Konsep Tawakkal Syekh Zarruq

  • Whatsapp

Penghambaan diri (tasawwuf) kepadaNya harus dengan cara yang Dia ridhai, jika syarat ini tidak terpenuhi maka pastinya penghambaan itu batal. Dia tidak meridhai kekufuran, sehingga, syarat penghambaan diri yang pertama adalah iman (akidah). Dia meridhai hambaNya yang bersyukur, sehingga, syarat kedua adalah Islam (fikih). Tidak ada tasawwuf tanpa fikih (karena bisa jadi zindiq), tidak ada fikih tanpa tasawwuf (karena bisa jadi fasiq), dan tidak ada fikih dan tasawwuf tanpa akidah yang benar (ketiganya harus menyatu agar bisa sampai kepada haqiqat, kebenaran yang sejati)”.

Syekh Zarruq dalam ‘Qawaid Tasawwuf’nya mengaitkan tasawwuf -sebagai bentuk tawakkal tinggi dan penghambaan diri kepadaNya- dengan ilmu fikih dan akidah. keterkaitannya dengan akidah (iman) sampai hari ini tidak menjadi masalah besar, tapi keterkaitannya dengan fikih? ini yang seringkali menjadi masalah, karena tasawwuf adalah hati, dan fikih adalah logika. Allah menghendaki agar fikih menjadi pengendali tasawwuf, logika mengendalikan rasa, sedangkan manusia bergerak 70% menggunakan hati dan sisanya dengan logika.

Read More

Ada sekian banyak contoh tentang bahayanya tasawwuf -tawakkal & penghambaan- tanpa diikat dengan fikih. Si A berjalan dikebun mangga si B, dan tanpa seizin B, si A memetik mangga dan memakannya. Kemudian si B menegur dan menasihatinya, si A menjawab, “Lalu, apa masalahmu, mangga ini milik Allah bukan?!”. Tentu cara berfikir seperti ini akan menghancurkan tatanan fikih sosial dalam kepemilikan dan hak-hak bertetangga.

Dulu juga, banyak kalangan sahabat besar sepuh, baik dari kalangan Anshar dan Muhajirin, yang memprioritaskan sisi ke’tawakkalan’ atas logika fikih. Namun kemudian dibantah oleh sayyidina Umar. Ketika Sayyidan Umar -sebagai khalifah- beserta rombongan dijadwalkan berkunjung ke Syam, di kota perbatasan (saragh), mereka dicegat oleh sahabat Abu Ubaidah gubernur Syam, dan memberi kabar bahwa di sana sedang terjadi wabah tha’un, tepatnya di kota ‘amwas. Kemudian Umar bermusyawarah dengan rombongan, dalam keadaan inilah para sahabat sepuh itu menyarankan agar tetap masuk dan tawakkal kepada Allah, jika Allah berkehendak, maka kita akan baik-baik saja. Namun sayyidina Umar pada akhirnya mengambil saran dari pembesar Quraisy untuk kembali ke Madinah demi menjaga diri dan akhirnya rombongan balik ke Madinah, beginilah cara berfikir fikih, bagaimana fikih -hukum dzahir- bisa mengendalikan hati yang cenderung tawakkal.

BACA  Ilmu yang Telah Menjadi “Laku”

Sebagian orang -termasuk saya-, memiliki perasaan bahwa shalat tarawih di masjid menjadi hal pokok dalam ibadah, tidak boleh ditinggal. Perasaan ini sangat wajar, karena tarawih di masjid terus terulang setiap tahunnya hingga mendarah daging. Akan tetapi fikih kita mengatakan bahwa tarawih hukumnya sunnah, dan boleh dilakukan di rumah, bahkan shalat rawatib isya lebih utama dari pada tarawih, pun witir lebih utama dari tarawih. Jadi, ‘seandainya’ mau dibuat perbandingan, lebih baik shalat tarawih 8 rakaat dan witir 11 rakaat, dari pada tarawih 20 rakaat dan witir 3 rakaat, dalam satu malam ramadhan.

Menurut kaidah syekh Zarruq di atas, jika tasawwuf terus-terusan dominan dan tidak diikat dengan fikih, orangnya bisa terjerumus ke dalam jurang zindiq, yang mana, orang zindiq lebih buruk dari pada orang fasiq.

Tanggapan Anda

Related posts