Alih Fungsi Hagia Sophia Menjadi Masjid: Ambisi Islamis ataukah Kebijakan Politis?

  • Whatsapp

Dunia mendadak heboh saat mengetahui Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mendeklarasikan bahwa Hagia Sophia kembali dialihfungsikan menjadi masjid. Dilansir dari Hurriyet Daily News, deklarasi tersebut dilakukan menyusul keputusan pengadilan tinggi Turki yang menyatakan bahwa alih fungsi bangunan kuno menjadi museum merupakan sesuatu yang ilegal.

Hagia Sophia, yang berusia kurang lebih 1500 tahun, telah menjadi saksi akan jatuh bangunnya Kota Istanbul yang awalnya bernama Konstantinopel itu. Gedung ini pertama kali dibangun atas perintah Kaisar Romawi, Justianus I pada 532-537 M untuk difungsikan sebagai Katedral kebanggaan Imperium Bizantium. Sebelum menjadi masjid di bawah kekuasaan Mehmet II pada 1453 M, Katedral ini sudah mengalami alih fungsi sebanyak tiga kali: Berubah menjadi Katedral Ortodoks Yunani pada 1054-1204; Dialihfualihfungsikan menjadi Katedral Ortodks Roma hingga 1261; kembali menjadi Katedral Ortodoks Yunani hingga Konstantinopel diduduki tentara Ottoman di bawah pimpinan ‘Sang Penakluk’ Mehmet II. Imperium Ottoman yang menjadi pesakitan dalam Perang Dunia I akhirnya runtuh, wilayahnya yang begitu luas tercerai-berai dan memerdekakan diri. Wilayahnya yang tersisa, yakni Semenanjung Anatolia, menjadi sebuah republik yang sekarang dikenal sebagai Republik Turki. Republik yang baru lahir ini dipimpin Mustafa Kemal Attatruk yang kemudian mengubah Hagia Sophia menjadi sebuah museum.

Read More

Attatruk, yang berpaham sekular, mendorong Turki menjadi negara yang memaksimalkan modernisasi dan westernisasi. Dalam episode ini, Turki bergerak maju menuju pos-islamisme yakni babak di mana pembentukan pengalaman, kekuatan, seruan, simbol, daya tarikm dan sumber-sumber legitimasi islamisme telah habis, bahkan di antara para pendukungnya yang dulunya sangat berambisi.

BACA  UIN Jakarta: ‘Pabrik’ Produksi Intelektual dan Tokoh Besar

Cita-cita pos-islamisme hari ini mendapat tantangan serius sejak Erdogan dan partainya AKP berkuasa di negara yang terlatak di Benua Asia dan Eropa itu. Erdogan dan kroni-kroninya seakan menghembuskan kembali semangat Islamisme yang telah lama terkubur di bawah semangat Kemalisme. Hal ini dibuktikan dengan tindakan Erdogan mengklaim operasi militernya di Suriah sebagai sebuah jihad. Ia juga memperluas kuasa Diyanet (Institusi yang menangani ihwal keagamaan), bahkan pemimpinnya, Ali Erbas diangkat menjadi wakil presiden. Tak sampai di situ, banyak kasus di mana orang-orang ditangkap karena dianggap melecehkan agama.

Kebijakan teranyar Erdogan yang menggambarkan betapa islamisnya rezim yang ia gawangi adalah pengalihfungsian Hagia Sophia menjadi masjid. Terlebih, dengan tindakannya itu, Erdogan memposisikan diri seakan-akan berperan sebagai penerus cita-cita Mehmet II “Sang Penakluk” yang namanya begitu harum di dalam sejarah Umat Islam. Belum lagi janjinya yang termutakhir, yakni janji akan membebaskan Masjid Al Quds di tanah Palestina.

Ahwal perubahan fungsi Hagia Sophia disambut baik oleh kaum muslimin di pelbagai negara. Beberapa kalangan bahkan menghubungkan peristiwa ini dengan kebangkita Islam. Namun jika direnungkan lebih mendalam, apa dampak positif yang diperoleh dengan kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid, selain tentunya riuhnya romantisme sejarah?

Jika ditelisik lebih jauh, bangunan yang berusia hampir satu setengah abad ini lebih dahulu berfungsi sebagai katedral selama lebih dari 900 tahun baru kemudian menjadi masjid selama kurang dari 500 tahun. Alasan yang mencuat adalah fakta sejarah yang lain bahwa ini merupakan kehendak penakluk Konstantinopel, Mehmet II Al Fatih. Namun, jika sejarah penaklukan umat Islam ditarik ke tahun 637 M, kita akan menemukan fakta lain yang berlawanan. Kala itu, ekspansi wilayah Islam sedang gencar-gencarnya. Umat Islam berhasil menaklukkan wilayah Al Quds yang dipercaya sebagai tempat di mana Nabi Muhammad SAW melakukan salat sunnah mengimami seluruh nabi dan rasul untuk kemudian melakukan mikraj menuju langit ke-7 sana. Khalifah ke-2 umat Islam, Umar bin Khattab, datang ke Al Quds dengan penampilan yang bersahaja dengan tujuan untuk melakukan serah terima situs suci agama-agama abrahamik itu. Ketika datang waktu salat, ia dipersilakan untuk menunaikannya di Gereja Makam Kudus. Sahabat Nabi bergelar Al Faruk itu menolak dengan alasan yang sangat bijak bestari. Ia, yang paham bahwa gereja tersebut merupakan tempat yang begitu disucikan umat Kristen, menolak salat di sana karena khawatir gereja tersebut akan dialihfungsikan menjadi masjid karena tindakannya.

BACA  Virus Corona dan Harapan Menyambut Ramadhan

Terlepas dari fakta sejarah yang membuat negeri sekular ini seakan mengkhianati komitmen pendirinya, Kebijakan ini juga terkesan politis. Erdogan yang islamis diduga sedang berusaha untuk menarik dukungan dari warga Turki yang senada dengan haluannya serta dunia Islam dengan menjanjikan kebangkitan Islam yang menjadi misi bersama.

Di sisi lain, kebijakan Erdogan juga menuai kritik dari dunia Barat dan Kristen. Hagia Sophia yang dipandang sebagai monumen perdamaian Kristen-Islam serta terletak di perbatasan Eropa-Asia ini seakan tercemari dengan adanya pengalihfungsian ini. Alasan sejarah serta perdamaian menjadi faktor utama keberatan Barat mengenai kebijakan Erdogan.

Pada sebuah siaran langsung yang ditayangkan oleh Kanal Al Jazeera, Erdogan menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan masalah rumah tangga Turki yang tak bisa diintervensi siapapun. Dalam hal ini penulis setuju dan bahkan ingin sekali mengajukan pertanyaan ke pihak yang menantang kebijakan ini: “Apakah UNESCO dan Barat berani menggugat pengalihfungsian masjid-masjid di Spanyol menjadi gereja pascapengusiran Muslim dari semenanjung Iberia?”

Tanggapan Anda

Related posts