Menurut Pandangan Islam, Apakah Doa Non Muslim Bisa Diijabah?

  • Whatsapp

Grand Syekh Al Azhar pernah menyerukan doa lintas agama untuk kemanusiaan, atas bencana yang menimpa umat manusia. Pertanyaan besarnya, apakah doa mereka, umat non muslim, bisa diterima oleh Allah SWT menurut pandangan Islam?

Sekilas, berdasarkan seruan yang ada, tentu kita katakan doa non muslim memiliki potensi itu. Seandainya tidak, seorang Grand Syekh tidak akan menyerukan hal demikian. Doa kemanusiaan waktu itu, mengingatkan sebuah permasalahan dalam fikih tentang hukum keluarnya para non muslim ahlu dzimmah untuk istisqa’ (doa minta hujan) ketika kering melanda.

Read More

Dalam kitab Al Majmu’ dikatakan:


قال أصحابنا فإخراج الكفار مع المسلمين للاستسقاء مكروه، كما نص عليه الشافعي في الأم: ” … فإن خرجوا متميزين على حدة لم يمنعهم”.

“Ulama kita syafiiyyah mengatakan bahwa memerintahkan non muslim keluar berbarengan dengan orang muslim untuk istisqa’, hukumnya makruh, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafii dalam kitab Al Umm; tapi jika mereka non muslim keluar tidak berbarengan sehingga bisa dibedakan mana kelompok muslim dan bukan, maka mereka tidak dilarang keluar”.

Adapun imam Ibnu Mundzir secara gamblang menukilkan dari Makhul bahwa mereka non muslim dibolehkan keluar untuk istisqa’, baik berberangan dengan orang-orang muslim atau tidak.

Terlepas dari perbedaan pendapat itu, orang-orang non muslim tetap saja memiliki kesempatan untuk ikut berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan. ‘Ulama mengatakan bahwa fenomena ini menunjukan bisa diterimanya doa mereka non muslim’.

Pendapat tersebut sejalan dengan makna dari sebuah ayat yang artinya ‘Dialah Allah yang maha menerima doa hambanya dalam keadaan sempit:

(أمّن يجيب المضطرّ إذا دعاه (النمل

BACA  Begini Kronologi Pembukuan Alquran

Allah SWT juga tidak menjadikan agama sebagai ukuran untuk diterima atau ditolaknya sebuah doa. Selama dia dalam keadaan sempit, doa siapapun berpotensi untuk Allah kabulkan. Itulah konsekuensi dari sifat RahmanNya, Sang Maha Pengasih kepada hambaNya yang muslim dan non muslim.

Bahkan, potensi diterima doa mereka itu menunjukan kepada kebesaran dan keesanNya, juga menunjukan bahwa fitrah mereka sebagai manusia adalah kembali kepadaNya, terbukti diwaktu sempit, secara alami naluri mereka akan menuntun kepadaNya. Diwaktu sempit, kesyirikan di dalam hati otomatis hilang, sehingga mau tidak mau lidah akan tunduk rendah berdoa kepadaNya.

Imam Qurthubi mengatakan; “Sebab diterimanya doa seorang hamba dalam keadaan sempit (darurat) adalah doa yang dia panjatkan benar-benar ikhlas dan murni dari dalam hati yang sudah memutuskan hatinya dari semua makhluk. Nah, keikhlasan itu bisa saja terpancar dari hati siapa pun, muslim atau non muslim, orang ahli taat ataupun maksiat”.


والسبب في ذالك، أن الضرورة إليه باللجاء ينشأ عن الإخلاص وقطع القلب عما سواه، والإخلاص عنده سبحانه موقع وذمة، وجد من مؤمن أو كافر، طائع أو فاجر

Pun Rasulullah Saw memperkuat makna ayat itu dengan mengatakan: “Hati-hatilah kalian dari doa orang yang terdzalimi, karena antara dia dan Allah tidak ada hijab yang menghalangi”. Dalam hadis ini lafadznya juga umum, mencangkup muslim dan non muslim, barometernya adalah ‘dia terdzalimi’:

اتقوا دعوة المظلوم

Jadi, siapapun dia, beragama apapun dia, selama dia didzalimi oleh orang lain, maka Allah menjamin untuk mengijabah doanya, sebagaimana riwayat Al Ajurri dari sahabat Abi Dzar, “Aku Allah tidak akan menolaknya sekalipun dari orang non muslim:


‎فإني لا أردّها ولو كان من كافر

BACA  Keutamaan Hujan di Bulan April

Allah SWT mengabulkan doa mereka non muslim karena ketulusan hatinya. Sebagaimana Allah juga akan mengijabah doa mereka ahli maksiat, karena justru orang yang bermaksiat itu hatinya lebih tulus ketika berdoa kepadaNya, dan dia akan menyesali apa yang telah diperbuat. Mereka akan bertanggung jawab atas kekufuran dan kemaksiatan mereka di dunia dan akhirat. Dalam satu waktu, mereka juga berhak mendapatkan rahmatNya dengan diterimanya doa mereka.

Tanggapan Anda

Related posts