Pandemi Dan Dekonstruksi Makna Tuhan

  • Whatsapp

Dewasa ini hampir di setiap belahan wilayah dunia sedang menjalani perang besar melawan musuh bersama yakni penyebaran virus Covid-19 yang telah memakan korban dalam jumlah yang banyak. Setiap negara berlomba dalam menaklukan atau menghentikan arus penyebaran virus tersebut.

Virus yang bermula di Wuhan, Tiongkok sekitar bulan Desember tahun lalu tersebut, sampai detik ini telah menjangkiti sekitar 3,7 juta populasi manusia, dan telah menumbangkan atau minimal mengantarkan berbagai lini sektor kehidupan ke titik krisis paling nadir. Seperti ekonomi, politik, sosial-budaya, bahkan sikap keagaam atau ketuhanan dari banyak populasi.

Read More

Wabah sebagai sebuah pandemi tidak terjadi pertama kali ini. Banyak catatan sejarah yang mengatakan bahwa pandemi terjadi di setiap periodesasi zaman dan menelan banyak korban. Peristiwa-peristiwa yang terjadi akibat wabah banyak melahirkan terobosan baru dari segala arus dialektika pemikiran termasuk dalam memaknai Tuhan dan ketuhanannya.

Salah satu contoh paling populer dalam sejarah adalah ketika meletusnya wabah Black Death di Eropa yang menelan hampir dua per tiga populasi Eropa melahirkan era baru yang dikenal dengan sebutan Renaisans atau pencerahan, yang salah satu buah hasil dari zaman tersebut dalam bidang ketuhanan dan keagamaan adalah lahirnya gerakan reformasi gereja yang berbuntut dengan berkembangnya tipologi akidah dalam Kekristenan yang kelak dinamai protestan.

Fenomena semacam itu membuat sebuah pertanyaan besar, apakah pandemi Corona menimbulkan dampak yang sama? Bagaimana dampak Corona dalam sektor agama? Sejauh mana pandemi Corona melahirkan tafsir baru mengenai makna Tuhan dan ketuhanan? Atau setidaknya adakah pergerseran masyarakat dalam memaknai Tuhan dan ketuhanan.

Menalar Tuhan

Barangkali benar, sejarah manusia adalah sejarah pencaraian makna tentang tuhan. Diskursus filsafat dalam sejarahnya tak pernah luput dalam perdebatan menalar atau memaknai makna dan hakikat ketuhanan. Berbagai macam pemikiran berusaha mendekontruksi makna-makna yang variatif dari satu tema pokok yang tak pernah pudar, yakni Tuhan.

BACA  Mengenal 3 Kerajaan yang Berpengaruh Terhadap Penyebaran Islam di Pulau Jawa

Dalam literatur Islam, penalaran makna Tuhan mengurucut pada tiga unsur pokok yang menjadikan Islam sebagai salah satu dari perkembangan agama-agama monoteisme dan agama-agama Abrahamik. Yakni Tuhan sebagai personal, satu-satunya, dan di atas.

Magnis Suseno mengatakan, Tuhan sebagai personal adalah menyakni bahwa Tuhan memanggil seseorang dalam memulai perjanjian keselamatan. Sebagai personal, Tuhan mempunyai kebebasan dalam bertindak dan menentukan kuasa atas segala sesuatu yang terdapat dalam kehidupan semesta. Tuhan diyakini sebagai penguasa dan pemikin tunggal atas segalanya.

Dalam praktiknya, Tuhan bebas menentukan kapan terjadi hujan, bencana, rahmat, dan yang terpenting karena Tuhan bersifat personal, Tuhan mempunyai kebebasan berdialog dengan segala umat manusia dalam lintas ras, suku, dan agama. Pendeknya Tuhan dimaknai sebagai sesuatu Yang Tak Terikat.

Dalam hal ini juga makna Tuhan memanggil seseorang dalam memulai perjanjian keselamatan adalah Tuhan menyiratkan firman berupa tuntunan dan ajarannya lewat seseorang yang dipilihnya berdasarkan kehendaknya berupa nabi atau rasul melalui sebuah penyampaian wahyu. Adanya hubungan hierarki antara Tuhan dan manusia yang pilihnya tersebut melahirkan sebuah simpulan bahwa kehendak rasul adalah kehendak Tuhan. Apa yang disampaikan rasul adalah apa yang dikatakan Tuhan. Maka segala syariat yang disampaikan dan diajarkan rasul adalah sebuah bentuk kemutlakan sebagai syarat keselamatan yang dijanjikan Tuhan.

Kedua, Tuhan adalah sebagai Yang Satu-satunya. Kuasa Tuhan adalah kuasa yang tunggal dan tak tertandingi. Segala sesuatu berdasarkan kehendaknya karena Tuhan adalah Kuasa Yang Esa – tiada yang menandingi. Oleh karena kepercayaan ini, banyak umat manusia meyakini segala sesuatu berasal dari kehendak Tuhan, maka cara menyelesaikan andaikata sesuautu tersebut adalah masalah, maka seyogyanya dikembalikan kepada kuasa Tuhan sebagai penguasa satu-satunya.

