Mengenal Al-Mizan: Kitab Tafsir Karya Ulama Iran (Bagian I)

  • Whatsapp

Kitab tafsir ini pertama kalinya saya tahu ketika duduk di bangku aliyah. Bukan karena diajarkan di kelas atau mengikuti kajian di sebuah masjid. Saya mengetahuinya bersamaan dengan adanya isu yang berhembus di masyarakat kalau Prof. M. Quraish Shihab (mufassir kondang milik Indonesia) adalah syi’ah. Di antara alasan yang digunakan untuk menuduh beliau syi’ah ialah karena Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah banyak menjadikan Al-Mizan, kitab yang dikarang oleh Thabathaba’i itu sebagai rujukan. Tulisan ini tentu tidak akan menyoal itu. Karena yang akan dibahas di sini lebih kepada perkenalan saya dengan kitab tafsir tersebut.

Dari Google Hingga Youtube

Read More

Mengetahui Prof. Quraish menjadikan Al-Mizan sebagai salah satu referensinya dalam menafsirkan al-Qur’an sungguh memantik rasa penasaran saya. Yang ada di benak saya saat itu adalah, sehebat apa kitab tafsir Al-Mizan tersebut sehingga Prof. Quraish berkenan menjadikannya sebagai rujukan? Apa keistimewaannya? Itulah pertanyaan yang berkelindan di benak saya. Karena tidak mungkin saya kira seorang Prof. Quraish menjadikan sebuah kitab tafsir sebagai rujukan kalau bukan karena ada keistimewaan dan keunggulan yang dimiliki oleh kitab tafsir tersebut. Apalagi kitab tafsir ini juga ditulis oleh ulama yang umurnya tidak jauh berbeda dengan beliau.

Berbekal pertanyaan di atas, saya akhirnya mencoba menghilangkan ‘dahaga’ penasaran saya dengan mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan tafsir Al-Mizan. Di antaranya adalah dengan membuka google kemudian disusul youtube. Sayangnya di google saya tidak mendapatkan informasi apa pun terkait tafsir ini kecuali hujatan yang dialamatkan kepadanya sembari membangun sentimen kebencian terhadap syi’ah dan segala hal yang berbau Iran.

BACA  Islam di Negeri Cina

Tidak mendapatkan apa yang dicari di google, saya akhirnya memilih geser ke youtube dengan harapan bisa mendapatkan informasi lebih tentang kitab tafsir ini. Dan saya mendapatkannya. Yaitu melalui video Tadarus Ramadhan yang diselenggarakan oleh JIL (Jaringan Islam Liberal). Sesi tadarus ramadhan ini secara khusus mengkaji dan mendiskusikan tafsir Al-Mizan yang dikarang oleh Thabathaba’i dengan mengundang Dr. Muhsin Labib (Dosen Filsafat UIN Jakarta) dan Dr. Abdul Moqsith Ghazali (Dosen Tafsir UIN Jakarta) sebagai narasumber.

Saya membuka videonya. Mendengarkannya dengan saksama. Uraiannya cukup panjang, sekitar satu jam lebih. Baik Abdul Moqsith Ghazali atau Muhsin Labib, penjelasannya sama-sama menarik. Tampak mereka sangat paham dan menguasai seluk beluk tafsir tersebut. Terutama Muhsin Labib yang merupakan alumni kampus Iran, negara asal Thabathaba’i.

Namun juga harus saya akui, penyampaian keduanya tidak semua tertangkap baik oleh saya. Ada hal-hal yang masih belum saya paham saat itu dengan kapasitas saya yang masih duduk di bangku aliyah. Belum lagi ada banyak istilah-istilah teknis dan ilmiah yang mereka gunakan. Namun begitu, entah kenapa, saya sangat menikmati uraian keduanya dan setelahnya menambah kekaguman saya pada tafsir Al-Mizan. Sampai dengan kuliah di UIN Jakarta, kekaguman itu kian bertambah setelah saya berkesempatan ‘mencicipi’ buah karya Thabathaba’i tersebut di perpustakaan Fakultas Ushuluddin. Isinya benar-benar mengagumkan!

Biografi Pengarang

Thabathaba’i bernama lengkap Sayyid Muhammad Husain bin Sayyid Muhammad bin Muhammad Husein bin Mirza ‘Ali Ashghar Syaikh al-Islam Thabathaba’i at-Tabriz al-Qadhi. Bagian akhir pada namanya merujuk pada honorific title (laqab) kakeknya, yaitu Ibrahim Thaba’thaba’i bin Isma’il ad-Dibaji. Thaba’thaba’i lahir pada akhir 1321 H, tepatnya pada 29 Dzulhijjah, atau bertepatan dengan tahun 1903 M di Desa Shadegan, Provinsi Tibriz atau Tabriz (provinsi yang pernah menjadi Ibu Kota pemerintahan Dinasti Safawi).

BACA  Melestarikan Perspektif Kebudayaan Ala Gus Dur

Thabathaba’i tumbuh dalam keluarga yang religius. Ayahnya adalah seorang ulama. Bahkan jika ditarik ke silsilah ayahnya ke atas, kakek-kakeknya adalah ulama juga. Orang-orang yang berkhidmat memberikan pencerahan kepada umat. Karenanya keluarga Thaba’thaba’i, sebagaimana ditulis dalam biografinya, didaulat sebagai keluarga ulama. Tepatnya keluarga ulama keturunan Nabi. Nasabnya tersambung sampai ke Hasan, cucu Rasulullah.

Pada potret keluarga seperti itulah Thaba’thaba’i tumbuh dan dibesarkan. Makanya tidak heran jika pendidikan awalnya didapat dari keluarganya yang notabenenya keluarga ulama dan intelektual. Hanya saja pada saat berusia 5 tahun, ibunya telah dipanggil menuju keharibaan Allah. Kemudian pada 4 tahun berikutnya, saat Thabathaba’i berusia 9 tahun, ayahnya juga meninggal dunia menyusul sang ibu. Dengan demikian, ia sudah kehilangan dan menjadi yatim piatu di saat ia masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya (Waryono Abdul Ghafur, 2016: 10).

Tanggapan Anda

Related posts