Wahabi: Wajah Literalisme Islam yang Berbahaya

  • Whatsapp

Pembaca tentu tidak asing lagi dengan kelompok ini. Sebuah kelompok yang diprakarsai oleh Syekh Muhammad bin Abd al-Wahhab, seorang ulama asal Najd, sebuah daerah yang berada di Semenanjung Arabia. Kelompok ini oleh banyak cendekiawan sering disebut-sebut sebagai neo-Khawarij (Khawarij gaya baru). Di antara alasannya ialah karena ia mewarisi beberapa sifat dari Khawarij. Namun begitu, kita juga tidak bisa lantas menyebutnya sebagai Khawarij. Sebab, sebagaimana analis para cendekiawan, Wahabi merupakan sesuatu yang baru dan sama sekali tidak memiliki kaitannya dengan Khawarij yang hidup di masa lampau (Abdurrahman Wahid, et. al., 2007: 63).

Di antara karakter dan ciri khas Wahabi dalam beragama adalah menerapkan pembacaan yang harfiah terhadap al-Quran dan as-Sunnah. Kemudian gemar mengafirkan orang lain dan merasa yang paling benar. Sifat Wahabi itulah yang membuat kakak kandung Muhammad Abd al-Wahhab, menulis sebuah kitab yang berisi kritikan terhadap pemikiran adiknya dengan judul al-Shawa’iq al-Ilahiyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahabiyyah. Karena sebagaimana pengakuannya, Sulaiman sejak awal telah melihat gelagat yang tidak beres dari pemikiran sang adik.

Read More

Saat ini kelompok Wahabi dapat dikatakan telah berubah (bertransformasi) menjadi kelompok besar setelah kelahirannya dan berkoalisi dengan Muhammad Ibnu Sau’d. Koalisi yang selanjutnya disebut sebagai koalisi ulama-politisi. Pasca deklarasinya, mereka melakukan ekspedisi sekaligus ekspansi (perluasan) kekuasaan dengan menaklukkan kota-kota yang mereka inginkan. Di antaranya adalah Najd, Arabia Tengah dan Yaman. Kemudian disusul Mekkah dan Madinah.

Mereka memaksakan ajaran-ajarannya ke tempat taklukan mereka (Ibid: 67). Wahabi menjadi signifikan perkembangan dan penyebarannya bukan karena pemikiran intelektualnya, namun karena ditopang oleh kekuatan kekuasaan politik Ibnu Sa’ud. Sebab di dunia intelektual, Wahabi tidak memegang posisi penting apa pun. Posisinya adalah marginal (pinggiran).

BACA  Agama Sebagai Isu dan Agama Sebagai Inspirasi

Varian Literalisme

Wahabi, sebagaimana disinggung sebelumnya, membaca nash-nash (teks-teks) agama dengan pembacaan literal. Sebagai konsukeuensinya, pembacaan model ini menafikan peran konteks berupa kondisi sosio-kebudayaan yang membentuk makna teks itu hadir. Namun yang perlu dikemukakan adalah tidak semua pembacaan harfiah terhadap teks agama, yang selanjutnya disebut sebagai literalisme, itu buruk. Karena literalisme sendiri terbagi lagi ke dalam dua varian: terbuka dan tertutup. Literalisme tertutup diwakili oleh Syekh Muhammad bin Abd al-Wahhab, sedangkan literalisme terbuka diwakili oleh Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi.

Sekarang apa itu literalisme tertutup? Ia adalah pemahaman yang membatasi makna sebuah teks atau teks-teks dari makna-makna lain yang juga punya kemungkinan benar. Hal ini, oleh para cendekiawan dinilai sebagai sebuah distorsi (pengkhianatan) atau reduksi (pengguntingan) terhadap pesan dari teks (baca: al-Quran) itu sendiri. Sebab teks bersifat terbuka. Ia bisa menghadirkan puspa (beragam) makna.

Sedangkan literalisme terbuka adalah pemahaman yang tetap berusaha mencari makna teks atau teks-teks secara luas dan terbuka dengan tetap berpegang kuat pada makna harfiah teks tanpa terikat secara kaku. Hal ini selain diamalkan oleh Ibnu Arabi, juga dilakukan oleh Muhammad Asad, ulama asal Ukraina, dalam tafsirnya The Message of Quran. Bagi siapa saja yang telah membaca kitab tafsir ini, pasti akan mendapatkan kesan bahwa ia adalah tafsir yang tekstual. Namun ada yang berbeda. Penafsirannya bersifat terbuka dan juga sangat rasional.

