Kontroversi Muallaf Berdakwah

  • Whatsapp

Baru baru ini dunia jagat maya kembali dihebohkan dengan salah satu tweet yang meyebutkan terkait serangan buzzer kepada para muallaf yang berdakwah dengan istilah ustadz hijrah, dan dalam tweet tersebut juga menyinggung para sahabat Rasulullah SAW pada zaman awal kemunculan islam mereka baru masuk islam toh langsung ikut menyebarkan ajaran Islam. Tweet ini merupakan balasan dari kritikan netizen terhadap salah satu ceramah ustadz muallaf yang menuai kontroversi karena dianggap salah dan sembarang dalam menafsirkan ayat suci Al- Qur’an.

Dalam QS: An-Nahl ayat 125 Allah SWT berfirman:

Read More


ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ

Yang Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Dalam ayat ini kita sebagai orang mukmin dianjurkan untuk berdakwah dengan hikmah dan nasihat dan berdebat dengan cara yang baik, ayat ini juga dikuatkan dengan penggalan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori:


بلغوا عني ولو اية

Yang artinya:”Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhori)

Jika kita melihat dari sudut pandang masyarakat awam dengan merujuk kepada dua dalil tersebut maka tidaklah salah jika seorang muallaf berdakwah dan menjadi pendakwah karena Allah SWT pun dalam firmannya di QS: An- Nahl ayat 125 menganjurkan kita sebagai mukmin untuk berdakwah. Namun apabila kita teliti lebih dalam dari sudut pandang para ulama mengajarkan sesuatu yang kita tidak benar benar ahli dalam bidangnya adalah merupakan sebuah kesalahan besar. Mengapa demikian? Berikut ini penjelasannya:

BACA  Kenapa Harus Memprovokasi Banser?

Dalam penggalan hadis Nabi Muhammad SAW kita memang dianjurkan untuk menyampaikan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW meskipun hanya satu ayat, namun hadis ini bukanlah legitimasi untuk berdakwah atau menyampaikan dengan semau kita sendiri tapi tegasnya adalah meski yang disampaikan hanya satu ayat tapi itulah yang benar benar kita pahami.

Lalu bagaimana dengan tweet diatas yang menyinggung para sahabat Rasulullah SAW yang baru masuk islam juga langsung ikut menyerukan ajaran agama Islam dan mengaitkannya dengan para muallaf yang menjadi pendakwah saat ini? Jika kita mengkaji sejarah para sahabat tentu kita sama sama mengetahui bahwa yang mengajarkan dan menjadi rujukan sumber ilmu para sahabat itu sendiri adalah Rasulullah SAW, dan pada zaman itu ilmu ilmu keislaman pun blum dikodifikasi seperti sekarang ini, dan para sahabat pun menyampaikan apa yang mereka benar benar ahli dalam bidang kelimuan tersebut.

Dalam kitab نفحات من السنة النبوية karya Dr. Abdul Mujid Muhammad seorang pimpinan di Fakultas Dirosat Islamiyah Universitas Al Azhar Cairo, dalam kitabnya tersebut beliau mengutip sebuah riwayat dari Abu Na’im dari Hamzah bin Abi Muhammad dari Abdullah bin Dinar bahwa pada suatu hari datang seorang lelaki kepada Ibnu Umar menanyakan tafsir dari ayat (كنتا رتقا فتفقناهما) lalu ia menyuruh lelaki tersebut untuk pergi keseorang syaikh dan menanyakan tafsir ayat tersebut dan datang kembali kepadanya apabila telah mengetahui tafsirannya. Lalu lelaki tersebut mendatangi Ibnu Abbas yang memang dikenal sebagai ahli tafsir dan fiqh dan kembali kepada Ibnu Umar setelah mengetahui tafsiran ayat tersebut. Dari Riwayat ini menegaskan kepada kita bahwa sekelas Ibnu Umar yang merupakan seorang anak dari Khulafaur Rasyidin Umar bin Khottob pun menolak untuk menjawab tafsir tersebut karena ia sadar bahwa ia bukanlah ahli dalam bidang tersebut.

BACA  Cantolkan Islam pada Kejernihan Hatimu, Bukan pada Kekuasaan

Larangan mengajarkan sesuatu yang bukan ahlinya dan belajar kepada bukan ahlinya juga dikuatkan dengan pendapat para ulama diantaranya adalah Imam An-Nawawi, Imam Malik dan Imam ‘Ali Al-Maliki. Dalam pendapatnya Imam An-Nawawi menyebutkan:


لايجوز إستفتاء غير العالم الثقة

Yang artinya: “Tidak boleh meminta fatwa (dan belajar agama) kepada selain orang berilmu yang terpercaya.”

Dalam pendapatnya Imam Malik pun menyebutkan


سلو عن كل علم أهله

Yang artinya: “Jika ingin mengetahui tentang suatu ilmu maka bertanyalah kepada ahlinya”.

Pendapat Imam An-Nawawi dan Imam Malik juga dikuatkan dengan pendapat dari Imam ‘Ali Al-Maliki yang menyebutkan:


من آفة العلم أخذ العلم عن غير أهله خطأ يقع فيه الكثير ممن ينتسبون إلى طلب العلم

Yang artinya: “Salah satu tanda bahaya ilmu adalah mengambilnya (belajar) kepada yang bukan ahlinya. (Ini) kesalahan yang banyak dilakukan orang-orang yang menyebut dirinya sedang belajar.”

Substansi dari pemaparan dalam tulisan ini adalah bukan terkait pelarangan berdakwah, namun apabila diibaratkan dokter spesialis kandungan tentu tidak akan menangani pasien yang mengidap penyakit jantung melainkan menangani urusan kehamilan dan persalinan. Begitupun dengan para pendakwah tentu sepatutnya tidak mengajarkan hal hal yang tidak dipahami dan tidak ahli dalam bidang tersebut, apalagi ini menyangkut dengan ajaran agama Islam. Tentu berdakwah adalah anjuran bagi setiap mukmin akan tetapi setiap mukmin tidak dianjurkan untuk mengajarkan sesuatu yang ia bukan ahli dalam hal tersebut.

Tanggapan Anda

Related posts