Kebebasan Berekspresi di Media Sosial, Harapan atau Ancaman?

  • Whatsapp

Media sering diartikan sebagai tempat untuk memperoleh suatu informasi baik dari lokal maupun internasional. Media yang ada di dunia ini sangat beragam. Namun, ketika berbicara tentang media yang populer dan sangat digemari oleh masyarakat, yang menjadi jawaban pertama adalah media sosial.

Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite awal tahun 2019, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Pengguna media sosial mobile (gadget) di Indonesia menyentuh angka 130 juta atau kurang lebih 48% dari populasi. Media sosial yang populer diantaranya adalah Instagram, Facebook, Whatsapp, LINE dan beberapa platfom lainnya.

Read More

Alasan yang paling mendasari banyaknya pengguna media sosial adalah kemudahan dalam mengakses informasi, terutama berita-berita yang juga menyediakan tempat untuk berkomentar mengenai isu yang sedang terjadi. Pengguna media sosial sendiri sering disebut dengan netizen. Tak hanya mengakses berita, seringkali media sosial juga dijadikan netizen sebagai wadah untuk mengungkapkan aspirasi dan pendapatnya.

Dalam berpendapat di media sosial, pengguna bebas untuk menanggapi suatu hal yang muncul di media sosial. Diperlukan sikap yang bijak dalam beropini karena media sosial merupakan media publik yang semua kalangan bisa mengaksesnya. Jika nilai-nilai demokrasi diterapkan, diharapakan baik kubu yang pro maupun kontra akan menghargai pendapat tersebut.

Namun yang terjadi sekarang ini justru terbalik 180 derajat, banyak pengguna media sosial yang memaksakan pendapatnya sebagai yang paling benar. Para netizen tidak segan melakukan ujaran kebencian sebagai bentuk perlawanan terhadap sesuatu yang tidak sepaham dengannya.

BACA  Era Digital Adalah Eranya Anak-Anak NU

Ujaran kebencian bisa diartikan sebagai tindakan provokasi, penghinaan, penghasutan yang dilakukan untuk menjatuhkan orang lain yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok baik secara lisan maupun verbal. Tentu tindakan seperti ini sama sekali tidak mencerminkan demokrasi yang baik dan sehat.

Di Indonesia sendiri, kasus ujaran kebencian melalui media sosial (cyber crime), selalu mengalami peningkatan. Sebanyak 5.061 kasus cyber crime atau kejahatan siber ditangani Polri selama tahun 2017. Angka itu naik 3% dibandingkan pada tahun 2016, yang berjumlah 4.931 kasus. Selain itu, Polri juga sudah berhasil menangani 3.325 kasus kejahatan hate speech atau ujaran kebencian. Angka tersebut naik hampir 45% dari tahun sebelumnya.

Tindakan hate speech juga berdampak buruk bagi psikologis korban. Ketika ujaran kebencian diterima oleh seseorang secara terus-menerus maka perilaku sosial orang tersebut juga akan berubah. Dampak psikis yang dapat terjadi diantaranya stres, was-was, sedih, depresi atau bahkan berujung pada kematian. Selain itu, kasus pembunuhan juga bisa terjadi akibat kesalahpahaman yang terjadi di media sosial.

Kebebasan berpendapat merupakan hak setiap orang, salah satunya pengguna media sosial. Namun, bukankah hak yang kita miliki juga terbatas oleh hak yang dimiliki orang lain?. Maka dari itu, kebebasan berpendapat harus digunakan secara tepat dan smart. Kebebasan berpendapat juga harus didasari dengan ilmu dan fakta yang ada.

Banyak faktor yang harus kita perhatikan dalam beropini di media sosial, apakah bahasa yang saya gunakan sudah pantas? Apakah opini saya mengandung hal yang menyinggung? Atau bersifat menjatuhkan? Hal ini harus diperhatikan secara detail, karena jika kurang tepat dan smart, opini yang harusnya bisa membangun, akan menjadi kritik pedas yang menimbulkan kontra.

BACA  Perayaan Hari Santri yang (Hanya) Seperti Itu?

Pengguna media sosial yang bijak dan benar adalah dengan santun bersosialisasi di media sosial, selalu memberikan tanggapan yang positif dan membangun, menyampaikan kontra atau ketidaksetujuan dengan bahasa yang sopan sehingga tidak mengarah kepada tindakan ujaran kebencian.

Penghasutan dan penghinaan bukan solusi, melainkan akan menjadikan suasana makin memanas dan makin banyaknya kasus maki-memaki yang ditujukan kepada orang lain. Jangan sampai negara kita tercinta ini, tercemar pertengkaran dan ujaran kebencian yang memecah persatuan dan kesatuan masyarakat.

Selalu ciptakan suasana kondusif di media sosial dengan landasan demokrasi. Jika generasi muda selalu berusaha menerapkan nilai-nilai Pancasila, diharapkan akan menjadi generasi yang aktif, produktif dan inovatif serta dapat mengemukakan pendapatnya secara sehat dengan menulis opini yang bersifat luas dan informatif bagi masyarakat.

Tanggapan Anda

Related posts