Di antara contoh perbedaan literalisme tertutup dan literalisme terbuka adalah pada pemaknaan kata ‘kafir’. Bagi pihak yang tertutup, kafir adalah lawan kata dari mukmin, dan kemudian halal darahnya untuk dibunuh. Sedangkan bagi pihak yang terbuka, kafir adalah suatu kondisi di mana hati seseorang tertutup dan menolak kebenaran sejati atau bahkan sumber kebenaran sejati. Hal ini bisa jadi disebabkan sifat takabbur dan kurangnya pengetahuan. Karenanya mereka tak boleh dimusuhi, apalagi dianggap halal darahnya untuk ditumpas (Ibid: 66).

BACA  Masih Adakah Nasionalisme dimasa Pandemi?

Bahaya Pemikiran Wahabi

Di antara bahaya pemikiran Wahabi, dilihat dari berbagai bentuk aksi yang dilakukan dan digencarkannya, mereka bertujuan untuk membuat ulama dan umat Islam ‘sadar’ kalau apa yang mereka amalkan dan perjuangkan selama ini bukanlah Islam (versi mereka). Propaganda ini cukup berhasil. Bukan pada ulama. Karena mereka sudah memiliki daya filter untuk menyaring kebenaran sebuah ajaran yang disampaikan. Namun pada umat Islam, khususnya kawula muda.

Hal yang demikian cukup banyak penulis temukan dalam kehidupan sehari-hari. Teman-teman penulis yang mengikuti kajian Wahabi misalnya. Banyak dari mereka yang setelah mengikuti kajiannya merasa apa yang mereka yakini sebagai Islam selama ini bukanlah Islam. Kemudian di sisi lain mereka sering menampilkan sifat yang kagetan pada hal-hal yang mereka lihat pada masyarakat. Soal tahlilan dan barzanji contohnya.

Dulunya mereka menilai itu sebagai hal yang biasa saja. Bahkan mereka menikmatinya. Karena, baik tahlilan atau barzanji, dapat menjadi momen perekat sosial di antara masyarakat. Kemudian di sana juga kebutuhan perut mereka akan terpenuhi (pasalnya kedua kegiatan tersebut ramai dengan hidangan makanan). Namun semua itu berbeda ketika mereka mengikuti kajian Wahabi. Mereka malah berbalik menyerang dan menggugat tradisi lokal di atas. Menganggapnya sebagai praktik kemusyrikan dan sesuatu yang bid’ah. Dengan dalih bahwa semuanya adalah hal baru yang tidak memiliki landasannya pada sumber agama Islam berupa al-Quran dan as-Sunnah. Padahal kaidahnya tidak selalu demikian. Tidak semua yang tidak ada dalilnya lantas dilarang. Selama sebuah tradisi mengandung kebaikan, maka ia sah-sah saja dan boleh dilakukan.

Sikap merasa paling benar, sebagaimana yang ditunjukan kalangan Wahabi, adalah sikap beragama yang tidak dewasa dan menunjukan tidak adanya sifat rendah hati. Tidak layak untuk digugu dan ditiru. Beragama menuntut kita untuk dewasa dan rendah hati. Dan tanda orang itu dewasa dan rendah hati ialah memiliki hati yang luas dan lapang. Tidak lagi terusik dengan pemikiran yang berbeda. Karena ia sadar betul bahwa perbedaan adalah suatu keniscayaan yang dikehendaki oleh Allah.

BACA  Virus Corona dan Harapan Menyambut Ramadhan

Kita harus berusaha menghindari bahaya dari pemikiran Wahabi di atas. Salah satunya adalah dengan meningkatkan literasi dan mengaji kepada banyak ustad/kiai/ulama. Semakin banyak buku yang dibaca dan semakin banyak pandangan yang berbeda yang didengar, semakin terbukalah cakrawala pemikiran kita. Kita akan mengetahui ilmu itu luas. Karenanya tidak ada cela untuk merasa diri paling benar.

Tanggapan Anda

Related posts