Gas Rumah Kaca dan Perlunya Pengakajian Melalui Perspektif Fiqih Bi’ah

  • Whatsapp

Kajian ilmiah tentang efek gas rumah kaca telah menjadi perbincangan panjang dalam beberapa dekade terakhir. Gas rumah kaca sebagai salah satu faktor penyumbang pemanasan global juga menjadi hal yang santer dibicarakan. Meningkatnya gas rumah kaca akibat revolusi industri disinyalir menjadi faktor pemanasan global dan perubahan iklim lingkungan yang drastis.

Agama Islam sering kali melarang manusia untuk merusak alam. Nash al-Qur’an jelas melarang manusia untuk merusak bumi sebagai tempat hidup. Lingkungan sebagai hajat hidup manusia menjadi faktor utama keberlangsungan kehidupan. Selayaknya semangat agama dalam menjaga dan melindungi lingkungan selalu diperhatikan dan dikerjakan.

Read More

Efek rumah kaca dan dampaknya

Dewasa ini permasalahan lingkungan sering menjadi topik yang kerap kali diperbincangkan. Eksploitasi secara berlebihan terhadap sumberdaya alam menyebabkan kondisi lingkungan kian memburuk. Pencemaran lingkungan baik udara, darat dan laut menjadi faktor pendorong makin parahnya kerusakan lingkungan. Kondisi ini tidak terlepas dari perbuatan manusia yang seringkali lalai untuk menjaga lingkungan hidup mereka.

Gas rumah kaca sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan lingkungan, juga menjadi penyebab yang nyata. Berbagai kajian ilmiah tentang gas rumah kaca (GRK) bahkan menjadi perbincangan dunia internasional. Pengeluaran (emisi) GRK menuju atmosfer bumi, menyebabkan sebuah fenomena yang disebut efek rumah kaca. Konsentrasi berlebih GRK di atmosfer menjadi penyebab utama semakin menipisnya lapisan ozon, yang pada akhirnya berdampak besar pada pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim.

Berdasarkan dari penelitian IPPC (Intergovernmental Panel on Climate Change), sejak masa pra-industri, emisi GRK mengalami peningkatan. Tercatat tahun 1970-2004 sekitar 28,7 – 49 GtCO2e (gigaton karbondioksida ekuivalen) dan meningkatkan potensi pemanasan global (global warming potensial) mencapai 70%. Senada dengan itu mengutip laporan dari UNEP (United Nations Environment Programme) bahwa dalam dekade terakhir ini peningkatan emisi GRK mencapai 1,5% pertahun, stabilitas hanya terjadi sebentar antara tahun 2014-2016. Total emisi GRK pada tahun 2018 tercatat tertinggi yaitu 55,3 GtCO2e. Penggunaan bahan bakar fosil dan industri mendominasi dengan emisi total tercatat 37,5 GtCO2e pertahun.

BACA  Jadi Siapa yang Diuntungkan dalam Program Kartu Prakerja; Rakyat atau Platform Digital?

Data tersebut membuktikan bahwa peningkatan emisi GRK masih tinggi dan belum mengalami penurunan yang berarti. Sejatinya kajian dan pembicaraan tentang GRK telah menjadi wacana global, bahkan PBB secara resmi telah membentuk lembaga resmi dalam upaya penanganan dari efek rumah kaca.

Efek rumah kaca sebagai dampak dari emisi GRK yang berlebihan menjadi sebab utama global warming dan perubahan iklim. Secara signifikan adanya pemanasan global dan perubahan iklim akan banyak berdampak besar terhadap lingkungan hidup. Selanjutnya dampak tersebut bisa dipastikan akan berpengaruh terhadap kehidupan manusia di masa depan.

Peran pemerintah dan lembaga agama

Sejak berlakunya protokol Kyoto tentang pengurangan emisi gas, setiap negara industri diharuskan mengurangi emisi GRK. Protokol Kyoto sebelumnya dinegosiasikan pada 1997 di Kyoto, Jepang ini, ternyata baru bisa diberlakukan pada 16 Februari 2005. Alasan politis, ekonomi dan sulitnya menarik negara-negara industri besar menjadi penghalang pelaksanaan protokol Kyoto. Kepedulian tentang isu pemanasan global dan perubahan iklim ternyata masih rendah, bahkan seluruh masyarakat dunia masih belum sadar akan hal tersebut. terbukti sulitnya menarik negara besar industri dalam menerapkan protokol Kyoto tersebut.

Mengutip dari survei YouGov-Cambridge Globalism Project 2019, Indonesia menjadi negara dengan penduduk tertinggi yang masih meragukan isu global warming dan perubahan iklim, yaitu sekitar 18%, selanjutnya disusul Arab Saudi di urutan ke-2 yaitu 16%. Dari survei tersebut membuktikan tingkat kepedulian Indonesia soal permasalahan ini memang rendah dan membuktikan negara belum memiliki komitmen yang tinggi dalam permasalahan ini.

