-malam bulan Ramadhan seperti biasanya. Akan tetapi, Ramadhan bertindak sebagai Madrasah bagi kita agar menjadi insan-insan bertaqwa kepada Allah.

Read More

Mendengar kata taqwa, pasti kita terbayang dengan seseorang yang rajin beribadah dan bersadaqah, sehingga cap “shalih” melekat pada dirinya. Walaupun begitu, jika kritisi lagi apakah gelar shalih cukup bagi orang-orang yang disebutkan diatas?

Kata shalih jika merujuk pada Al-Mu’jam Al-Wasith bermakna orang yang sesuai melakukan suatu pekerjaan atau amalan. Maka, shalih itu sendiri jangan disempitkan peruntukan nya hanya bagi orang yang rajin beribadah, akan tetapi orang-orang yang muamalah nya baik dengan sesama manusia pun patut mendapat gelar shalih. Akan tetapi, harus ada keseimbangan disini, dimana nilai-nilai ibadah teraplikasikan dengan baik dalam muamalah sehari-hari. Jangan sampai hal yang bersifat ambivalen terjadi. Misal, si fulan gemar beribadah, akan tetapi sering sekali memaki orang miskin. Atau sebaliknya, ada si fulan yang gemar menyantuni anak yatim, akan tetapi dia malah sering meninggalkan shalat wajib.

BACA  Kamus Saja Tak Cukup Memaknai Kata Mudik

Menjelang Ramadhan berakhir, kita wajib bertanya kepada diri kita masing-masing, “sudahkah diri ini menjadi pribadi yang shalih?” pertanyaan besar ini harus benar-benar menghujam dalam diri masing-masing untuk berusaha menjadi pribadi yang shalih baik dimata Tuhan ataupun sekitar kita.

Masih berkaitan bagaimana seseorang dapat menjadi pribadi yang shalih, Ali Syariati pernah menyebutkan setidaknya manusia harus lepas dari empat penjara yang mengungkung potensi dalam diri manusia. Maka, penjara yang relevan dengan tulisan ini adalah penjara ego. Ali Syariati menyebutkan penjara ini adalah penjara yang sangat sulit seorang insan bebas darinya. Maka untuk bebas dari penjara ini adalah dengan cinta. Potensi cinta dalam diri manusia harus diledakkan, agar timbul saling menyanyangi satu sama lain. Jika sikap saling menyayangi ini sudah ada, maka terwujudlah ukhuwah islamiah dalam tubuh ummat hari ini.

Ramadhan pada hakikatnya benar-benar telah menegaskan dirinya sebagai Madrasah Ukhuwah Islamiah bagi kita. Akan tetapi banyak dari kita yang lalai darinya. Kita ambil misal, diatas meja kita penuh dengan hidangan berbuka puasa sedangkan tetangga kita hanya berbuka sekenanya dengan air putih untuk menghilangkan dahaga belaka. Lalu kemana esensi taqwa kita jika kita lalai memerhatikan saudara seiman kita sendiri ?

Lalu, bagaimana kita bisa khusyu’ beri’tikaf sedangkan ada tetangga kita yang merintih menahan lapar. Rasulullah pernah meyindir hal ini dalam sabdanya, “Bukanlah termasuk orang yang beriman, jika tetangga nya dilanda kelaparan” (HR. Al-Hakim)

Sebagai ikhtitam, marilah kita sama-sama menegaskan jiwa kita agar selalu memperbaiki diri dan gencar mengamalkan amal-amal ta’awun dalam mencapai titik ketaqwaan yang hakiki di bulan Ramadhan tahun ini. In syaa Allah

Tanggapan Anda

Related posts