Catatan Kemanusiaan

  • Whatsapp

Beberapa hari yang lalu, kita melihat dua kejadian yang menghiasi layar media. Selain untuk pertama kalinya di dunia, pihak swasta mengirimkan manusia ke luar angkasa menggunakan Roket Falcon 9 milik SpaceX, kita juga membaca berita tentang terbunuhnya laki-laki kulit hitam bernama George Floyd oleh petugas kepolisian. Praktis, kabar itu seketika menggoncangkan media international dan ramai dibincangkan di mana-mana.

Goerge Floyd mengingatkan kita kepada khutbah terakhir Rasullullah Saw di depan para sahabatnya:

Read More


أيها الناس، إن ربكم واحد، وإن أباكم واحد، كلكم من آدم وآدم من تراب، إن أكرمكم عند الله أتقاكم، وليس لعربي على أعجمي، ولا لأعجمي على عربي، ولا لأحمر على أبيض ولا لأبيض على أحمر، فضل إلا بالتقوى

“Wahai ‘manusia’, sesungguhnya Tuhan kalian satu. Nenek moyang kalian satu, setiap dari kalian berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antra kalian adalah yang paling bertaqwa. Seorang arab tidak melebihi non arab, non arab tidak melebihi arab, kulit merah tidak melebihi kulit putih, dan kulit putih juga tidak melebihi kulit merah, kecuali dengan ketaqwaan. (Karena kita sama-sama manusia)”

Dia mengingatkan kita teguran Nabi Saw kepada para sahabat agar tidak memujinya melebihi batas, sebagaimana pujian kaum Nasrani kepada Isa putra Maryam. Mereka sampai mengatakan bahwa Allah adalah bapaknya Nabi Isa, dan anak Tuhan adalah Tuhan, sehingga Nabi Isa adalah Tuhan. Setelah itu, Rasulullah menjelaskan bahwa dirinya hanyalah hamba Allah dan utusanNya;


((فإنما أنا عبده فقولوا عبد الله ورسوله))

BACA  Tafsir Tematik Al-Quran Tentang Isra' Mi'raj

“Aku adalah hamba Allah Swt, maka katakanlah bahwa aku adalah hambaNya dan utusanNya”. (Karena kita sama-sama manusia).

Dia mengingatkan teguran Allah Swt kepada Rasulullah Saw agar tidak membeda-bedakan para sahabatnya. Rasulullah sangat menginginkan kaum musyrikin masuk Islam. Begitu berharapnya, beliau bahkan siap menuruti permintaan mereka agar tempat duduk kaum rendahan faqir miskin dari kalangan sahabat, dibedakan.

Kaum musyrikin merasa tidak nyaman duduk dalam satu tempat dengan mereka, seperti sahabat Salman, Shuhaib, Bilal, dan sahabat Khabbab. Kemudian beliau memerintahkan sayyidan Ali agar para sahabat faqir untuk duduk di tempat lain, ketika itulah turun ayat yang melarang Nabi untuk melakukan itu. Allah Melarang agar tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain, sekalipun dengan status sosial. (Karena kita sama-sama manusia)


ولا تطرد الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه، ما عليك من حسابهم من شيئ، وما من حسابك عليهم من شيئ فتطردهم فتكون من الظالمين

Dia mengingatkan kepada seruan Rasullah Saw kepada kerabatnya dan orang-orang Quraisy Makkah:


يا معشر قريش لا أغني عنكم من الله شيئا، يا بني عبد مناف لا أغني عنكم من الله شيئا، يا عباس بن عبد المطلب لا أغني عنك من الله شيئا، ويا صفية -عمة رسول الله- لا أغني عنك من الله شيئا

“Wahai orang-orang Quraisy, aku tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan kalian dari mara bahaya, aku juga tidak bisa memberikan segala bentuk kebaikan yang kalian inginkan”. Beliau mengatakan hal yang sama total sebanyak empat kali: kepada Bani Abdi Manaf, kepada pamannya Abbas, dan juga kepada bibinya Shafiyyah”.

Rasulullah takut bahwa cinta kaum Muslimin kepadanya, dari para kerabat dan sahabat, berubah menjadi kebergantungan yang melebihi batas, sehingga beliau mengulang-ngulang empat kali agar mereka tidak lupa bahwa beliau adalah manusia dari hambaNya yang dimuliakan dengan wahyu kenabian. (Karena kita sama-sama manusia).

BACA  Al Habib Abu Bakar Az-Zabidi Jelaskan Kebiasaan Ulama Salaf Perihal Menjama' Shalat

Dia juga mengingatkan kita bahwa Rasulullah Saw seringkali menitipkan urusan di Madinah kepada Bilal ketika hendak pergi keluar Madinah. Beliau mempercayakan kepada seorang budak hitam, budak yang dibeli oleh sayyidina Abu Bakr kemudian dimerdekakan, padahal di Madinah masih banyak sekali para sahabat-sahabat senior, juga ada sahabat muhajirin. (Karena kita sama-sama manusia).

Manusia sebagai manusia, memiliki kehormatannya yang harus dihormati (كرامة الإنسان), tidak boleh dieksploitasi diluar batas kemanusiaan. Sejarah membuktikan bahwa Islam telah menanamkan prinsip-prinsip persamaan manusia (المساواة) sejak 14 abad yang lalu. Penanaman prinsip persamaan itu adalah bentuk realisasi dari perhatian Islam terhadap kehormatan manusia (ولقد كرمنا بني آدم).

Tanggapan Anda

Related posts