Seperti dikutip dari Rahmat Witoelar Menteri Lingkungan Hidup periode 2004-2009, pemerintah memang kurang dalam mensosialkan masalah gentingnya perubahan iklim. Sering kali isu lingkungan tenggelam dalam isu politik identitas (tirto.id). Sikap abai pemerintah ini sejatinya bertentangan dengan komitmen Perpres no.16 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN GRK). Pemerintah selaku wakil rakyat, memiliki peran vital dalam hal menjaga lingkungan terkhusus dalam isu GRK ini. Berbagai kebijakan dibutuhkan dalam usaha mensukseskan penurunan emisi GRK.

BACA  Pesantren Bukan Lembaga Pendidikan Pencetak Teroris

Mengacu pada hasil Muktamar NU ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat 1994, menetapkan bahwa hukum mencemari lingkungan baik udara, air dan tanah apabila menimbulkan dharar (bahaya) hukumnya adalah haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat). Selanjutnya seperti ditunjukan dari hasil Munas Alim Ulama di Banjar 2019 yang merekomendasikan kepada pemerintah bahwa haram hukumnya membuang sampah sembarangan, diakui atau tidak merupakan strategi pelembagaan nilai dalam upaya mengkondisi hasil ijtihad menjadi etika sosial, sehingga bisa ditaati dan dipedomani oleh semua warga masyarakat. Dan bila telah diterima menjadi suatu dasar kebijakan publik berarti telah memiliki kekuatan hukum tetap yang mengikat perilaku individu-indivu maupun kelompok masyarakat.

Kedua keputusan tersebut membuktikan NU sebagai lembaga keagamaan serta sosial kemasyarakatan nyata mengambil sikap dalam isu ekologi (lingkungan). Selayaknya langkah konkrit ini juga menjadi langkah yang diambil oleh organisasi-organisasi keagamaan sebagai upaya membantu pemerintah serta menjamin lingkungan hidup yang layak.

Fiqih bi’ah dalam memandang permasalahan lingkungan

Lingkungan sebagai tempat hidup manusia sudah selayaknya dijaga. Kerusakan lingkungan pada akhirnya akan berdampak juga terhadap kelangsungan hidup manusia. “Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika betul kalian orang yang beriman”. (QS. al-A’raf: 85). Perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an tersebut mengingatkan pentingnya menjaga bumi sebagai tempat hidup manusia.

Pengkajian masalah lingkungan melalui perspektif fiqh memang telah banyak dilakukan. Istilah fiqh bi’ah sebagai konsep cendikiawan muslim dalam memandang fenomena ekologi dari perspektif fiqh menjadi hal yang dibutuhkan. Permasalahan ekologi yang kian kompleks membutuhkan pengkajian secara mendalam sebagai bentuk tanggungjawab manusia dalam melihat masalah ekologi. Rusaknya lingkungan, udara, air dan darat akibat ulah manusia semestinya perlu diperhatikan dan ditanggulangi.

BACA  Untuk Apa Belajar Mantiq?

Menurut Yusuf al-Qardhawi, menjaga lingkungan hidup sama dengan menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta. Rasionalitasnya bahwa jika aspek-aspek jiwa, akal, keturunan, dan harta rusak, maka eksistensi manusia dalam lingkungan menjadi ternoda. Pentingnya menjaga lingkungan, sebagai hajat hidup bersama sering kali terabaikan. Edukasi kepada masyarakat untuk peduli lingkungan dirasa dibutuhkan dan harus lebih banyak dikampanyekan. “Jika kiamat telah tiba, dan di antara salah seorang di antara kalian ada tanah lapang, dan ia mampu bertindak untuk menanaminya, maka tanamilah, sebab dia akan mendapatkan pahala dengan tindakannya itu.” (HR. Ahmad).

Merujuk hadist tersebut, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menanam pohon menjadi perbuatan yang baik. Pohon secara alami mampu mengikat karbondioksida (Co2) dari oksigen (O2) yang dihasilkannya. Gas karbondioksida sebagai bentuk emisi GRK, kian mengalami peningkatan. Emisi GRK selain dari gas karbon dari efek produksi industri, pembakaran bahan fosil dan sampah juga mengalami peningkatan.

Peningkatan emisi GRK di udara akan menyebabkan efek rumah kaca dan dari efek ini akan menimbulkan permasalahan pemanasan global serta perubahan iklim. Dari permasalahan tadi pada akhirnya akan berdampak pada sektor-sektor lain dalam kehidupan manusia. Dari kesimpulan tersebut, bukankah menanggapi isu GRK dari perspektif fiqh juga diperlukan?.

Tanggapan Anda
  • Whatsapp

Related posts