BACA  Toleransi Sudah Diajarkan Nabi, Kenapa Kita Tidak Meneladani?

Ketiga, keyakinan bahwa Tuhan berada di atas. Makna di atas mengerucut pada makna posisi yang menunjukkan berada di luar kehidupan semesta. Tuhan dipercaya bertahta di atas kehidupan segalanya – langit dan bumi. Tuhan dimaknai sebagai sesuatu yang transenden sehingga keyakinan yang timbul adalah pemisahan antara dua unsur; Khalik dan makhluk, pencipta dan apa yang dicipta, Ilahiah dan kehidupan alam semesta. Terpisah dan bukan suatu kesatuan yang universal.

Penafsiran-penafsiran mengenai beberapa unsur pokok ketuhanan di atas melahirkan umat beragama yang fundamentalis – fanatik terhadap syariat tanpa kompromi, irrasionalis – menyerahkan segala sesuatu pada kehendak Tuhan, dan transenden – terpisah dengan Tuhan. Gambaran-gambaran mengenai umat dalam bentuk tersebut banyak terlihat di lingkup masyarakat pra-corona.

Post-Corona dan Pencerahan

Corona memberikan dampak yang luar biasa dalam sektor agama. Banyak ritual keagamaan yang seharusnya dilakuan secara berjamaah dan diikuti banyak umat terpaksa dihilangkan. Salah satu contoh paling ketara adalah Tawafnya umat Islam di Masjidil Haram Makkah yang mendadak sepi atau Misanya umat Kristiani yang dilakukan secara tertutup dan hanya dilakukan oleh Kepasturan gereja. Kejadian-kejadian kecil yang biasanya ritual kegaamaaan menjadi semacam ciri khusus cara berinteraksi antara umat dan Tuhan, karena adanya pandemi Corona harus dilakukan dengan cara lain. Masjid, gereja, tembok ratapan, dan banyak situs tempat peribadatan lainnya ditutup sementara.

Pandemi Corona menjadi semacam portal untuk sebagain umat kembali merefleksi tentang filosofi Tuhan dan ketuhanan yang selama ini diyakini. Corona adalah portal baru dalam mendekontruksi kembali tentang diskursus filsafat keilahian.

Corona membuka pencerahan kita mengenai makna Tuhan adalah Yang Satu-satunya bukanlah semata-mata Tuhan bebas berkehendak dan manusia tidak mempunyai kuasa atas kehendak tersebut. Makna mengenai kuasa tak-terbatas Tuhan selama ini menimbulkan pemikiran umat yang fundamentalis dan irasional. Sifat kepasrahan kepada kuasa Tuhan menyelimuti kehidupan umat selama masa ke masa. Manusia dituntut menenggelamkan kuasa rasionalnya dalam bertindak di bawah keyakinan Tuhan sebagai Maha atas Yang Maha. Sehingga dalam banyak lipatan sejarah, pertentangan ini sering terjadi – agama dan pengetahuan.

BACA  Cadar Dilarang, FPI Diizinkan, Menteri Agama Maunya Apa?

Namun di era modern terlebih di era post-coronan nantinya, makna Tuhan dan ketuhanannya harus bergeser ke arah yang lebih rasional. Agama haruslah mampu bersanding dengan ilmu pengetahuan dalam berbagai kesempatan. Dekontruksi semacam ini bukanlah suatu usaha mereduksi makna ketuhanan melainkan cara baru dalam kita menafsirkan kuasa Tuhan. Bahwa Tuhan dan ketuhanan bukanlah sesuatu yang berada dalam luar logika, bukan sesuatu yang tidak bisa dijangkau dengan nalar, melainkan adanya pandemi Corona membuka banyak pemikiran umat bahwa Tuhan menciptakan kuasa pandemi sebagai suatu usaha pencerahan. Dan Tuhan ada di manifestasi makhluk-makhluknya. Manusia dituntut berusaha mencerna dan memecahkan sebagai bentuk ikhtiar seperti yang tercantum dalam firman-Nya.

Hal ini tidak lain berangkat dari pemikiran filosofis bahwa Tuhan bukanlah suatu yang transenden dan terpisah dari kehidupan. Tuhan merupakan suatu kesatuan yang universal dengan kehidupan semesta. Tuhan berada dan memanifestasikan dirinya dalam setiap individu makhluknya.

Keyakinan bahwa Tuhan berada dalam kesatuan kehidupan secara universal melahirkan sebuah pencerahan akan mahluknya untuk bertindak sebaik-baiknya dalam setiap kondisi sebagai wujud manifestasi kuasa Tuhan, serta keyakinan ini tidak menjadikan sebuah permasalahan ketika ritual dan tempat peribadatan sementara dilarang, karena Tuhan ada dalam setiap diri individu oleh karenanya tidak terpaku hanya berada dalam rumah-Nya, Tuhan juga suatu yang personal maka setiap makhluk mempunyai kebebasan berdialog meski tanpa beberapa ritual keagamaan yang dilarang sementara.

Tanggapan Anda

Related posts