UIN Jakarta Sunyi Soal UKT

  • Whatsapp

Banyak Kampus Ramai-ramai Bersuara, Kita Tenggelam dan Seolah-olah Tanpa Masalah

Agustus telah lalu – salah satu bulan paling penting dalam perjalanan mahasiswa termasuk UIN Jakarta. Agustus menjadi suatu momen yang terbilang berkesan bagi setiap manusia di UIN Jakarta setidaknya perihal dua hal penting yang pernah dan sedang dilaluinya.

Read More

Pertama, Agustus menjadi bulan-bulan yang penuh keluh kesah – sambat – karena di bulan ini biasanya kampus memberikan kesempatan mahasiswanya untuk membayar biaya kuliah atau yang kita kenal dengan UKT bagi siapa saja yang berkeinginan melanjutkan pendidikannya di semester selanjutnya. Kedua, di bulan Agustus pula biasanya PBAK dilaksanakan dengan meriah penuh tensi luar biasa sampai-sampai tidak mau ketinggalan melestarikan amalan kericuhan.

Kembali ke Agustus. Fokus tulisan singkat ini hanya akan menyoroti di poin pertama mengenahi hubungan abadi antara Agustus dengan UKT. Bukan tanpa alasan, Agustus menjadi momen oleh sebagian besar mahasiswa untuk ramai-ramai sambat soal besarnya biaya yang tak sebanding dengan kondisi ekonomi keluarga. Adalagi yang karena Agustus, minimal menjadi kesempatan bagi setiap insan mahasiswa merefleksi kembali UKT dan ramai-ramai mengkritiknya di dunia maya lewat berbagai postingan dan hastag-hastagan.

Terlebih di era pandemi ini, kalian tak lagi asing dengan online protest mengenai UKT yang disuarakan oleh teman-teman kita di kampus yang berbeda. Hampir setiap hari teman-teman di kampus lain secara ramai, bergerilya gantian menaikkan suara tuntutan di sosial media.

Hari ini kampus A menggugat, besok kampus B melawan, lusa kampus C menolak, dan seterusnya. Meski secara fakta tidak semua mahasiswa terlibat, minimal sebagian besar bersuara tentang kepedulian dan solidaritas antar sesama serta secara kolektif menunaikan sumpah mahasiswa yang setiap tahun ajaran baru dilantangkan dengan gelora.

BACA  Memahami Makna Takdir di Tengah Pandemi Corona

Namun ada yang aneh dari penampakan hastag-hastag yang membanjiri kanal media sosial kita, tidak lain karena absennya UIN Jakarta atau Ciputat sampai hari ini. Suara-suara lirih sebagian mahasiswa UIN Jakarta masih terkesan sepi dan sunyi tanpa ada dayung solidaritas seperti halnya kampus-kampus lain. Hal ini sejenak menimbulkan pertanyaan, Ciputat Sibuk Apa Ya?

Absennya gerakan Ciputat menyoroti isu UKT di tengah pandemi sejauh ini memang tidak menyalahi tugas sebagai mahasiswa, karena tidak ada kewajiban bagi mahasiswa untuk ikut trending mengkritik kampus seperti yang lainnya. Namun Ciputat ini kan dikenal dengan porosnya gerakan keaktivisan mahasiswa. Absennya kita adalah masalah.

Tentu kalian masih ingat bukan ketika kita sama-sama menjadi mahasiswa baru, apa yang pertama kali diceritakan oleh kakak-kakak tingkat kita. Bukan UIN Jakarta sebagai kampus Islam nomer wahid di Indonesia, bukan peradaban intelektual Ciputat yang dikenal di seantero dunia akademik Indonesia, tapi Ciputat sepanjang sejarahnya menjadi altar miniatur perpolitikan nasional, bukan?

Maka tak heran segala aktivitas mahasiswa di UIN Jakarta tidak bisa lepas dari budaya politik yang disemat Ciputat. Mulai dari PBAK yang kerap kali tegang hanya karena kepentingan perbedaan afiliasi organisasi ektra, Pemira raya yang berjalan dengan dinamika yang tinggi, besarnya kuantitas mahasiswa yang menyemat identitas kader, sampai pemilihan rektor kalau kalian mau membaca lebih ada pola-pola yang serupa.

Ringkasnya, kehidupan ekosistem Ciputat dan UIN Jakarta mempunyai modal penting yang harusnya menempatkan mahasiswa sebagai pelopor kebijakan yang seharusnya juga pro-mahasiswa – mempunyai kebiasaan yang tak asing dengan lingkungan politik, demokrasi, dan gerakan, serta menyematkan diri sebagai poros gerakan. Menjadi aneh ketika semua kampus dan mahasiswa berada di titik masalah yang sama, justru kita absen dalam dinamika tersebut.

BACA  Islam dan Spirit Menjaga Lingkungan

Modal penting tersebut seharusnnya selain mempunyai kewajiban menunaikan apa yang selama ini disematkan sebagai poros aktivis, juga mempunyai beban yang besar kalau sampai detik terakhir penutupan pembayaran UKT kita absen menyuarakan.

Bukan tidak mungkin, keraguan mengenai gaung cerita yang diwariskan bahwa ‘Ciputat adalah poros’ merupakan kebohongan semata terbilang keniscayaan.

Jika di pusaran September kemarin DEMA-U dibawah komando Sultan Rivandi serta barisan Aliansi Ciputat Menggugat berhasil mengajak hampir seluruh mahasiswa bersolidaritas memperjuangkan reformasi yang dikorupsi untuk ikut andil dan turun ke Senayan, kenapa soal UKT hanya menjadi isu minor yang sunyi diperbincangkan.

Diagnosa liar saya mengerucut pada dua kemungkinan. Pertama memang kebanyakan mahasiswa terbiasa dengan gaya hidup urban terlebih Ibu kota sehingga menganggap nominal UKT di kampus adalah nominal yang receh. Kedua karena memang kita terbiasa hidup di tensi rivalitas kepentingan yang tinggi sehingga membunuh solidaritas antar mahasiswa. Semoga dua-duanya salah.

Ketika kampus lain ramai-ramai bersuara soal kepedulian sesama, kita tenggelam dengan kenyamanan yang membuat seolah-olah di sekitar kita tidak ada masalah. Akhirul kalam, memang kita lebih kaya, jauh, jauh, jauh lebih kaya dengan teman-teman di kampus-kampus lainnya dan buat apa kita capek-capek protes-protes segala, tanpa peduli isu UKT di tengah pandemi juga marwah gerakan UIN Jakarta dan Ciputat yang agung dan dipuja.

Tanggapan Anda

Related posts