UIN Jakarta: ‘Pabrik’ Produksi Intelektual dan Tokoh Besar

  • Whatsapp

Aura kebesaran UIN Jakarta telah saya rasakan sejak masih berada di bangku aliyah (setingkat SMA). Kebesaran UIN Jakarta telah ‘memaksa’ saya untuk memutuskan lanjut studi di sana setelah lulus. Entah mengapa, UIN Jakarta saat itu menjadi tujuan dan obsesi tersebesar saya. Padahal selain itu masih ada UIN Yogyakarta, UIN Malang dan UIN-UIN yang lain. Anehnya saya tidak tertarik sama sekali. Yang selalu menghentak di bagian terdalam hati saya, bagaimana caranya saya harus bisa berkuliah di tempat tersebut. Pokoknya UIN Jakarta menjadi tujuan (ghayah) satu-satunya.

Setelah melalui proses yang cukup panjang dan berliku, tujuan dan keinginan saya akhirnya terwujud. Saya lulus di kampus yang sudah menjadi impian terbesar saya sedari kelas dua aliyah. Kampus yang telah melahirkan banyak sekali tokoh-tokoh nasional. Alangkah bangga dan senangnya saya saat itu.

Read More

Sebagai orang yang selalu mendorong saya melanjutkan studi di UIN Jakarta, ayah ikut senang mendengar kabar kelulusan saya. Masih terekam jelas di benak saya bagaimana beliau bercerita tentang kebesaran dan kiprah-kiprah lulusan UIN Jakarta. Di antara yang sering diceritakannya adalah sosok Nurcholis Madjid. Tak terhitung sudah berapa kata yang keluar dari mulut ayah untuk menceritakan salah satu alumni kebanggaan UIN Jakarta tersebut. Sosok yang menjadi martir pembaharuan Islam di Indonesia.

Selain itu, di sana juga ada sosok Din Syamsudin dan KH. Zainudin MZ. Din Syamsudin mungkin tidak asing lagi di telinga saya sebagaimana halnya KH. Zainudin MZ. Pasalnya saya besar di keluarga Muhammadiyah dan beliau adalah Ketua Umum Muhammadiyah yang menjabat selama dua periode. Yang belum saya tahu saat itu adalah kalau beliau juga alumni UIN Jakarta. Begitu pun dengan dai sejuta umat di atas. Saya kenal beliau. Saya bahkan mengidolakan beliau. Gaya berceramah dan retorika beliau selalu menjadi rujukan saya dalam berceramah. Tapi saya sama sekali belum tahu kalau beliau alumni UIN Jakarta.

BACA  Sukmawati Gagal Pahami Nasionalisme

Mengetahui itu semua membuat rasa bangga saya bertambah. Bagaimana tidak, tempat yang menjadi rencana studi saya adalah tempat mewah nan megah. Megah bukan karena bangunannya. Mewah bukan karena dikelilingi fasilitas yang keren. Mewah dan megah karena telah berhasil mendeklarasikan dirinya sebagai ‘pabrik’ tempat memproduksi intelektual dan tokoh-tokoh besar. Sesuatu yang berangkali membuat iri kampus-kampus lain. Karenanya menjadi kemewahan tersendiri bisa berada dan kuliah di tempat ini.

Dialektik Keilmuan

Iklim intelektual di UIN Jakarta sangat mengasyikkan. Ia tidak mengembangkan pemahaman Islam yang monolog (satu arah). Spirit pluralisme yang sering diusung oleh pemikir-pemikirnya betul-betul mewujud di kampus ini. Pemahaman keagamaan yang berkembang di dalamnya sangat beragam. Makanya amat keliru jika ada yang mengatakan bahwa kampus ini kampus liberal. Mereka berkata demikian sebab mereka belum masuk dan menyelami dunia intelektual UIN Jakarta secara langsung.

Kampus ini memberi ruang bagi paham keagamaan kelompok-kelompok lain. Bahkan anda bisa saja menemukan ada mahasiswanya yang dalam kegiatan sehari-harinya selalu bersinggungan dengan kegiatan salafi, HTI, tarbiyah dan lain-lain. UIN Jakarta adalah medan bebas. Segala paham akan ditemukan di sana. Buku saya yang berjudul ‘Warna-Warni Islam’ bahkan bisa dibilang banyak mengambil inspirasi dari semangat keberagaman yang dikembangkan di UIN Jakarta.

Dosen-dosennya pun, sepanjang yang saya lihat, tidak satu warna sebagaimana tuduhan banyak orang, hanya lulusan Barat saja. Di fakultas saya contohnya (fakultas ushuluddin), bukan hanya Barat. Alumni Arab Saudi seperti Mekkah dan Madinah, Mesir, dan Iran juga diberikan tempat untuk mengajar di sana. Alhasil, pemahaman keislaman mahasiswanya kaya akan perspektif.

Intrik Politik

Dunia politik UIN Jakarta sering didaulat sebagai miniatur politik Indonesia. Panasnya sama. Lihat saja PEMIRA (Pemilihan Umum Raya) yang menjadi ajang tahunan di UIN Jakarta. Tarikan politik antara organisasi esktra terlihat ganas dan begitu kuat. Sebut saja HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Momen PEMIRA menjadi ajang perebutan kekuasaan kampus oleh keempat organ ekstra di atas.

BACA  Hak Perempuan Adalah Hak Asasi Manusia

PEMIRA di kampus ini bahkan tidak jarang berakhir ricuh. Sebagaimana lazimnya pertengkaran politik yang kita saksikan di layar kaca. Menyaksikan kubu Prabowo tidak terima dengan kekalahannya dan kubu Jokowi jumawa dengan kemenangannya. Begitu pula yang terjadi di UIN Jakarta. Antara yang menang dan yang kalah sering berakhir chaos. Bahkan tak tanggung-tanggung. Chaosnya sampai masuk TV.

Anehnya, kami malah menikmatinya. Bukan melihatnya sebagai kecatatan. Kami mahasiswa justru menganggapnya sebagai medium tempat belajar berpolitik. Telah banyak politisi yang dilahirkan dari rahim UIN Jakarta. Salah satunya yang terkenal adalah (alm.) A.M. Fatwa, pendiri sekaligus politisi senior PAN (Partai Amanat Rakyat). Sosok yang satu ini cukup unik. Sebab jika dilihat dari fakultas yang diambilnya semasa kuliah, kita tak akan memiliki bayangan jika beliau kelak menjadi politisi terkenal. Pasalnya beliau mengambil fakultas ushuluddin. Fakultas yang notobenenya fokus mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan teologi atau keagamaan. Namun berkat didikan politik yang menempanya selama di UIN Jakarta, beliau akhirnya punya bakat menjadi politisi.

Kita akhirnya mafhum bahwa para pendahulu telah membuat nama UIN Jakarta mewangi di kancah nasional. Yaitu dengan memasuki di setiap sektor, termasuk jabatan-jabatan strategis negara. Bahkan ada yang menjadi menteri seperti Suryadharma Ali (Menteri Agama 2009-2014) dan Tuty Alawiyah (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (1998-1999). Karenanya menjadi tugas generasi setelahnya untuk menjaga nama besar UIN Jakarta tersebut. Harapan saya terhadap UIN Jakarta selalu sama: teruslah menjadi corong peradaban Islam di Indonesia dan semoga senantiasa menjadi ‘pabrik’ tempat memproduksi calon intelektual dan tokoh-tokoh besar. Selamat dies natalis yang ke-63 (1957-2020). Semoga jaya selalu!

Tanggapan Anda

Related posts